Showing posts with label Aceh. Show all posts
Showing posts with label Aceh. Show all posts

Saturday, December 2, 2017

Upacara Adat Aceh Lengkap Penjelasannya

Upacara Adat Aceh Lengkap Penjelasannya - Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Provinsi NAD juga masih terikat oleh berbagai upacara adat/tradisional. Upacara adat ini terdiri atas upacara adat yang berhubungan dengan daur hidup dan upacara adat yang berhubungan dengan aktivitas manusia dan lingkungan. Upacara yang berhubungan dengan daur hidup sebagai berikut. 


Masa kehamilan 

Pada waktu seorang istri hamil untuk pertama kali (Meutijeuem atau Keumaweueh) dan usia kandungannya telah lima bulan, pihak orang tua istri mengadakan kenduri. Kenduri ini disertai dengan nasi ketan dan dipanggilkan keluarga dari pihak istri. Kemudian, diadakan upacara basuh kepala (Rhah Ulee). Pada upacara ini, suami istri tersebut melakukan upacara sedingin setawarkan (Peusijeuk) dengan beras padi. Upacara tersebut dilakukan oleh ibu dan keluarga dari pihak istri. 

Selanjutnya, pihak ibu dari istri mengantarkan nasi ketan tadi kepada pihak orang tua suami. Hal ini sebagai pertanda atau sebagai ganti kabar bahwa anak perempuannya telah hamil lima bulan. Oleh pihak ibu suami nasi ketan tersebut dibagi-bagikan kepada keluarga dari pihaknya. Hal ini dimaksudkan supaya keluarga mengetahui bahwa menantunya sedang hamil 5 bulan. Setelah itu, pihak orang tua suami beserta keluarga mengantarkan makanan dan buah-buahan ke rumah menantunya yang disebut meunieum. Upacara ini ada pula yang dilakukan sewaktu seorang istri hamil tujuh bulan. 

Makanan yang dibawa oleh pihak orang tua suami tersebut adalah bu kulah (nasi putih yang dibungkus dengan daun pisang) berbentuk piramid di dalam hidang, bu leukat (nasi ketan) untuk peusunting meunantu yang sedang hamil, disertai ayam panggang dan tumpou. Lauk pauknya meliputi, ikan, daging yang dimasak berbagai macam, telur ayam, dan telur itik rebus, jreuk, dan lain-lain. Semua lauk pauk itu disusun dalam hidang berlapis-lapis (hiding meulampoh). Adapun buah-buahan yang dibawa ialah segala buah yang ada, termasuk buah untuk rujak (seunicah) sebanyak satu keranjang besar. Selain itu, juga dibawa kue-kue (peunajoh) basah dan kering. Upacara ini dimaksudkan untuk menguatkan rasa persaudaraan antara kedua belah pihak (suami-istri) dan untuk lebih menguatkan silaturahmi antara sesama keluarga. Makanan yang dibawa ini juga dibagi-bagikan kepada keluarga pihak istri. 

Masa Kelahiran 

Setelah bayi lahir dan dibersihkan, sang ayah atau kerabat tertua yang terpandang ahli agama dalam keluarga segera menyerukan azan atau iqamat. Kalau bayi yang lahir laki laki, diserukan azan di telinga sebelah kanan. Kalau bayi yang lahir perempuan, diserukan iqamat di telinga sebelah kiri. 

Pada hari ke-7 diadakan Upacara Adat Peucicap. Bayi tersebut dicicipi madu lebah, kuning telur, dan air zam-zam. Orang tua suami membawakan seperangkat keperluan bayi, yaitu ija (kain), ayunan, ija geudong (kain pembalut bayi), ija tumpe (popok), tilam, bantal, dan tali ayun (tali ayunan). Selain itu, juga dibawakan seperangkat pakaian untuk si istri yang baru melahirkan. Pada hari itu juga diadakan akikah, cukur rambut bayi, dan pemberian nama kepada bayi, dengan upacara peusijeuk dan sebaran beras-padi serta doa selamat. 

Pada hari ke-44 diselenggarakan Upacara Peusijuek Dapu. Upacara ini dilakukan oleh orang tua dan keluarga dari pihak orang tua suami. Pada saat itu orang tua suami menyunting ketan kepada menantunya dengan uang teumeutuek dan disertai dengan seperangkat pakaian. Kalau di kalangan bangsawan, juga turut diberi seperangkat pakaian untuk para dayang-dayang yang turut serta mengasuh perempuan yang medeueng setelah melahirkan. Pada hari itu juga diadakan upacara turun anak ke halaman (Upacara Peutron Aneuk). 

Anak yang telah berumur 44 hari diturunkan ke halaman. Anak tersebut dipayungi dan kakinya diinjakkan ke tanah (peugiho tanoh). Pada upacara ini dibelah buah kelapa di atas kelapa si anak dengan alas kain putih. Kain putih tersebut dipegang oleh empat orang. Kemudian, kelapa yang telah dibelah diberikan kepada pihak orang tua suami dan pihak orang tua istri. Hal ini bertujuan agar kedua belah pihak tetap kekal dalam persatuan, rukun damai, kompak, dan teguh dalam persaudaraan. 

Selanjutnya, diadakan pembakaran petasan. Orang-orang yang tangkas dan ahli bermain pedang diminta mempertunjukkan ketangkasannya dengan mencincang batang pisang. Hal ini dimaksudkan agar kelak si anak menjadi berani dalam menghadapi peperangan membela negara. Si anak juga diharapkan dapat menjadi orang terkemuka dalam masyarakat. Setelah upacara selesai, si anak dibawa masuk ke rumah oleh orang tuanya. Terlebih dahulu orang tua mengucapkan salam dan disambut pula dengan salam serta doa restu untuk kebahagian si anak. 


Masa Remaja 

Pada usia tujuh tahun si anak diantar oleh orang tuanya ke tempat pengajian (Guru Mengaji). Anak laki-laki diantarkan ke tempat pengajian laki-laki sementara anak perempuan diantarkan ke tempat pengajian perempuan. Pada waktu mengantar anak, orang tua membawa ketan kuning dengan tumpo dan ayam panggang, pisang abin beberapa sisir, kain putih enam hasta, sehelai kain sarung, sedekah sekadarnya dan beureuteh (beras digongseng) dicampur kembang. 

Kemudian guru mengaji membagi-bagikan makanan itu kepada anak-anak mengaji yang lain. Hal ini dimaksudkan agar terdapat kekompakan dan persatuan yang baik antara anak baru dengan murid-murid lama. 

Setelah berumur 10 sampai 13 tahun, diadakan Upacara Sunat Rasul (Khitan). Si anak berpakaian adat dan didudukkan di pelaminan di maba. Kemudian, diadakan acara Peusijeuk dengan setawar dingin beras padi, dan dipeusunting dengan ketan oleh kaum kerabat pihak ayah dan ibu serta teumeuntuk (pemberian) uang oleh kaum kerabat. Selain itu, juga ada teumeuntuk uang dari pihak tamu yang diundang kepada orang tua si anak ataupun hantaran berupa benda. Di kalangan bangsawan biasanya diadakan arakan, yaitu anak didudukkan dalam usungan dengan iringan gendang dan serunai. Pada Upacara Sunat Rasul ini diadakan juga jamuan kenduri. Bagi rakyat menurut kemampuan dan bagi bangsawan diadakan secara mewah, hampir menyerupai kenduri perkawinan. Upacara ini dilakukan oleh mudim dan anak disuruh mengucapkan Dua Kalimah Syahadah. 

Dalam pergaulan sehari-hari seringkali terjadi persengketaan atau perkelahian antar anak laki-laki. Jika terjadi pertumpahan darah (rho darah), tetua kampung segera mengadakan perdamaian di antara kedua belah pihak orang tua anak yang berkelahi. Orang tua si anak yang memukul hingga keluar darah wajib membawa ketan kuning, tumpou, kain putih enam hasta, seperangkat pakaian, dan uang. Selama si anak belum sembuh, segala urusan pengobatan menjadi tanggungan orang tua tersebut. Selain itu, di hadapan tetua kampung, kedua orang tua anak yang berkelahi mengadakan upacara bermaaf-maafan. 


Masa Perkawinan 

Kalau seorang pria dewasa hendak dijodohkan dengan seorang wanita, terlebih dahulu diutus seorang yang bijak dalam berbicara untuk mengadakan urusan perjodohan (meuselungoue) kepada orang tua wanita tersebut. Dalam pertemuan itu dibicarakan persetujuan perjodohan dan penetapan maskawin (mahar) serta penentuan hari membawa tanda (ikatan). 

Pada hari yang telah ditentukan diadakanlah Upacara Ba Ranub Kong Haba oleh kedua belah pihak. Pada saat itu, datanglah serombongan orangtua dari pihak calon pengantin pria kepada pihak orang tua calon pengantin wanita. Pada hari itu dilaksanakan acara pertunangan. Pihak pengantin pria membawa sirih penguat ikatan (ranub kong haba), yaitu sirih lengkap dengan alat-alatnya dalam cerana, pisang talon (pisang raja dan wajib satu talam). Ada juga yang menyertakan kain baju. Selain itu, juga dibawa benda mas satu atau dua mayam dengan ketentuan menurut adat. Kalau ikatan ini putus disebabkan oleh pihak pria, tanda mas tersebut harus dikembalikan dua kali lipat. Pada upacara ini juga ditentukan hari dan bulan diadakannya pernikahan dan pulang pengantin (Woe Linto).

Tiga hari sebelum menjadi pengantin, pihak pengantin pria (Linto) mengirimkan sirih inai (ranub gaca), ranub lipat atau ranub gapu satu hidang, satu hidang alat-alat pakaian mempelai perempuan, satu hidang breueh pade, satu hidang telur rebus yang diberi warna, setawar sedingin, dan daun inai (gaca) kepada mempelai wanita. Sementara itu, di rumah mempelai wanita diadakan acara Koh Adam.

Kemudian, pada Upacara Mampleue Woe Linto mempelai pria berpakaian adat dan diantar ke rumah mempelai wanita beramai-ramai, yang didahului oleh orang tua yang bijak. Sementara itu, mempelai wanita diapit oleh anak-anak muda yang sebaya. Pihak pria dalam upacara itu membawa jeunamee (mahar atau mas kawin), misalnya satu bongkol mas yang diletakkan dalam cerana beserta jinong kunyet dan beras padi. Cerana itu dibungkus dengan kain sutra kuning. Sementara itu, bagian ujung kain diletakkan bohru dari emas, ranub rajeu’ atau ranub peurakan, peunajoh wajeb, meuseukat, dhoi-dhoi, bhoi, penajoh tho keukarah, bungong kayee, dan lain.lain.

Di halaman rumah mempelai wanita, rombongan mempelai pria disambut dengan kata-kata halus bersanjak oleh pihak mempelai wanita. Setelah itu, mempelai pria dibawa naik ke rumah. Sewaktu tiba di tangga mempelai pria setawar sedingin dengan siraman air mawar dan beras padi. Setibanya di dalam rumah, mempelai pria didudukkan di pelaminan kecil sementara rombongan ditempatkan di serambi. Di tempat itu diadakan jamuan makan dan pernikahan ijab Kabul. Ada juga pernikahan Ijab Kabul ini didahulukan harinya sebelum upacara mempelai. Selain itu, barulah mempelai pria dibawa ke pelaminan besar untuk disandingkan dengan mempelai wanita. Biasanya setelah bersanding, mempelai pria bersama rombongan pulang kembali ke rumah orang tuanya.

Selanjutnya, diadakan Upacara Petujuh yaitu mempelai pria pulang ke rumah mempelai wanita dengan rombongan kira-kira 25 orang. Di halaman rumah mempelai wanita diadakan upacara penanaman kelapa yang dilakukan oleh mempelai pria dan wanita. Pada upacara itu, ibu mempelai wanita mengadakan teumeutuek (pemberian) uang kepada Linto disertai seperangkat pakaian. Pemberian tersebut dibawa pulang oleh mempelai pria untuk diperlihatkan kepada ibu mempelai pria. Selanjutnya, ibu mempelai pria memberi nget tujoh dan peukayan tujoh kepada mempelai wanita.

Kira-kira pada hari kesepuluh sampai satu bulan, mempelai wanita dijemput oleh ibu mempelai pria dengan Rabub Batee dan Gateng. Sesampainya di rumah mempelai pria diadakan Upacara Peusijeuk Dara Baro dan Teumeutuek kepada mempelai wanita yang dilakukan oleh ibu dan kerabat mempelai pria. Tangan mempelai pria dan wanita dimasukkan ke dalam empang beras dan empang garam untuk melakukan perjanjian di masa-masa mendatang. Bawaan mempelai wanita adalah wajeb, dodoi, meusekat, dan kue-kue kering lainnya serta ranub bate. Kue-kue bawaan tersebut oleh ibu mempelai pria dibagi-bagikan kepada kerabat dan tetangga. Dari pihak mempelai pria juga menghadiahi mempelai wanita, sesuai dengan kemampuannya dan lazim yaitu hewan betina.

Adapun upacara adat yang berhubungan dengan aktivitas manusia dan lingkungan sebagai berikut


Upacara Maulid Nabi Muhammad saw.

Maulid Nabi Muhammad saw. adalah acara yang selalu diperingati oleh umat muslim di seluruh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Acara ini biasanya berlangsung di masjid dan meunasah. Acara diisi dengan kegiatan seperti pembacaan Alquran, salawat, zikir, dan dakwah agama.


Upacara Peusijuk atau Tepung Tawar

Peusijuk merupakan salah satu tradisi leluhur masyarakat Aceh yang tetap dipelihara dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah Allah swt. Peusijuk ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Kota Banda Aceh pada saat acara pernikahan, kelahiran, naik haji, menempati rumah baru, dan lain-lain.


Upacara Kenduri Blang

Kenduri Blang merupakan upacara tradisional yang berhubungan dengan musim turun ke sawah. Kegiatan ini biasanya dilakukan dua kali dalam setahun, pada saat musim tanam dan panen padi. Upacara ini dipimpin oleh Keujreun Blang (seorang pemimpin informal para petani) yang membacakan doa agar diberikan hasil panen yang baik. Kegiatan ini merupakan rutinitas para petani di Kabupaten Aceh Besar.

gambar upacara adat kenduri laot di aceh

Upacara Kenduri Laot

Di Provinsi NAD dikenal pula Upacara Kenduri Laot. Kenduri Laot merupakan upacara tradisional yang berhubungan dengan laut. Kenduri Laot dimaksudkan untuk memohon kepada Allah swt. agar diberikan kemudahan dalam menangkap ikan dan dijauhkan dari segala marabahaya. Acara diisi dengan pembacaan ayat-ayat Alquran dan doa bersama. Kenduri laot ini biasanya dilakukan sekali dalam setahun.

Demikian pembahasan tentang "Upacara Adat Aceh Lengkap Penjelasannya" yang dapat kami sampaikan. Baca juga artikel kebudayaan Nanggroe Aceh Darussalam menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.




Sumber : Selayang Pandang Nanggroe Aceh Darussalam : Nunung Yuli Eti

Monday, November 27, 2017

Bahasa Daerah Aceh Lengkap Penjelasannya

Bahasa Daerah Aceh Lengkap Penjelasannya

Bahasa Daerah Aceh Lengkap Penjelasannya - Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam memiliki banyak suku bangsa. Setiap suku bangsa itu memiliki bahasa yang berbeda-beda. 

Suku bangsa yang dominan di Provinsi NAD adalah suku bangsa Aceh. Dalam pergaulan sehari-hari, bahasa Aceh pun lebih banyak digunakan. Namun, tidak berarti bahwa corak dan ragam bahasa Aceh yang digunakan sama. Hal ini mungkin saja terjadi karena banyaknya percampuran bahasa, terutama di daerah pesisir. Selain itu, bisa juga karena kelestarian bahasa aslinya. 

Bahasa Aceh termasuk rumpun bahasa Austronesia. Bahasa Aceh terdiri atas beberapa dialek. Dialek itu, antara lain dialek Peusangan, Banda, Bueng, Daya, Pase, Pidie, Tunong, Seunagan, Matang, dan Meulaboh. Di antara dialek-dialek tersebut yang paling penting adalah dialek Banda. Dialek ini dipakai di Banda Aceh. Dalam tata bahasanya, bahasa Aceh tidak mengenal akhiran untuk membentuk kata yang baru. Sementara itu, dalam sistem fonetik tanda ”eu” kebanyakan dipakai tanda pepet (bunyi e). 

Dalam bahasa Aceh banyak kata yang bersuku satu. Hal ini terjadi karena hilangnya satu vokal pada kata-kata yang bersuku dua, misalnya kata ”turun” menjadi ”tron". Selain itu, juga karena hilangnya suku pertama, misalnya kata ”daun" menjadi ”beuec”. Di samping itu, banyak pula kata-kata yang sama dengan bahasa-bahasa Indonesia bagian Timur. 

Suku bangsa Aceh yang tinggal di kota umumnya menggunakan bahasa Indonesia baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan sosialnya. Meskipun demikian, mereka mengerti dengan pengucapan bahasa Aceh. Selain itu, ada pula masyarakat yang memadukan antara bahasa Indonesia dan bahasa Aceh dalam berkomunikasi. Bahasa Aceh lebih dominan digunakan dalam kehidupan sosial suku bangsa Aceh yang tinggal di pedesaan. Dalam sistem bahasa tulis tidak ditemui sistem huruf khas bahasa Aceh asli. 

Tradisi bahasa tulis ditulis dalam huruf Arab-Melayu yang disebut bahasa Jawi atau Jawoe. Bahasa Jawi ini ditulis dengan huruf Arab ejaan Melayu. Pada masa kerajaan Aceh banyak kitab pengetahuan agama, pendidikan, dan kesastraan yang ditulis dalam bahasa Jawi. 

Bahasa lain yang digunakan di provinsi ini adalah bahasa Gayo, bahasa Simeulue, dan beberapa bahasa lainnya. Bahasa Gayo dituturkan di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Serbajadi, Aceh Timur. Bahasa Simeulue dan beberapa bahasa lainnya digunakan di Kabupaten Simeulue. Melayu Tamiang, Alas, dan Aneuk Jamee. Di Kabupaten Aneuk Jamee bahasa tersebut dipengaruhi oleh dialek bahasa Minangkabau dan bahasa Kluet. 

Demikian pembahasan tentang "Bahasa Daerah Aceh Lengkap Penjelasannya" yang dapat kami sampaikan. Baca juga artikel kebudayaan daerah Nanggroe Aceh Darussalam menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.



Sumber : Selayang Pandang Nanggroe Aceh Darussalam : Nunung Yuli Eti

Wednesday, October 18, 2017

Pakaian Adat Naggroe Aceh Darussalam Lengkap, Gambar dan Penjelasannya

Pakaian Adat  Naggroe Aceh Darussalam Lengkap, Gambar dan Penjelasannya - Berkaitan dengan masalah pakaian adat, sejak duhulu masyarakat Provinsi NAD memiliki kemampuan menghasilkan kerajinan tenun sutra. Selain itu, masyarakat Aceh juga mahir menciptakan barang-barang sulaman berbagai bentuk yang melekat pada pakaian maupun perangkat barang kebutuhan rumah tangga lainnya. Kemahiran membuat kerajinan sulam tersebut banyak dimiliki oleh masyarakat yang tinggal di Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Aceh Barat yang sampai sekarang masih mampu menghasilkan berbagai motif yang beragam.

Pakaian Adat Perkawinan Aceh Barat

Linto Baro
Pada Upacara adat perkawinan, mempelai pria (linto baro) memakai penutup kepala (meukutop). Penutup kepala tersebut dililiti tengkulok dan tampok dari emas. Tengkulok terbuat dari kain tenunan , sedangkan tampok terbuat dari logam mulia atau sepuhannya. Tampok merupakan hiasan berbentuk bintang persegi delapan dan bertingkat.

Baju atau baje mempelai pria Aceh berupa jas terbuka berkancing dua yang disebut baje kot. Baje kot tersebut dilengkapi dengan hiasan dengan warna keemasan pada krah yaitu sulu bayung. Pada saku bajunya disematkan rantai emas berujung arloji. Di bagian dalam baju mempelai pria mengenakan kemeja tangan panjang berwarna putih. Gaya baju lainnya adalah berbentuk jas tutup berkancing lima. Hiasan sulu bayungnya disematkan di dada membentuk huruf v, dilengkapi dengan arloji. Gaya baju ini tidak mengenakan baju dalaman sepertihalnya pada baju jas terbuka.

Celana (siluweue) yang dikenakan mempelai pria berbentuk runcing ke bawah. Celana tersebut terbuat dari kain wol seperti baju (jas). Mempelai pria juga memakai sarung atau ija krong, sepatu, aksesoris dan senjata. Sarung yang digunakan terbuat dari sutera dengan teknik songket. Pada Umumnya berwarna dasar gelap. Sepatu yang digunakan juga berwarna hitam, sedangkan aksesoris yang dipakai terbuat dari emas. Aneka aksesories tersebut, antara lain talo takue (sejenis kalung leher). Senjata yang dikenakan berupa rencong atau siwah. Rencong tersebut berkepala emas atau perak dan berukir dan bertahtakan permata.

pakaian adat aceh
Sumber : Flickr

Daro Baro
Mempelai perempuan (daro baro) memakai pakaian yang lebih rumit dibandingkan mempelai pria. Perhiasan pada bagian kepala, meliputi sunting-sunting keemasan yang amat dekoratif dan terdiri atas berbagai bentuk flora yang disebut culok. Setiap culok memiliki nama, seperti culok ok bungong, got-got, bungong sunting, dan sisir. Selain itu, ada pula bunga-bungaan asli (bungong pekan), seperti bungong jeumpa, bungong seulanga.

Pada bagian telinga mempelai perempuan terpasang subang-subang besar yang bertahtakan permata subang meukundam. Namun, saat ini subang tersebut sudah jarang dipakai dan diganti dengan kerabu.

Pada bagian dahi mempelai perempuan dihiasi phatam doi. Phatam doi berbentuk mahkota melingkar dari kiri ke kanan. Phatam doi tersebut terbuat dari emas berukir.

Baju mempelai perempuan terbuat dari kain yang bermutu tinggi. Biasanya terbuat dari kain sutra dengan pilihan warna kuning, merah, hijau, atau lembayung dan berlengan panjang. Warna kuning biasanya dikenakan oleh mempelai keturunan bangsawan.

Kancing bajunya terbuat dari emas atau perak. Kancing baju ini terletak pada lengan dan bagian dada. Dibagian leher dikenakan kalung yaitu talo taku, boh aron, talo gulee, dan lainnya. Kalung tersebut terbuat dari emas. Selain itu, terdapat pula simplah. Simplah adalah sejenis perhiasan berbentuk bintang yang terangkai oleh rantai dan digantung pada kedua pundak. Posisinya tersilang di dada dan ke belakang.

Celana yang dipakai mempelai perempuan terbuat dari sutra. Warnanya hitam dan lembayung, tidak serupa dengan warna baju. Celana ini berbentuk lurus dan bersulam. Sulamannya terbuat dari kain berwarna merah.

Mempelai perempuan juga mengenakan dua macam sarung, yaitu ija plang dan ija lunggi. Kedua sarung itu dililitkan di luar baju dari pinggang sampai sejengkal di atas ujung calana, sehingga hiasan pada ujung celana masih tampak. Sarung yang dikenakan diikat dengan tali pinggang. Tali pinggang yang dikenakan sebagai pengikat sarung tersebut dinamakan talo kiing mule ulee. Tali pinggang tersebut terbuat dari emas atau perak.

Pada bagian lengan dan dahinya dikenakan hiasan gelang meupeuta, pucok, dan pute awe. Hiasan itu berbentuk bulat dan terbuat dari emas, perak atau suasa. Sementara itu, jari jari tangannya dihasi cincin emas berbagai jenis bertahtakan intan berlian.

Demikian ulasan tentang "Pakaian Adat Naggroe Aceh Darussalam Lengkap, Gambar dan Penjelasannya" yang dapat kami sajikan. Artikel ini dikutip dari buku "Selayang Pandang Nanggroe Aceh Darussalam : Nunung Yuli Eti". Baca juga artikel kebudayaan menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.

Contact Me

Name

Email *

Message *