Showing posts with label Budayaku. Show all posts
Showing posts with label Budayaku. Show all posts

Tuesday, December 12, 2017

Upacara Adat Gorontalo Lengkap Penjelasannya

Upacara Adat Gorontalo Lengkap

Upacara adat atau upacara tradisional adalah upacara yang diselenggarakan menurut adat-istiadat yang berlaku di daerah setempat. Upacara tradisional Gorontalo tidak dapat dipisahkan dari agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Provinsi Gorontalo. Upacara adat ini dibedakan menjadi dua, yaitu upacara adat yang berhubungan dengan daur hidup (misalnya perkawinan, kematian) dan upacara adat yang berhubungan dengan aktivitas hidup masyarakat serta lingkungan.

Upacara Adat Perkawinan
Hampir seluruh penduduk Provinsi Gorontalo memeluk agama Islam. Adat istiadatnya pun sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam. Masyarakat Gorontalo memegang teguh semboyan adat yaitu Adati hula hula Sareati-Sareati hula hula to Kitabullah. Artinya, Adat bersendikan Syara, Syara bersendikan Kitabullah. Pengaruh Islam juga terlihat pada adat pernikahan di Provinsi Gorontalo. Prosesi pernikahan dilaksanakan menurut suatu tahapan atau Lenggota Lo Nikah.

Tahapan pertama disebut mopoloduwo rahasia. Pada tahap ini orang tua dari pria mendatangi kediaman orang tua wanita untuk meminta restu pernikahan anak mereka. Apabila diperoleh restu dari kedua orang tua pihak wanita, selanjutnya ditentukan waktu untuk melangsungkan peminangan atau tolobalango.

Tolobalango merupakan acara peminangan mempelai wanita secara resmi yang dihadiri keluarga melalui utusan atau juru bicara pihak keluarga pria (lundthu dulango layio) serta utusan atau juru bicara keluarga mempelai wanita (lundthu dulango walato). Dalam acara ini hadir pula pemangku adat dan punggawa lokal. Penyampaian maksud peminangan yang disampaikan oleh juru bicara dilantunkan menggunakan pantun yang indah. Yang terpenting dalam acara peminangan adat Gorontalo adalah mengungkapkan mahar (maharu) namun, tidak menyebutkan biaya pernikahan (tonelo). Disampaikan juga acara yang akan dilaksanakan selanjutnya.

Setelah ada kesepakatan dalam acara tolobalango, dilanjutkan acara depito dutu (antar mahar) ataupun antar harta. Barang-barang yang dibawa berupa satu paket mahar, sebuah paket lengkap kosmetik tradisional Gorontalo dan kosmetik modern, seperangkat busana pengantin wanita, sirih, buah-buahan dan dilonggato atau bumbu dapur.

Semua hantaran tersebut dimuat menggunakan kendaraan yang didekorasi seperti perahu yang disebut kola-kola. Arak-arakan hantaran ini dibawa dari rumah yiladiya (kediaman/rumah raja) calon pengantin pria menuju rumah yiladiya pengantin wanita. Arak-arakan tersebut diiringi dengan tabuhan alat musik tradisional Provinsi Gorontalo.

Sehari sebelum akad nikah dilaksanakan, terlebih dahulu digelar serangkaian acara mopotilandthu (malam pertunangan). Acara ini diawali dengan khatam Alquran. Acara ini bermakna calon mempelai wanita telah menamatkan atau menyelesaikan mengajinya dengan membaca Wadhuha sampai Surat Lahab. Acara dilanjutkan dengan molapi saronde, yaitu kesenian tari yang ditampilkan oleh calon mempelai pria dan ayah mempelai atau wali mempelai laki-laki. Ayah dan calon mempelai laki-laki secara bergantian menari menggunakan sehelai selendang. Calon mempelai wanita memperhatikan dari kejauhan atau dari kamar.

Bagi calon mempelai pria hal tersebut merupakan sarana molile huali (menengok atau mengintip calon istrinya). Dengan tarian tersebut calon mempelai pria mencuri-curi pandang untuk melihat mempelai wanita. Saronde diawali melalui pemukulan rebana dengan iringan lagu Tulunani. Syair-syair lagunya disusun dalam bahasa Arab yang juga mempakan lantunan doa-doa untuk keselamatan.

Sementara itu, calon mempelai wanita ditemani pendamping menampilkan tarian tradisional Tidi Daa atau Tidi Loilodiya. Tarian ini menggambarkan keberanian dan keyakinan dalam menghadapi badai rintangan yang akan terjadi dalam rumah tangga mereka nanti. Setelah menarikan tarian Tidi, calon mempelai wanita kembali duduk di pelaminan. Calon mempelai pria dan rombongan pemangku adat beserta keluarga kembali ke rumahnya.

upacara bersanding di pelaminan adat gorontalo

Keesokan harinya pemangku adat melaksanakan akad nikah. Acara ini merupakan acara puncak untuk menyatukan kedua mempelai dalam ikatan pernikahan yang sah menurut syariat Islam. Dengan setengah berjongkok mempelai pria dan penghulu mengikrarkan ijab kabul dan mas kawin yang telah disepakati kedua belah pihak keluarga. Selanjutnya, acara ditutup dengan doa sebagai tanda syukur atas kelancaran acara penikahan tersebut.

Upacara Molonthalo
Molonthalo atau ruba puru adalah upacara bagi wanita hamil tujuh bulan anak pertama. Upacara ini merupakan pra acara adat dalam rangka peristiwa adat kelahiran dan keremajaan. Acara ini merupakan pernyataan harapan yang terpenuhi akan kelanjutan turunan dari perkawinan yang sah. Selain itu, juga merupakan maklumat kepada keluarga kedua belah pihak bahwa sang istri benar-benar suci. Tata cara pelaksanaan upacara ini sebagai berikut.

A. Pelaksana
1. Kerabat pihak suami.
2. Bidan kampung atau Hulango yang sudah ditunjuk dalam melaksanakan acara Molonthalo. Syarat yang harus dipenuhi seorang hulango yaitu:
a. Beragama Islam;
b. Mengetahui seluk beluk umur kandungan;
c. Mengetahui urutan Upacara Adat Molonthalu;
d. Memahami lafal-lafal dalam pelaksanaan acara tersebut seperti yang telah diturunkan para leluhur ; dan,
e. Diakui oleh kelompok masyarakat sebagai bidan kampung.

3. Imam atau Hatibi, atau yang ditokohkan sebagai pelaksana keagamaan yang mampu dan mahir lafal doa salawat (mo'odelo).
4. Dua orang anak perempuan umur 7-9 tahun keduanya masih lengkap orang tuanya (payu lo hulothalo).
5. Dua orang ibu dari keluarga sakinah.

B. Persiapan
1. Hulante berbentuk seperangkat bahan di atas baki. Perangkat ini terdiri atas beras cupak atau tiga liter. Di atasnya terletak tujuh buah pala, tujuh buah cengkih, tujuh buah telur, tujuh buah limututu (lemon sowanggi), tujuh buah mata uang yang bernilai Rp100,00. Dahulu mata uang terdiri atas Ringgit, Rupiah, Suku, Tali, Ketip, dan Kelip.
2. Seperangkat bahan pembakaran dupa di atas baki. Perangkat ini terdiri atas sebuah buah polutube (pedupaan), sebuah baskom tempat tetabu (dupa), dan segelas air masak yang tertutup.
3. Seperangkat batu gosok (botu pongi’ila), yaitu batu gosok untuk mengikis kunyit sepenggal, dicampur sedikit kapur, dan air dingin. Campuran ini disebut alawahu tilihi.
4. Separangkat pomama (tempat sirih, pinang), tambaluda, atau hukede.
5. Sebuah toyopo atau seperangkat makanan. Tempatnya dibuat dari daun kelapa muda (janur) yang berisi nasi kuning, telur rebus, ayam goreng, dan kue-kue, seperti wapili, kolombengi, dan apangi. Ditambah dengan pisang masak yang terdiri atas pisang raja atau pisang gapi (lutu tahulumito atau lutu lo hulonti’o).
6. Separangkat makanan di atas baki terdiri atas sepiring bilinti atau sejenis nasi goreng yang dicampur hati ayam, sepiring ayam goreng yang masih utuh dan pada perutnya dimasukkan sebuah telur rebus, dua buah baskom tempat cuci tangan, dua buah gelas berisi air masak, dan dua buah sendok makan.
7. Sebuah daun silar (tiladu) berkeping tiga (tiladu tula-tula pidu), seukuran perut sang ibu yang hamil.
8. Bulewe atau upik pinang (Malo ngo’alo).
9. Sebuah tempurung tidak bermata (buawu huli).
10. Seperangkat tikar putih (amongo peya-peya atau ti’ohu) yang terbungkus (bolu-bolu). Ini dipancangkan di depan pintu (pode-podehu). Seorang ibu di balik tirai itu meneruskan pertanyaan dari syara’ (hatibi atau syarada'a atau imam) yang bertugas membacakan doa, kepada hulango (bidan). Menyampaikan pertanyaan berupa "Ma Ngolo Hula” artinya sudah berapa bulan. Kemudian, dijawab oleh anak-anak tersebut atas petunjuk hulango.
11. Pale Yilulo (Tilondawu), yaitu beras yang diberi warna merah, hijau, kuning, hitam, dan putih.
12. Sebilah keris memakai sarung.

C. Pakaian Adat
1. Sang ibu hamil mengenakan busana walimomo. Konde memakai sunthi dengan tingkatan. Satu tangkai untuk umum, tiga tangkai untuk golongan istri wuleya lo Iipu (camat), lima tangkai untuk golongan istri jogugu/wakil bupati/walikota, dan tujuh tangkai untuk mbui, istri raja/bupati/walikota.
2. Suami (calon ayah) mengenakan Bo'o takowa kiki dan payungo tilabatayila mengenakan salempang. Keris terselip di pinggangnya.
3. Dua orang perempuan mengenakan galenggo wolimomo, kepalanya mengenakan Baya Lo Bo'ute atau bahan hiasan kepala.
4. Dua orang ibu yang sakinah mengenakan batik, kebaya dan juga batik surang sebagai penutup (wulo-wuloto) atau busana lo mango tiilo.

D. Pelaksanaan
1. Hulango menyiapkan benda budaya atau atribut adat, sebagaimana diuraikan pada persiapan.
2. Hulango memberikan tanda (bantho) dengan alawahu tilihi pada dahi, leher (bagian bawah tenggorokan), bahu, lekukan tangan dan bagian atas telapak kaki, serta bawah lutut. Maknanya adalah pernyataan sang ibu akan meninggalkan sifat-sifat mazmunah (terceIa) dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya nanti.
3. Sang ibu dibaringkan di atas tikar putih di atas permadani. Kepalanya menghadap ke timur dan kakinya ke barat. Seorang ibu memegang bantal dan menjaga di bagian kepalanya. Pada bagian kaki seorang ibu menjaga sambil memegang lutut dari sang ibu hamil, posisi lututnya terlipat ke atas.
4. Dua orang anak (laki-laki dan perempuan) yang sudah dapat berbicara pada payu lo limutu, satu orang anak perempuan (pada payu lo Hulontalo). Mereka duduk bersebelahan (payu lo limutu), duduk di sisi sebelah kanan dari ibu yang di-tonthalo. Kedua tangan mereka tersusun di atas perut yang hamil, tepat di atas ikat pinggang janur berkepala tiga.
5. Syara' menanyakan pada ibu dibalik tirai /pemegang lalante bula (tikar terbungkus kain batik) dengan pertanyaan, ”Ma Mongola Hula?” Artinya sudah berapa bulan? Selanjutnya, pertanyaan tersebut diteruskan kepada hulango. Kemudian, dibalas oleh hulango dengan kalimat: ”Oyinta Oluwo, dst.” Jawaban itu diteruskan oleh ibu di balik tirai (podebu lo bula) kepada syara’ dengan suara keras. Hal ini berlangsung sampai tiga kali.
6. Sang suami melangkahi perut sang istri sebanyak tiga kali. Kemudian, menghunus keris dan memotong ikatan anyaman silar tersebut.
7. Setelah anyaman silar itu terputus, sang suami mengeluarkan ikatan silar. Sang istri bangun menuju pintu di depan lalante bula dan sang suami keluar mengelilingi rumah satu kali. Kemudian, membuang silar itu jauh-jauh. Hal ini sebagai perlambang agar bayi itu lahir dengan selamat. Adapun mencari tiga jalur ikatan adat, syara’, dan baala sebagai pedoman dalam hidupnya bermasyarakat.
3.  Setelah selesai, sepasang suami istri kembali ke rumah. Keduanya, duduk berhadapan saling menyuapi dengan seperangkat makanan yang ada di baki, yaitu nasi bilinthi dan ayam goreng. Sebelumnya, sang suami mengeluarkan telur dari perut ayam goreng. Ini sebagai perlambang kemudahan sang istri melahirkan jabang bayi. Saling menyuap adalah perlambang kasih sayang dan mengingatkan hak serta kewajiban baik istri maupun suami.
9. Pembacaan doa salawat oleh imam/hatibi atau aparat keagamaan lainnya di hadapan hidangan yang dihadiri oleh undangan. Para undangan itu yang terdiri atas kerabat kedua belah pihak.
10. Acara diakhiri dengan suguhan kopi atau teh dan kue tradisional.
11. Sebelum acara diakhiri, sang suami memberikan sedekah kepada para pelaksana acara tersebut sesuai keikhlasannya.
12. Pala’u dibagi-bagikan kepada yang berhak menerimanya, yaitu hulango, pembaca doa salawat, dua orang anak, dua orang ibu, dan seorang ibu di balik tirai.

Tumbilotohe
Tumbilo tohe, pateya tohe..... ta mohile jakati bubohe lo popatii'......
Kalimat di atas seringkali dilantunkan oleh anak-anak pada saat pemasangan lampu ”Tumbilotohe”. Tumbilotohe berasal dari kata tumbilo yang berarti pasang dan kata tohe berarti lampu. Tumbilotohe adalah tradisi menyalakan lampu atau malam memasang lampu. Pelaksanaan tumbilotohe menjelang Maghrib hingga pagi hari selama tiga malam terakhir bulan suci Ramadhan. Tradisi ini sebagai tanda akan berakhirnya bulan suci Ramadhan. Kegiatan ini sudah berlangsung sejak abad XV.

Sumber penerangan diperoleh dari damar. Damar yaitu getah pohon yang dapat dinyalakan dalam waktu lama. Damar ini dibungkus dengan Janur dan diletakkan di atas kayu. Oleh karena berkurangnya damar, penerangan dilakukan dengan minyak kelapa (padamala). Kemudian, digantikan dengan minyak tanah. Seiring dengan perkembangan zaman, tumbilotohe mengalami pergeseran. Sebagian warga mengganti penerangan dengan lampu pijar dengan berbagai warna. Akan tetapi, sebagian warga masih mempertahankan nilai tradisional. Mereka memakai lampu botol yang dipajang di depan rumah pada kayu atau bambu.

Beberapa pelengkap dalam tradisi tumbilotohe di antaranya sebagai berikut. Lampu botol. Lampu ini dibuat dari botol bekas minuman energi atau minuman kaleng. Lampu ini menggunakan sumbu kompor. Lampu ini di gantung pada sepotong kayu atau kawat yang berjejer. Akan tetapi, ada juga yang diletakkan di atas tanah. Jumlahnya ribuan.

gambar tradisi tumbilotohe gorontalo

Kerangka pintu gerbang (Alikusu). Alikusu terdiri atas bambu kuning, janur, pohon pisang, tebu, dan lampu minyak. Alikusu diletakkan di pintu masuk rumah, kantor, masjid, dan pintu gerbang perbatasan suatu daerah. Terdapat bentuk kubah masjid yang menjadi simbol utama alikusu. Di atas alikusu itu digantung sejumlah buah pisang sebagai lambang kesejahteraan dan tebu sebagai lambang keramahan.

Mariam bambu (Bunggo). Bunggo dibuat dari bambu pilihan yang setiap mas dalamnya dilubangi kecuali mas paling ujung. Pada ruas paling ujung diberi lubang kecil yang diisi minyak tanah. Lubang kecil itu sebagai tempat menyulut api sehingga dapat dihasilkan bunyi letusan kecil. Lampion bambu (Landera). Lampion ini dibuat dari bambu besar yang ujungnya dibelah sesuai besarnya diameter bambu. Di dalam bambu itu diletakkan tempurung kelapa. Tempurung itu membentuk jari-jari yang nantinya akan dibalut dengan kertas warna-warni. Di dalam tempurung itu dipasang lampu botol.

Obor (Morongo). Obor adalah lampu penerang jalan yang dibuat dari sepotong bambu kuning atau sejenisnya.  Bambu tersebut diisi minyak tanah serta sumbu.

Demikiana pembahasan tentang "Upacara Adat Gorontalo Lengkap Penjelasannya" yang dapat kami sampaikan". Baca juga artikel kebudayaan Daerah Gorontalo menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.



Sumber : Selayang Pandang Gorontalo : Ir. Nugroho Yuananto

Monday, December 11, 2017

Upacara Adat Kalimantan Timur Lengkap Penjelasannya

Upacara Adat Kalimantan Timur 

Upacara adat atau upacara tradisional adalah upacara yang diselenggarakan menurut adat istiadat yang berlaku di daerah setempat. Upacara tradisional Provinsi Kalimantan Timur tidak dapat dipisahkan dari agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat setempat. Sampai saat ini, masih ada sebagian masyarakat suku bangsa Dayak yang memercayai adanya dewa-dewa. Mereka percaya bahwa di langit tinggal para roh dan dewa (seniang) yang masing-masing mempunyai tugas sendiri terhadap kehidupan manusia.

Selain itu, mereka mengenal adanya nayuq seniang yaitu makhluk gaib (dewa) yang tinggal di bumi sebagai pelindung manusia. Suku bangsa Dayak juga percaya kepada roh nenek moyang yang telah meninggal. Hal ini terlihat pada kebiasaan mengayau (balaag) untuk menambah kekuatan gaib seseorang.

upacara mangayau adat kaltim

Bentuk upacara adat dalam masyarakat Provinsi Kalimantan Timur cukup banyak. Upacara adat daerah ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu upacara yang berhubungan dengan daur hidup manusia dan upacara yang berhubungan dengan masyarakat serta lingkungan. Jenis upacara adat yang berhubungan dengan daur hidup masyarakat Provinsi Kalimantan Timur sebagai berikut.

Masa Kelahiran
Upacara yang dilakukan pada masa ini ada beberapa jenis. Namun, yang menjadi perhatian khusus yaitu bayi yang lahir pada bulan Safar. Menurut kepercayaan, anak tersebut akan menemui banyak bahaya (naas) sepanjang hidupnya. Agar terhindar dari malapetaka, harus diadakan upacara timbangan. Upacara timbangan dilakukan dengan cara anak disetimbangkan dengan sejumlah buah-buahan. Upacara ini diadakan setiap tahun pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Dalam tradisi masyarakat Kutai juga ada upacara naik ayun/ tasmiyah, yaitu upacara pemberian nama bayi yang baru lahir.

Masa Dewasa
Upacara pada masa ini terutama untuk mencari jodoh untuk pasangan hidup. Kesempatan berkenalan untuk memilih ini dapat dilakukan dalam berbagai kegiatan adat. seperti berharian (pelaa’ru), ngayang, dan purun. Berharian yaitu bekerja bersama secara bergantian. Ngayang yaitu bertamunya seorang pemuda ke rumah pemudi pada malam hari. Purun yaitu wisata bersama sambil memasak atau menyiapkan alat-alat penangkap ikan.

Perkawinan
Upacara pada masa ini merupakan simbol peralihan status seseorang dari masa lajang ke masa berumah tangga. Upacara masa ini dibedakan atas upacara sebelum perkawinan, upacara perkawinan, dan upacara setelah perkawinan. Upacara sebelum parkawinan terdiri atas beberapa tahap, seperti melamar, penyerahan tanda ikatan, dan serangkaian ritual sebelum pelaksanaan perkawinan. Upacara perkawinan dilaksanakan di rumah (lamin) pengantin laki-laki dengan mengambil tempat pada bagian muka (use). Sesudah perkawinan, kedua pengantin melaksanakan upacara palan. Upacara palan yaitu upacara yang berisi pantangan atau larangan yang tidak boleh dilanggar oleh pengantin, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

Masa Kematian
Upacara masa ini untuk tiap-tiap suku bangsa berbeda. Namun, semuanya mempunyai tujuan yang sama yaitu agar arwah diantarkan dengan selamat ke alam baka dan tidak mangganggu yang ditinggalkan. Upacara kematian suku bangsa Dayak Tunjung terbagi atas tiga jenis, yaitu upacara toho, kenyau, dan kwangkai. Suku bangsa Dayak Benuaq mengenal tiga jenis upacara kematian, yaitu param api, kenyau, dan kwangkai. Upacara kematian suku bangsa Dayak Bahau terdiri atas lima tahap, yaitu madu pate (memandikan mayat), makan berweg (memberi makan mayat), pamakaman (penguburan jenazah), muqak toq (mengusir hantu), dan hadui taknaq (memandikan roh).

Selain upacara adat yang berhubungan dengan daur hidup, ada pula beberapa jenis upacara adat yang berhubungan dengan masyarakat atau lingkungan sekitar.

Ngungu Tahun
Ngungu tahun adalah upacara adat suku bangsa Dayak Bahau untuk memelihara tahun. Upacara sejenis dapat ditemui dalam suku bangsa Melayu Kutai di Kabupaten Kutai Kartanegara dengan nama erau pelas tahun.

Mangosang
Mangosang adalah upacara adat suku bangsa Dayak Aboeng untuk menunjukkan semangat keberanian, kesetiaan, dan kecintaan terhadap sukunya.

Bob Jengau
Bob jengau adalah upacara adat menanam padi ladang pada suku bangsa Dayak Modang. Upacara sejenis dapat ditemui pada suku-suku lain, seperti Upacara hudoq (suku bangsa bangsa Dayak Kenyah), dongei (suku bangsa Dayak Bahau), dan kwangkai (suku bangsa Dayak Tunjung dan Benuaq).

Pelambe
Pelambe adalah upacara adat pada suku bangsa Dayak Punan. Upacara ini dilakukan jika pada tahun berjalan tidak mendapatkan hasil panen yang baik, tidak ada musim buah, dan tidak ada musim babi.

Mamat dan Belawing
Mamat dan belawing adalah upacara adat pada suku bangsa Dayak Kenyah Lepo Tau di Apo Kayan. Upacara ini melambangkan kemenangan, kejayaan, dan keberanian prajurit perang,  serta untuk menolak roh-roh jahat.

Upacara Beliatn
Upacara beliatn adalah sebuah ritus penyembuhan yang biasa dilakukan oleh suku bangsa Dayak Benuaq. Ada beberapa jenis upacara beliatn, tetapi yang paling popular dan sering diselenggarakan adalah beliatn bawo dan beliatn Sentiyu. Beliatn Bawo merupakan upacara penyembuhan yang dapat dipimpin tabib perempuan. Upacara ini biasanya dilakukan untuk pengobatan ringan seperti demam pada anak-anak. Sementara itu, beliatn sentiyu merupakan upacara beliatn terbesar yang dipimpin oleh seorang tabib atau lebih. Upacara ini biasanya berlangsung hingga 4 hari 4 malam.

Upacara beliatn biasanya berlangsung di rumah lamin. Sebelum upacara dilakukan, berbagai perlengkapan disiapkan. Persiapan tersebut antara lain menyembelih beberapa ekor babi untuk diambil darahnya, patung-patung kecil yang melambangkan hantu pengganggu, ornamen janur, dan ramuan dari dadaunan. Selain itu, mereka juga menyiapkan masakan khas untuk upacara beliatn, yaitu tumpi dan lemang yang terbuat dari beras ketan.

Upacara beliatn dimulai pada malam hari. Orang-orang yang sakit dibaringkan di lamin. Kerabatnya duduk di samping pasien dan menyaksikan jalannya ritual. Tabib yang mangobati menari dengan diiringi musik tetabuhan sambil melantunkan mantra dalam bahasa Kutai. Semakin lama gerakannya semakin cepat dan tidak terkendali. Sambil terus menari, tabib beliatn mengoleskan ramuan pada tubuh si pasien. Bagian belakang tubuh si pasien dihisap untuk menyedot roh jahat yang mengganggu. Pada malam terakhir, yaitu malam yang keempat, disembelihlah seekor babi untuk diambil darahnya. Darah babi tersebut dioleskan pada tubuh pasien, sedangkan dagingnya dimasak esok paginya sebagai lauk.

gambar upacara adat beliatn kaltim

Sesudah upacara beliatn, para pasien belum diizinkan untuk pulang ke rumah masing-masing. Mereka masih berada pada masa tuhing, yaitu masa tabu untuk menjalani berbagai pantangan. Masa tuhing berlangsung hingga empat hari. SeteIah itu, pasien baru diizinkan kembali ke tempat tinggalnya.

Bagi orang Benuaq ataupun masyarakat pedalaman lainnya, penyakit dianggap sebagai akibat dari ketidakseimbangan manusia, alam, dan lingkungan sosial budayanya. Oleh karena itu, ritus penyembuhan tersebut merupakan salah satu upaya mencapai harmonisasi yang hilang.

Demikian pembahasan tentang "Upacara Adat Kalimantan Timur Lengkap Penjelasannya" yang dapat kami sampaikan. Baca juga artikel kebudayaan Daerah Kalimantan Timur menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.




Sumber : Selayang Pandang Kalimantan Timur : M. Purwati

Friday, December 8, 2017

Upacara Adat Bali Lengkap Penjelasannya

Upacara Adat Bali Lengkap Penjelasannya

Hampir sebagian besar kehidupan masyarakat Bali, diwarnai dengan berbagai upacara adat sehingga dapat dikatakan kehidupan spiritual masyarakat Bali tidak dapat dipisahkan dari berbagai upacara ritual. Upacara-upacara besar yang diselenggarakan masyarakat pada umumnya yang menyangkut lingkaran (daur) hidup manusia serta yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan sosial yang membutuhkan diadakannya suatu upacara.

Upacara Kelahiran
Upacara adat Bali yang ditujukan untuk penyambutan kelahiran digolongkan tiga tahap, yaitu golongan rakyat biasa, golongan bangsawan, dan golongan Bali Aga.

Pada golongan rakyat biasa, upacara kelahiran dimulai dengan upacara Mara Lekat. Upacara Mara Lekat adalah upacara kelahiran yang menerangkan tentang pemotongan ari-ari yang disebut Kepus Pungset. Kemudian dihubungkan dengan upacara Melepas Hawon yang menerangkan tentang upacara 12 hari setelah bayi berusia tiga bulan. Pada saat bayi memasuki masa kanak-kanak diadakan upacara penyambutan.

Untuk golongan bangsawan tahapan upacara sama dengan masyarakat biasa hanya menggunakan nama lain, yaitu Mapak Rare, Wawu Mijil, Kepus Udel, dan Nglepas Awon. Sementara itu, untuk golongan Bali Aga istilahnya adalah, Tapakan, Kepus Sawen, dan Nelu Bulanin yang ditambahkan dengan upacara Ngetus Jambat (cukur rambut).

Upacara Turun Tanah
Pada upacara ini pertama kali si anak mengalami kontak dengan agama dan tradisi, yang akan membimbing mereka seumur hidup. Pada hari itu anak tersebut diberi nama dan diberkahi, serta boleh menginjak tanah, sebagai simbol dari Dewa-dewa, yaitu Brahma, Wisnu, dan Syiwa.

Upacara Potong Gigi
Upacara ini dilangsungkan bagi setiap perempuan yang menjelang dewasa. Upacara ini sebagai tradisi lama yang menggambarkan agar seorang perempuan tidak mirip dengan Leak (yang selalu menonjolkan giginya). Saat ini upacara tersebut hanya sebagai simbolik tanpa dipotong langsung.

Upacara Pernikahan
Dalam tata pernikahan orang Bali mempunyai batasan dengan kastanya. Akan tetapi, saat ini terdapat adanya pernikahan antara kasta yang berbeda, misalnya: seorang wanita dari kasta Sudra menikah dengan kasta Kesatria. Apabila hal ini terjadi maka dia tidak disapa orang lagi dengan langsung menyebut namanya seperti Putu atau Made, melainkan harus dipanggil Jero. Sebaliknya, apabila seorang wanita kasta Kesatria menikah dengan laki-laki kasta Sudra maka wanita tersebut kehilangan gelar kekastaannya.

Menurut adat Hindu Bali, pernikahan dilakukan di rumah calon pengantin laki-laki pada hari yang dianggap baik oleh pendeta Hindu Bali. Biasanya pengantin baru tinggal bersama keluarga laki-laki dalam satu pekarangan rumah.

Ada dua macam pernikahan, yaitu "kawin lari" , dan "kawin ngidih". Kawin lari (cara kuno di Bali bagian timur) adalah perempuan meninggalkan rumahnya untuk menikah tanpa sepengetahuan orang tuanya. Pernikahan semacam ini sudah agak jarang dilakukan. Cara pernikahan yang umum dilaksanakan dewasa ini adalah kawin ngidih, pihak laki-laki meminta kepada orang tua pihak perempuan.

Kawin Lari
Pada hari yang telah disetujui oleh pasangan calon pengantin, laki-laki atau orang lain yang dimintai tolong, menjemput si perempuan dan membawanya ke rumah salah satu kerabat atau temannya untuk disembunyikan paling sedikit selama tiga hari atau sampai orang tua pihak perempuan mengakui bahwa anak gadisnya telah menikah.

Selanjutnya, empat orang mewakili pihak laki-laki untuk menyampaikan pesan kepada orang tua bahwa anak gadisnya telah pergi untuk menikah. Kelian banjar dari pihak keluarga perempuan ikut untuk menyampaikan pesan tersebut. Mereka membawa lampu sebagai simbol penerangan dan surat pernyataan dari calon pasangan pengantin bahwa mereka menikah atas dasar cinta dan tanpa paksaan pihak mana pun.

Apabila orang tua si perempuan menerima bahwa anaknya telah dilarikan dan akan menikah dengan laki-laki pilihannya, mereka menentukan kapan wakil dari pihak laki-laki bisa datang kembali ke rumahnya untuk menyelesaikan masalah pernikahan ini.

Kawin Ngidih
Pada hari yang telah disepakati bersama, keluarga dan kerabat dekat pihak laki-laki datang ke rumah pihak perempuan untuk menyampaikan keinginan mereka untuk menikahkan anak laki-lakinya dengan anak gadis dari pihak perempuan. Kemudian mereka akan menetapkan suatu hari untuk mengumpulkan seluruh keluarga dari pihak perempuan. Mereka juga meminta keluarga laki-laki dan kerabat dekatnya untuk datang kembali melamar dan membicarakan tata laksana upacara pernikahan. Setelah kesepakatan tercapai, calon pengantin perempuan dibawa ke rumah calon pengantin laki-laki.

Pawiwahan (Upacara) Tiga Hari
Setelah tiga hari berada di rumah pihak laki-laki atau persembunyian, calon pengantin baru akan diupacarai dengan sesajen. Upacara tersebut dituntun oleh pemangku (pendeta dari keluarga Sudra) untuk mengesahkan perkawinan tersebut secara agama Hindu Bali. Upacara ini hanya dihadiri oleh keluarga dekat pasangan pengantin atau pihak laki-laki saja kalau memakai cara kawin lari.

Pawiwahan di Sanggah (Pura Keluarga)
Pada hari yang telah disepakati dan ditunjuk oleh pendeta Brahmana, upacara yang lebih besar dilaksanakan di sanggah pihak laki-laki. Makna upacara ini adalah untuk menyampaikan kepada para leluhur yang bersemayam di sanggah itu. bahwa ada satu pendatang baru yang akan menjadi anggota keluarga dan akan melanjutkan keturunannya.

Dalam kawin ngidih semua anggota banjar dari pihak laki-laki dan seluruh keluarga besar dari pihak perempuan dan para undangan lainnya menyaksikan upacara ini. Pada kawin lari, keluarga atau kerabat dekat dari pihak perempuan tidak terlibat. Undangannya bisa mencapai ratusan orang.

Upacara ini biasanya dilanjutkan dengan pelaksanaan upacara mepamit (perpisahan) yang akan dilakukan di sanggah pihak keluarga pengantin perempuan. Makna dari upacara ini adalah untuk minta pamit kepada para leluhur karena sekarang telah menikah serta menjadi milik dan tanggung jawab keluarga laki-laki.

Pada umumnya semua biaya upacara perkawinan ditanggung oleh keluarga pihak laki-laki termasuk untuk upacara mepamit yang dilakukan di rumah orangtua perempuan. Anggota banjar menyediakan sebagian bahan makanan untuk pesta atau bahan upacara dan para tamu undangan membawa hadiah untuk pengantin baru.

Pencatatan Perkawinan secara Sipil
Tahapan yang dijelaskan di depan adalah tahapan upacara perkawinan menurut adat Bali. Namun, sebagai warga negara Indonesia pasangan yang menikah harus mempunyai surat akta pernikahan dari Kantor Catatan Sipil. Surat ini akan digunakan pada saat berurusan dengan pemerintahan Indonesia, misalnya untuk mencari surat keterangan lahir bagi anak-anaknya nanti.

Upacara Penyucian (Eka Dasa Rudra)
Ada suatu upacara yang paling dramatis yang terjadi pada tahun 1963, yang ketika Gunung Agung meletus pada saat sedang berlangsungnya upacara Penyucian (Eka Dasa Rudra) yang dilakukan hanya sekali dalam 100 tahun.

Upacara Kematian
Dalam hal kematian khususnya Bali Aga, jenazah orang yang meninggal tidak dikuburkan ke dalam tanah. Jenazah tersebut hanya diletakkan di atas tanah pada tempat yang dianggap sebagai kuburan sampai tinggal tulang belulangnya.

gambar upacara ngaben di bali

Bagi orang Bali Hindu, orang yang meninggal juga tidak dikuburkan. Akan tetapi, tidak juga diletakkan di atas tanah sebagaimana Bali Aga melainkan dibakar melalui suatu upacara. Upacara ini lebih dikenal dengan nama Ngaben, di mana melalui upacara digambarkan seorang yang meninggal apabila dibakar akan meringankan roh itu untuk memasuki alam lain. Mayat yang akan dibakar ditempatkan dalam suatu peti mati yang berbentuk sapi atau garuda. Peti mati berbentuk sapi tersebut berwarna khusus menurut kastanya, putih untuk Brahmana, hitam untuk kasta lainnya.

Upacara kematian bagi orang Trunyan adalah jenazah tidak dikebumikan atau dibakar seperti yang lazim dilakukan orang Bali Hindu, tetapi dibiarkan membusuk di udara terbuka. Dalam upacara kematian dilaksanakan pula upacara pemakaman yang disebut ngutang mayit. Upacara ini mula-mula diadakan di rumah, kemudian dilanjutkan di tempat pemakaman Sema Wayah (bagi orang yang telah menikah dan mati wajar), atau di Sema Nguda (bagi mereka yang mati wajar dan belum menikah), serta di Sema Bantas (bagi orang yang matinya tidak wajar). Sistem pemakaman yang dilakukan adalah dengan cara mepasah, dalam arti jenazah hanya diletakkan di atas tanah tanpa dikubur.

Demikian ulasan tentang "Upacara Adat Bali Lengkap Penjelasannya" yang dapat kami sampaikan. Baca juga artikel kebudayaan Daerah Bali menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.

Saturday, December 2, 2017

Upacara Adat Aceh Lengkap Penjelasannya

Upacara Adat Aceh Lengkap Penjelasannya - Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Provinsi NAD juga masih terikat oleh berbagai upacara adat/tradisional. Upacara adat ini terdiri atas upacara adat yang berhubungan dengan daur hidup dan upacara adat yang berhubungan dengan aktivitas manusia dan lingkungan. Upacara yang berhubungan dengan daur hidup sebagai berikut. 


Masa kehamilan 

Pada waktu seorang istri hamil untuk pertama kali (Meutijeuem atau Keumaweueh) dan usia kandungannya telah lima bulan, pihak orang tua istri mengadakan kenduri. Kenduri ini disertai dengan nasi ketan dan dipanggilkan keluarga dari pihak istri. Kemudian, diadakan upacara basuh kepala (Rhah Ulee). Pada upacara ini, suami istri tersebut melakukan upacara sedingin setawarkan (Peusijeuk) dengan beras padi. Upacara tersebut dilakukan oleh ibu dan keluarga dari pihak istri. 

Selanjutnya, pihak ibu dari istri mengantarkan nasi ketan tadi kepada pihak orang tua suami. Hal ini sebagai pertanda atau sebagai ganti kabar bahwa anak perempuannya telah hamil lima bulan. Oleh pihak ibu suami nasi ketan tersebut dibagi-bagikan kepada keluarga dari pihaknya. Hal ini dimaksudkan supaya keluarga mengetahui bahwa menantunya sedang hamil 5 bulan. Setelah itu, pihak orang tua suami beserta keluarga mengantarkan makanan dan buah-buahan ke rumah menantunya yang disebut meunieum. Upacara ini ada pula yang dilakukan sewaktu seorang istri hamil tujuh bulan. 

Makanan yang dibawa oleh pihak orang tua suami tersebut adalah bu kulah (nasi putih yang dibungkus dengan daun pisang) berbentuk piramid di dalam hidang, bu leukat (nasi ketan) untuk peusunting meunantu yang sedang hamil, disertai ayam panggang dan tumpou. Lauk pauknya meliputi, ikan, daging yang dimasak berbagai macam, telur ayam, dan telur itik rebus, jreuk, dan lain-lain. Semua lauk pauk itu disusun dalam hidang berlapis-lapis (hiding meulampoh). Adapun buah-buahan yang dibawa ialah segala buah yang ada, termasuk buah untuk rujak (seunicah) sebanyak satu keranjang besar. Selain itu, juga dibawa kue-kue (peunajoh) basah dan kering. Upacara ini dimaksudkan untuk menguatkan rasa persaudaraan antara kedua belah pihak (suami-istri) dan untuk lebih menguatkan silaturahmi antara sesama keluarga. Makanan yang dibawa ini juga dibagi-bagikan kepada keluarga pihak istri. 

Masa Kelahiran 

Setelah bayi lahir dan dibersihkan, sang ayah atau kerabat tertua yang terpandang ahli agama dalam keluarga segera menyerukan azan atau iqamat. Kalau bayi yang lahir laki laki, diserukan azan di telinga sebelah kanan. Kalau bayi yang lahir perempuan, diserukan iqamat di telinga sebelah kiri. 

Pada hari ke-7 diadakan Upacara Adat Peucicap. Bayi tersebut dicicipi madu lebah, kuning telur, dan air zam-zam. Orang tua suami membawakan seperangkat keperluan bayi, yaitu ija (kain), ayunan, ija geudong (kain pembalut bayi), ija tumpe (popok), tilam, bantal, dan tali ayun (tali ayunan). Selain itu, juga dibawakan seperangkat pakaian untuk si istri yang baru melahirkan. Pada hari itu juga diadakan akikah, cukur rambut bayi, dan pemberian nama kepada bayi, dengan upacara peusijeuk dan sebaran beras-padi serta doa selamat. 

Pada hari ke-44 diselenggarakan Upacara Peusijuek Dapu. Upacara ini dilakukan oleh orang tua dan keluarga dari pihak orang tua suami. Pada saat itu orang tua suami menyunting ketan kepada menantunya dengan uang teumeutuek dan disertai dengan seperangkat pakaian. Kalau di kalangan bangsawan, juga turut diberi seperangkat pakaian untuk para dayang-dayang yang turut serta mengasuh perempuan yang medeueng setelah melahirkan. Pada hari itu juga diadakan upacara turun anak ke halaman (Upacara Peutron Aneuk). 

Anak yang telah berumur 44 hari diturunkan ke halaman. Anak tersebut dipayungi dan kakinya diinjakkan ke tanah (peugiho tanoh). Pada upacara ini dibelah buah kelapa di atas kelapa si anak dengan alas kain putih. Kain putih tersebut dipegang oleh empat orang. Kemudian, kelapa yang telah dibelah diberikan kepada pihak orang tua suami dan pihak orang tua istri. Hal ini bertujuan agar kedua belah pihak tetap kekal dalam persatuan, rukun damai, kompak, dan teguh dalam persaudaraan. 

Selanjutnya, diadakan pembakaran petasan. Orang-orang yang tangkas dan ahli bermain pedang diminta mempertunjukkan ketangkasannya dengan mencincang batang pisang. Hal ini dimaksudkan agar kelak si anak menjadi berani dalam menghadapi peperangan membela negara. Si anak juga diharapkan dapat menjadi orang terkemuka dalam masyarakat. Setelah upacara selesai, si anak dibawa masuk ke rumah oleh orang tuanya. Terlebih dahulu orang tua mengucapkan salam dan disambut pula dengan salam serta doa restu untuk kebahagian si anak. 


Masa Remaja 

Pada usia tujuh tahun si anak diantar oleh orang tuanya ke tempat pengajian (Guru Mengaji). Anak laki-laki diantarkan ke tempat pengajian laki-laki sementara anak perempuan diantarkan ke tempat pengajian perempuan. Pada waktu mengantar anak, orang tua membawa ketan kuning dengan tumpo dan ayam panggang, pisang abin beberapa sisir, kain putih enam hasta, sehelai kain sarung, sedekah sekadarnya dan beureuteh (beras digongseng) dicampur kembang. 

Kemudian guru mengaji membagi-bagikan makanan itu kepada anak-anak mengaji yang lain. Hal ini dimaksudkan agar terdapat kekompakan dan persatuan yang baik antara anak baru dengan murid-murid lama. 

Setelah berumur 10 sampai 13 tahun, diadakan Upacara Sunat Rasul (Khitan). Si anak berpakaian adat dan didudukkan di pelaminan di maba. Kemudian, diadakan acara Peusijeuk dengan setawar dingin beras padi, dan dipeusunting dengan ketan oleh kaum kerabat pihak ayah dan ibu serta teumeuntuk (pemberian) uang oleh kaum kerabat. Selain itu, juga ada teumeuntuk uang dari pihak tamu yang diundang kepada orang tua si anak ataupun hantaran berupa benda. Di kalangan bangsawan biasanya diadakan arakan, yaitu anak didudukkan dalam usungan dengan iringan gendang dan serunai. Pada Upacara Sunat Rasul ini diadakan juga jamuan kenduri. Bagi rakyat menurut kemampuan dan bagi bangsawan diadakan secara mewah, hampir menyerupai kenduri perkawinan. Upacara ini dilakukan oleh mudim dan anak disuruh mengucapkan Dua Kalimah Syahadah. 

Dalam pergaulan sehari-hari seringkali terjadi persengketaan atau perkelahian antar anak laki-laki. Jika terjadi pertumpahan darah (rho darah), tetua kampung segera mengadakan perdamaian di antara kedua belah pihak orang tua anak yang berkelahi. Orang tua si anak yang memukul hingga keluar darah wajib membawa ketan kuning, tumpou, kain putih enam hasta, seperangkat pakaian, dan uang. Selama si anak belum sembuh, segala urusan pengobatan menjadi tanggungan orang tua tersebut. Selain itu, di hadapan tetua kampung, kedua orang tua anak yang berkelahi mengadakan upacara bermaaf-maafan. 


Masa Perkawinan 

Kalau seorang pria dewasa hendak dijodohkan dengan seorang wanita, terlebih dahulu diutus seorang yang bijak dalam berbicara untuk mengadakan urusan perjodohan (meuselungoue) kepada orang tua wanita tersebut. Dalam pertemuan itu dibicarakan persetujuan perjodohan dan penetapan maskawin (mahar) serta penentuan hari membawa tanda (ikatan). 

Pada hari yang telah ditentukan diadakanlah Upacara Ba Ranub Kong Haba oleh kedua belah pihak. Pada saat itu, datanglah serombongan orangtua dari pihak calon pengantin pria kepada pihak orang tua calon pengantin wanita. Pada hari itu dilaksanakan acara pertunangan. Pihak pengantin pria membawa sirih penguat ikatan (ranub kong haba), yaitu sirih lengkap dengan alat-alatnya dalam cerana, pisang talon (pisang raja dan wajib satu talam). Ada juga yang menyertakan kain baju. Selain itu, juga dibawa benda mas satu atau dua mayam dengan ketentuan menurut adat. Kalau ikatan ini putus disebabkan oleh pihak pria, tanda mas tersebut harus dikembalikan dua kali lipat. Pada upacara ini juga ditentukan hari dan bulan diadakannya pernikahan dan pulang pengantin (Woe Linto).

Tiga hari sebelum menjadi pengantin, pihak pengantin pria (Linto) mengirimkan sirih inai (ranub gaca), ranub lipat atau ranub gapu satu hidang, satu hidang alat-alat pakaian mempelai perempuan, satu hidang breueh pade, satu hidang telur rebus yang diberi warna, setawar sedingin, dan daun inai (gaca) kepada mempelai wanita. Sementara itu, di rumah mempelai wanita diadakan acara Koh Adam.

Kemudian, pada Upacara Mampleue Woe Linto mempelai pria berpakaian adat dan diantar ke rumah mempelai wanita beramai-ramai, yang didahului oleh orang tua yang bijak. Sementara itu, mempelai wanita diapit oleh anak-anak muda yang sebaya. Pihak pria dalam upacara itu membawa jeunamee (mahar atau mas kawin), misalnya satu bongkol mas yang diletakkan dalam cerana beserta jinong kunyet dan beras padi. Cerana itu dibungkus dengan kain sutra kuning. Sementara itu, bagian ujung kain diletakkan bohru dari emas, ranub rajeu’ atau ranub peurakan, peunajoh wajeb, meuseukat, dhoi-dhoi, bhoi, penajoh tho keukarah, bungong kayee, dan lain.lain.

Di halaman rumah mempelai wanita, rombongan mempelai pria disambut dengan kata-kata halus bersanjak oleh pihak mempelai wanita. Setelah itu, mempelai pria dibawa naik ke rumah. Sewaktu tiba di tangga mempelai pria setawar sedingin dengan siraman air mawar dan beras padi. Setibanya di dalam rumah, mempelai pria didudukkan di pelaminan kecil sementara rombongan ditempatkan di serambi. Di tempat itu diadakan jamuan makan dan pernikahan ijab Kabul. Ada juga pernikahan Ijab Kabul ini didahulukan harinya sebelum upacara mempelai. Selain itu, barulah mempelai pria dibawa ke pelaminan besar untuk disandingkan dengan mempelai wanita. Biasanya setelah bersanding, mempelai pria bersama rombongan pulang kembali ke rumah orang tuanya.

Selanjutnya, diadakan Upacara Petujuh yaitu mempelai pria pulang ke rumah mempelai wanita dengan rombongan kira-kira 25 orang. Di halaman rumah mempelai wanita diadakan upacara penanaman kelapa yang dilakukan oleh mempelai pria dan wanita. Pada upacara itu, ibu mempelai wanita mengadakan teumeutuek (pemberian) uang kepada Linto disertai seperangkat pakaian. Pemberian tersebut dibawa pulang oleh mempelai pria untuk diperlihatkan kepada ibu mempelai pria. Selanjutnya, ibu mempelai pria memberi nget tujoh dan peukayan tujoh kepada mempelai wanita.

Kira-kira pada hari kesepuluh sampai satu bulan, mempelai wanita dijemput oleh ibu mempelai pria dengan Rabub Batee dan Gateng. Sesampainya di rumah mempelai pria diadakan Upacara Peusijeuk Dara Baro dan Teumeutuek kepada mempelai wanita yang dilakukan oleh ibu dan kerabat mempelai pria. Tangan mempelai pria dan wanita dimasukkan ke dalam empang beras dan empang garam untuk melakukan perjanjian di masa-masa mendatang. Bawaan mempelai wanita adalah wajeb, dodoi, meusekat, dan kue-kue kering lainnya serta ranub bate. Kue-kue bawaan tersebut oleh ibu mempelai pria dibagi-bagikan kepada kerabat dan tetangga. Dari pihak mempelai pria juga menghadiahi mempelai wanita, sesuai dengan kemampuannya dan lazim yaitu hewan betina.

Adapun upacara adat yang berhubungan dengan aktivitas manusia dan lingkungan sebagai berikut


Upacara Maulid Nabi Muhammad saw.

Maulid Nabi Muhammad saw. adalah acara yang selalu diperingati oleh umat muslim di seluruh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Acara ini biasanya berlangsung di masjid dan meunasah. Acara diisi dengan kegiatan seperti pembacaan Alquran, salawat, zikir, dan dakwah agama.


Upacara Peusijuk atau Tepung Tawar

Peusijuk merupakan salah satu tradisi leluhur masyarakat Aceh yang tetap dipelihara dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah Allah swt. Peusijuk ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Kota Banda Aceh pada saat acara pernikahan, kelahiran, naik haji, menempati rumah baru, dan lain-lain.


Upacara Kenduri Blang

Kenduri Blang merupakan upacara tradisional yang berhubungan dengan musim turun ke sawah. Kegiatan ini biasanya dilakukan dua kali dalam setahun, pada saat musim tanam dan panen padi. Upacara ini dipimpin oleh Keujreun Blang (seorang pemimpin informal para petani) yang membacakan doa agar diberikan hasil panen yang baik. Kegiatan ini merupakan rutinitas para petani di Kabupaten Aceh Besar.

gambar upacara adat kenduri laot di aceh

Upacara Kenduri Laot

Di Provinsi NAD dikenal pula Upacara Kenduri Laot. Kenduri Laot merupakan upacara tradisional yang berhubungan dengan laut. Kenduri Laot dimaksudkan untuk memohon kepada Allah swt. agar diberikan kemudahan dalam menangkap ikan dan dijauhkan dari segala marabahaya. Acara diisi dengan pembacaan ayat-ayat Alquran dan doa bersama. Kenduri laot ini biasanya dilakukan sekali dalam setahun.

Demikian pembahasan tentang "Upacara Adat Aceh Lengkap Penjelasannya" yang dapat kami sampaikan. Baca juga artikel kebudayaan Nanggroe Aceh Darussalam menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.




Sumber : Selayang Pandang Nanggroe Aceh Darussalam : Nunung Yuli Eti

Upacara Adat Sulawesi Selatan Lengkap Penjelasannya

Upacara Adat Sulawesi Selatan Lengkap Penjelasannya - Sebagian dari masyarakat Sulawesi Selatan merayakan ritual adat pada waktu-waktu tertentu. Upacara adat dapat dikategorikan menjadi dua kelompok, yaitu yang berhubungan dengan daur hidup (lifecycle) dan yang bersifat umum. Upacara adat yang pertama contohnya, ritual saat kehamilan, kelahiran, dan kematian, sedangkan upacara yang kedua contohnya, ritual sehabis masa panen yang dilakukan secara bersama-sama.

Orang Makassar, Bugis, dan Toraja mengenal upacara yang berhubungan dengan daur hidup dan yang umum. Misalnya, pada masa kehamilan orang Makassar mengenal ritual adat yang dinamakan dengan annyampa’ sanro (mencari dukun bersalin) dan a’bayu minnya’ (pada usia kandungan tujuh bulan). Begitu pula orang Bugis mengenal makkatenni sanro, mappanre to mangideng, dan maccera wettang yang prinsipnya sama dengan yang diselenggarakan orang Makassar. Adapun orang Toraja sedikit berbeda karena mereka tidak mengenal ritual adat pada saat kehamilan dan kelahiran. Namun, orang Toraja terkenal dengan penyelenggaraan upacara adat yang berhubungan dengan kematian.

Upacara adat kematian orang Toraja disebut dengan Rambu Solo’. Menurut keyakinan orang Toraja, orang mati belum dikatakan mati jika belum melaksanakan Rambu Solo’. Mereka menganggapnya sedang sakit atau tidur. Ada beberapa tingkatan dalam perayaan Rambu Solo’ tergantung dengan status sosial orang yang mati. Dalam perayaan Rambu Solo’ terdapat bermacam-macam kegiatan seperti mapasilaga tedong (adu kerbau), sisemba (adu kaki), tari-tarian, musik, dan pemotongan kerbau khas Toraja.

gambar upacara adat toraja rambu solo

Adapun upacara adat yang bersifat umum yang dirayakan masyarakat Sulawesi Selatan di antaranya, Maccera Tappareng, Pa’jukukang, Tudang Ade, dan Ma’rimpa Salo. Beragam upacara tersebut pada prinsipnya diselenggarakan masyarakat untuk mengucapkan syukur atas kesejahteraan yang mereka terima.

Upacara Maccera Tappareng, Pa’jukukang, dan Ma’rimpa Salo diselenggarakan masyarakat nelayan atas berlimpahnya hasil tangkapan ikan mereka. Maccera Tappareng diselenggarakan masyarakat di gekitar Danau Tempe, Kabupaten Wajo. Upacara Pa’jukukang diselenggarakan masyarakat di desa pantai, sedangkan upacara Ma’rimpa Salo diselenggarakan masyarakat di Desa Sanjai dan Desa Bua. Adapun upacara adat Tudang Ade agak berbeda. Upacara ini untuk mengingat tradisi musyawarah yang merupakan warisan budaya dari Kerajaan Bone.

Demikian pembahasan tentang "Upacara Adat Sulawesi Selatan Lengkap Penjelasannya" yang dapat kami sampaikan. Baca juga artikel kebudayaan Sulawesi Selatan menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.




Sumber : Selayang Pandang Sulawesi Selatan : Iswanto

Monday, November 27, 2017

Rumah Adat Kalimantan Tengah Lengkap, Gambar dan Penjelasannya

Rumah Adat Kalimantan Tengah Lengkap, Gambar dan Penjelasannya - Orang Dayak asli mempunyai rumah adat yang disebut betang. Di Kalimantan Timur rumah seperti ini disebut Lamin. Panjang betang rata-rata 30-150 meter, lebarnya 10-30 meter, dan tinggi tiangnya 2-4 meter dari tanah ke lantainya.

Dengan ukuran dimensi seperti tersebut di atas, betang dapat menampung sampai 100-200. Dengan kondisi seperti ini, seluruh sanak keluarga hidup dalam satu betang. Betang dapat juga dikatakan sebagai rumah suku, yang dipimpin oleh seorang Bakas Lewu atau Kepala Suku. 

gambar rumah betang kalimantan tengah

Dasar yang digunakan dalam penentuan tinggi betang yaitu tinggi orang menumbuk padi dengan mempergunakan alu (antan). Dengan begitu, pada saat menumbuk padi, alu tidak tersangkut pada lantai betang. 

Dalam huma betang terdapat ruangan-ruangan antara lain ruang (kamar) tidur dan satu buah los. Ruangan depan merupakan tempat menerima tamu atau tempat pertemuan. Ruangan tempat tidur dibuat berjejer, artinya setiap pintu merupakan kamar tidur. Semuanya menghadap ke ruang los. Ruang los dibuat sepanjang bangunan utama, dengan lebar kira-kira 1/4 lebar bangunan utama sedangkan 3/4 bangunan utama seluruhnya dipergunakan sebagai kamar tidur. Luas kamar tidak tergantung pada kebutuhan, tetapi harus sama luasnya. 

Biasanya tangga (dan pintu) rumah betang hanya satu dan terbuat dari kayu besi bulat panjang. Tangga ini dinamai hejan atau hecot. Di belakang rumah terdapat balai kecil yang berfungsi sebagai tempat menyimpan lesung untuk menumbuk padi. Bahan dasar betang umumnya dari kayu besi (ulin, Eusideroxylon zwagery). Dalam bahasa Dayak disebut tabalien atau bulin. Atap betang yang terbuat dari kayu ulin terkenal dengan nama sirap.

ukiran tangga masuk rumah betang

Ukiran pada bangunan umumnya melambangkan penguasa bumi, penguasa dunia atas, dan dunia bawah. Ukiran itu berupa ukiran burung tingang dan ukiran naga. Ukiran burung tingang dan naga tiap-tiap kepala harus horizontal ( tanggar), tidak boleh menengadah. Hal ini karena naga atau burung tingang berarti hanya mencari rezeki untuk dirinya sendiri, tidak mendatangkan rezeki bagi penghuni rumah tersebut, Sebaliknya. ukiran kepala burung tingang dan kepala naga tidak boleh tunduk karena akan membawa sial bagi penghuninya. 

Selain betang. ada beberapa jenis bangunan lain dalam tradisi Dayak Ngaju. Jenis-jenis bangunan itu antara lain huma gantung, pasah dukuh, tingkap, sanggarahan, dan lepau.

Demikian pembahasan tentang "Rumah Adat Kalimantan Tengah Lengkap, Gambar dan Penjelasannya" yang dapat kami sajikan. Baca juga artikel kebudayaan daerah Kalimantan Tengah menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.



Sumber : Selayang Pandang Kalimantan Tengah : Ir. Nugroho Yuananto

Bahasa Daerah Kalimantan Tengah Lengkap Penjelasannya

Bahasa Daerah Kalimantan Tengah Lengkap Penjelasannya

Bahasa Daerah Kalimantan Tengah Lengkap Penjelasannya - Masyarakat Kalimantan Tengah menggunakan bahasa lndonesia sebagai bahasa pengantar. Sebagian besar masyarakat Kalimantan Tengah (sekitar 60%) terutama di daerah perkotaan telah mengenal dan menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi, terutama sebagai bahasa pengantar di pemerintahan dan pendidikan. Pelajaran Bahasa Indonesia telah diajarkan kepada para siswa sejak di bangku sekolah dasar. Keberagaman etnis dan suku bangsa menyebabkan bahasa Indonesia dipengaruhi berbagai dialek.

Sebagian besar penduduk Kalimantan Tengah terdiri atas suku bangsa Dayak. Suku bangsa dayak sendiri terdiri atas beberapa subsuku bangsa. Mereka memiliki beberapa bahasa daerah. Bahasa Dayak Ngaju adalah bahasa Dayak yang paling luas digunakan di Kalimantan Tengah, terutama di daerah sungai Kahayan dan Kapuas. Bahasa Dayak Ngaju terbagi dalam berbagai dialek seperti bahasa Dayak Katingan dan Rungan. Selain itu, Bahasa Ma'anyan dan Ot Danum juga banyak digunakan. 

Bahasa Ma'anyan banyak digunakan di daerah aliran Sungai Barito dan sekitarnya, sedangkan bahasa Ot Danum banyak digunakan oleh suku Dayak Ot Danum di hulu Sungai Kahayan dan Kapuas. Kelompok masyarakat pendatang juga memberikan keragaman bahasa bagi masyarakat Kalimantan Tengah. 

Bahasa yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa Banjar. Hal ini dikarenakan memiliki kedekatan geografis dengan daerah Kalimantan Selatan yang mayoritas dihuni oleh suku (orang) Banjar, dan cukup banyak orang Banjar yang merantau ke Kalimantan Tengah. Bahasa lainnya adalah bahasa Jawa, bahasa Bugis, bahasa Batak, dan sebagainya yang dibawa para pendatang. 

Menurut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Tengah, bahasa daerah (lokal) terdapat di sebelas DAS meliputi sembilan bahasa dominan dan tiga belas bahasa minoritas yaitu: 

Bahasa Dominan:
1. Bahasa Melayu 
2. Bahasa Banjar 
3. Bahasa Ngaju 
4. Bahasa Maanyan 
5. Bahasa Ot Danum 
6. Bahasa Katingan 
7. Bahasa Bakumpai 
8. Bahasa Tamuan 
9. Bahasa Sampit 

Bahasa Kelompok Minoritas: 
1. Bahasa Mentaya
2. Bahasa Pembuang   
3. Bahasa Dayak Bara Injey
4. Bahasa Dusun Kalahien
5. Bahasa Balai  
6. Bahasa Bulik 
7. Bahasa Kadoreh 
8. Bahasa Mendawai 
9. Bahasa Waringin 
10. Bahasa Dusun Bayan 
11. Bahasa Dusun Tawoyan 
12. Bahasa Dusun Lawangan 
13. Bahasa Dayak Barean

Demikian Pembahasan tentang "Bahasa Daerah Kalimantan Tengah Lengkap Penjelasannya" yang dapat kami sampaikan. Baca juga artikel kebudayaan daerah Kalimantan Tengah menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.



Sumber : Selayang Pandang Kalimantan Tengah : Ir. Nugroho Yuananto

Contact Me

Name

Email *

Message *