Showing posts with label Musik Tradisional. Show all posts
Showing posts with label Musik Tradisional. Show all posts

Friday, December 29, 2017

8 Alat Musik Tradisional Kepulauan Bangka Belitung Lengkap, Gambar dan Penjelasannya

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki beberapa alat musik tradisional. Alat musik tradisional tersebut antara lain dambus, suling, gendang melayu, rebab, caklemong, gong, gambang, dan rebana. Berikut ini gambar dan penjelasan jenis-jenis alat musik tradisional  Kepulauan Bangka Belitung.

1. Dambus
Dambus adalah alat musik yang terbuat dari bahan kayu meranti atau gerunggang. Ada dua macam jenis dambus yaitu dambus besar dan dambus kecil. Kedua macam jenis dambus tersebut memiliki enam senar.

alat musik tradisional Dambus belitung

Dambus besar berukuran panjang 83 cm, lebar 14 cm, tebal 9-10 cm. Adapun panjang gagangnya 26 cm, panjang perut 28 cm, panjang kepala 25 cm. Dambus kecil berukuran panjang 12 cm, lebar 4 cm, dan tebal 3-3,5 cm. Panjang gagangnya 5,5 cm, panjang perut 5,5-6 cm, panjang kepala 5 cm, panjang tanduk 3 cm, lebar gagang 1,3 cm.

2. Suling
Suling adalah alat musik tiup kayu. Ciri suara suling lembut dan dapat dipadukan dengan alat musik lainnya dengan baik. Suling modern untuk para ahli umumnya terbuat dari perak, emas, atau campuran keduanya. Sementara itu, suling untuk pelajar umumnya terbuat dari nikel-perak atau logam yang dilapisi perak.

alat musik tradisional suling belitung

Suling konser standar ditalakan di C dan mempunyai jangkauan nada 3 oktaf dimulai dari middle C. Akan tetapi, pada beberapa suling untuk para ahli ada kunci tambahan untuk mencapai nada B di bawah middle C. Suling merupakan salah satu alat musik orkes yang tinggi, hanya piccolo yang lebih tinggi lagi dari suling. Piccolo adalah suling kecil yang ditalakan satu oktaf lebih tinggi dari suling konser standar. Piccolo juga umumnya digunakan dalam orkes. Suling konser disebut juga suling Boehm atau suling saja.

3. Gendang Melayu
Seperti gendang di daerah lain, gendang melayu termasuk alat musik pukul. Pada umumnya gendang terbuat dari kayu dengan selaput (membran) yang dapat menghasilkan bunyi jika dipukul. Ada berbagai ukuran gendang, yaitu gendang kecil, sedang, dan besar. Gendang kecil disebut rebana. Gendang sedang dan besar ada yang menyebut redap. Selain itu, ada juga gendang yang kedua sisinya ditutup dengan kulit rotan sedemikian rupa sehingga dapat dikencangkan dan dilonggarkan.

alat musik tradisional gendang melayu belitung

Cara memainkan gendang dengan dipukul baik dengan tangan saja atau dengan alat pemukul gendang. Gendang memiliki banyak fungsi, di antaranya pengiring tarian atau pencak silat, pembawa tempo atau penegasan dinamik sebuah orkes atau sebagai pelengkap saja untuk memeriahkan suasana.

4. Rebab
Alat musik Rebab telah lama dikenal oleh masyarakat Melayu Bangka Belitung, bahkan masyarakat Melayu Bangka Belitung menganggap keberadaan alat musik tradisional ini lebih dulu dikenal masyarakat daripada alat musik tradisional jenis lainnya. Keberadaan alat musik tradisional rebab ini tidak hanya sebagai hiburan atau pengiring lagu tradisional Bangka Belitung saja, dahulu alat musik ini juga digunakan sebagai media pengobatan yang dilakukan para dukun untuk mengobati orang sakit.

5. Caklemong
Alat musik tradisional Caklemong (kenong) merupakan alat musik perkusi yang dimainkan dengan cara dipukul. Alat musik ini dimainkan secara bersama-sama dengan alat musik tradisional lainnya yang terdapat di Bangka Belitung seperti gambang, rebab, gong, dambus dan suling untuk mengiringi pertunjukan tari piring dan tari lilin.

alat musik tradisional bangka belitung

6. Gong
Gong adalah alat musik tradisional yang terdapat disebagian besar wilayah Indonesia. Alat musik tradisional ini juga terdapat di daerah Kep. Bangka Belitung untuk mengiringi berbagai kesenian tradisional daerah ini. Istilah Gong diambil dari bunyi yang dihasilkan alat musik ini. Alat musik gong di daerah ini berukuran diameter 1 meter yang digantung dengan posisi vertikal. Dalam suatu pertunjukan gong dipukul untuk menandai permulaan dan akhiran sebuah lagu.

7. Gambangan
Gambang merupakan alat musik tradisional yang juga terdapat di daerah Bangka Belitung. Alat musik tradisional ini dibuat dari bilah-bilah kayu yang disusun pada grobogan yang berfungsi sebagai resonator. Gambang di daerah ini tersusun atas lima bilah kayu dengan ukuran berbeda. Setiap bilah kayu pada gambang akan menghasilkan nada melodis yang berbeda-beda ketika dipukul. Kayu yang biasa digunakan untuk membuat alat musik ini adalah jenis kayu meranti, kayu medang, atau kayu libut.

8. Rebana
Rebana adalah alat musik dengan membran semuka dan kulit mukanya dibuat dari kulit kambing. Apabila dimainkan, rebana itu diletakkan di atas tapak kaki pemainnya yang duduk bersila. Lutut kanan pemain dimasukkan ke dalam tubuh rebana sehingga mencecah kulit muka untuk menghasilkan bunyi yang lebih nyaring. Untuk menegangkan kulit rebana,  digunakan kayu baji yang diletakkan di bawah tubuh rebana dan juga seutas rotan kecil sebagai penyedak. 

alat musik tradisional rebana belitung

Alat musik Rebana di daerah Bangka Belitung biasanya dimainkan untuk mengiringi irama alat musik dambus yang melodis pada saat mengiringi berbagai kesenian tradisional daerah Bangka Belitung lainnya.






Sumber : Selayang Pandang Kepulauan Bangka Belitung : Nunung Yuli Eti
Read more

Monday, December 25, 2017

10 Alat Musik Tradisional Nusa Tenggara Timur, Lengkap Gambar dan Penjelasannya

Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki beragam jenis alat musik tradisional. Alat musik ini kebanyakan terbuat dari bahan hasil alam di daerah Nusa Tenggara Timur. Berbagai macam alat musik petik, tiup, maupun gesek banyak ditemukan di daerah ini. Meskipun alat musik ini memiliki bentuk yang sederhana namun bunyi yang dihasilkan cukup indah didengarkan. Berikut ini 10 alat musik tradisional dari Provinsi Nusa Tenggara Timur.

1. SASANDO
Sasando merupakan alat musik petik dari Nusa Tenggara Timur. Sasando pada masyarakat NTT berfungsi sebagai hiburan pribadi, pengiring kesenian tari, dan sebagai penghibur keluarga yang sedang mengadakan pesta. Pada awalnya alat musik sasando menggunakan tangga nada pentatonis yang dimainkan dengan cara Ofalngga, Teo Renda, Basili, Lendo Ndeo, Foto Boi, Batu Matia, Dae Muris, Te’o Tonak, Hela, Kaka Musu,  Tai Benu, dan Ronggeng.
     .
Sasando mengalami perkembangan pada abad 18. Sesuai tuntutan zaman penggunaan tangga nada pentatonis pada sasando diganti dengan tangga nada diatonis. Perkembangan sasando diatonis terdapat di daerah Kupang dengan jumlah dawai pada sasando diatonis yang cukup bervariasi, antara lain seperti sasando dengan 24 dawai, 28, 30, 32 dan 34 dawai. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya sekitar tahun 1960 untuk pertama kalinya sasando menggunakan listrik ciptaan pakar seniman sasando di Nusa Tenggara Timur yang bernama Edu Pah.

gambar alat musik tradisional ntt


2. HEO
Provinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai alat musik gesek yang unik bernama Heo. Heo merupakan salah satu alat musik tradisional masyarakat NTT yang dibuat dari bahan kayu sebagai tabung resonansi yang memiliki fungsi seperti tabung biola. Dawai yang digunakan pada alat musik ini terbuat dari usus kuskus yang telah dikeringkan dan menggunakan penggesek yang terbuat dari ekor kuda yang dirangkai pada busur kayu.

Alat musik Heo memiliki 4 dawai, masing-masing bernama Tain Mone, atrinya tali laki-laki (dawai 1, bernada sol ), Tain Ana, artinya tali anak (dawai 2, bernada re), Tain Feta, artinya tali perempuan (dawai 3, bernada la), dan Tain Enf, yang artinya tali induk (dawai 4, bernada do).

3. LEKO BOKO/ BIJOL
Leko Boko/ Bijol berasal dari Nusa Tenggara Timur. Alat musik ini terbuat dari Labu hutan sebagai tabung resonansi, bagian untuk merentangkan dawai menggunakan kayu. Dawai pada alat musik ini menggunakan usus kuskus dengan jumlah dawai sama dengan Heo, yaitu empat. Nama-nama dawai pada alat musik ini sama seperti yang ada pada alat musik Heo. Pada masyarakat Dawan alat musik ini berfungsi sebagai pengiring lagu pada saat pesta adat dan juga sebagai hiburan pribadi.

Penggunaan alat musik ini selalu berpasangan dengan alat musik Heo pada saat pertunjukan, sehingga di mana ada Heo, di situ ada Leko. Dalam penggabungan ini, Leko berperan sebagai pemberi harmoni, sedangkan Heo berperan sebagai pembawa melodi atau kadang-kadang sebagai pengisi (Filter). Syair nyanyian pada masyarakat Dawan umumnya berupa improvisasi dengan menuturkan tentang kejadian-kejadian yang sedang terjadi (aktual) maupun yang telah terjadi pada masa lampau. Dalam pertunjukan nyanyian ini sering disisipi dengan koa (semacam musik pop), koa ada dua macam, yaitu koa bersyair dan koa tak bersyair.

4. SOWITO
Sowito merupakan alat musik pukul atau petik. Alat musik bambu ini berasal dari kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Alat musik ini terbuat dari seruas bambu yang dicungkil kulitnya berukuran 2 cm yang kemudian diganjal dengan batangan kayu kecil. Cungkilan kulit bambu ini berfungsi sebagai dawai. Cara memainkan alat musik ini adalah dengan memukul menggunakan sebatang kayu sebesar jari tangan (panjangnya kira-kira 30 cm). Setiap ruas bambu pada alat musik ini menghasilkan satu nada. Untuk keperluan pengiringan, alat musik ini dibuat beberapa buah sesuai kebutuhan.

alat musik tradisional ntt


5. KETADU MARA 
Ketadu Mara berasal dari NTT. Alat musik ini merupakan alat musik petik dua dawai yang biasa digunakan untuk menghibur diri dan juga sebagai sarana menggoda hati wanita. Alat musik ini dipercaya pula dapat mengajak cicak bernyanyi dan juga suaranya disenagi makhluk halus.

6. SULING NTT
Pada umumnya seluruh kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki alat musik Suling Bambu. Salah satunya adalah Suling hidung yang terdapat di Sumba. Namanya demikian karena suling ini ditiup dari hidung. Sedangkan di Kabupaten Belu terdapat orkes Suling pembawa melodi (Suling kecil), dan Suling Pangiring yang memiliki bentuk silinder dengan bambu peniup berukuran kecil dan bambu pengatur nada yang berukuran besar. Suling melodi bernada 1 oktaf lebih, Suling pengiring bernada 2 oktaf. Dengan demikian untuk menciptakan harmoni atau akord, maka Suling alto bernada mi, tenor bernada sol, dan bass bernada do, atau suling alto bernada do.

Cara memainkan alat musik ini yaitu Suling sopran atau pembawa melodi seperti memainkan suling pada umumnya, dan suling pengiring sementara bambu peniup dibunyikan, maka bambu pengatur nada digerakkan turun-naik sesuai dengan nada yang dipilih. Kecuali pada suling bass, bambu peniup yang digerakkan turun-naik. Fungsi alat musik ini, yaitu untuk menyambut tamu atau untuk memeriahkan hari-hari nasional.

7. FOY DOA
Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur mempunyai banyak ragam kesenian daerah, antara lain alat musik Foy Doa. Seberapa lama usia alat musik ini tidaklah diketahui dengan pasti karena tidak ada peninggalan-peninggalan yang dapat dipakai untuk mengukurnya. Foy Doa berarti suling berganda. Alat musik ini terbuat dari buluh/bambu kecil yang bergandeng dua atau lebih.

Musik ini biasanya digunakan oleh para muda-mudi dalam permainan rakyat di malam hari dengan membentuk lingkaran. Sistem penalaan, nada-nada yang dihasilkan oleh alat musik ini adalah nada-nada tunggal dan nada-nada ganda atau dua suara. Hal ini tergantung selera si pemain musik Foy Doa. Bentuk syair, umumnya syair-syair dari nyanyian musik Foy Doa bertemakan kehidupan, sebagai contoh ”Kami bhodha ngo kami bhodha ngongo ngangi rupu-rupu, go tuka ate wi me menge" yang berarti “Kami harus rajin bekerja agar jangan kelaparan".

Alat musik ini dimainkan dengan cara meniup lubang peniup secara lembut dan memainkan jari-jari tangan kanan dan kiri dengan menutup lubang suara. Alat musik ini pada awalnya dimainkan secara sendiri. Sekitar tahun 1958, musisi di daerah setempat mulai memadukan dengan alat-alat musik lainnya, seperti Sowito, Thobo, Foy Pay Laba Dera, dan Laba Toka. Alat-alat musik tersebut berfungsi sebagai pengiring pada musik Foy Doa.

alat musik tradisional nusa tenggara timur


8. FOY PAY
Foy Pay merupakan alat musik tiup dari bambu. Alat musik ini dahulunya berfungsi untuk mengiringi lagu-lagu tandak, seperti halnya alat musik Foy Doa. Dalam perkembangannya, alat musik ini selalu berpasangan dengan Foy Doa. Nada-nada yang dihasilkan oleh alat musik Foy Pay yaitu do, re, mi, fa, sol.

9. KNOBE KHABETAS
Alat musik ini bentuknya menyerupai busur panah. Cara memainkannya adalah salah satu bagian ujung busur ditempelkan di antara bibir atas dan bibir bawah. Kemudian, udara dikeluarkan dari kerongkongan dan tali busur dipetik dengan jari. Selain digunakan untuk hiburan pribadi, alat musik ini digunakan juga untuk upacara adat seperti Napoitan Li’ana yaitu bayi yang baru lahir dilarang keluar rumah sebelum 40 hari.

10. KNOBE OH
Alat musik ini terbuat dari kulit bambu dengan ukuran panjang kurang lebih 12,5 cm. Pada bagian tengah bambu sebagian dikerat menjadi belahan bambu yang memanjang sebagai vibrator.



Sumber : Selayang Pandang Nusa Tenggara Timur : Gandes Cukat Permaty, S. Pd.
Read more

7 Alat Musik Tradisional Kepulauan Riau Lengkap, Gambar dan Penjelasannya

Setiap daerah di Indonesia umumnya mempunyai alat musik daerah atau yang lebih dikenal dengan sebutan alat musik tradisional. Jenis-jenis alat musik tradisional yang dimiliki setiap daerah berbeda-beda. Alat-alat musik ini biasanya digunakan untuk mengiringi berbagai kesenian daerah setempat.

Beberapa alat musik tradisional yang terdapat di Kepulauan Riau mungkin saja memiliki kesamaan dengan alat musik dari suku Melayu di Provinsi Riau, mengingat provinsi ini merupakan pemekaran dari Provinsi Riau. Berikut ini beberapa alat musik traidisional yang dapat ditemukan di Kepulauan Riau.

1. BIOLA

Biola adalah sebuah alat musik gesek berdawai. Nada terendah pada biola adalah nada G. Biola memiliki nada tertinggi di antara keluarga biola, yaitu viola dan cello. Alat musik gesek berdawai yang lainnya adalah bas. Secara teknis bas masuk ke dalam keluarga viola. Kertas musik yang dipakai pada biola hampir selalu ditulis pada kunci G. Sebuah nama yang lazim dipakai untuk biola ialah fiddle. Biola seringkali juga disebut fiddle jika digunakan untuk memainkan lagu-lagu tradisional.


2. REBAB

Rebab berfungsi sebagai alat musik penghibur diri. Rebab dimainkan untuk mengiringi nyanyian yang dikumandangkan oleh pemainnya. Selain itu, alat musik ini digunakan dalam acara meratok (meratap), yaitu mengiringi dari tempat tersembunyi ketika sanak keluarga menangisi anggota keluarga yang meninggal. Pada pertunjukan seni tari rebab menjadi alat musik yang utama. Pada awal pertunjukan Mak Yong ketika memasuki babak "menghadap rebab", alat musik ini dianggap sangat penting.

alat musik tradisional kepulauan riau


3. GAMBUS

Gambus merupakan salah satu alat musik petik dari Kepulauan Riau. Fungsi alat musik ini adalah sebagai pengiring tarian Zapin dan pengiring acara syukuran. Nyanyian yang diiringi dengan alat musik ini identik dengan nyanyian bernafaskan islam. Namun, untuk mengiringi penyanyi, digunakan pula alat musik lain seperti marwas untuk memperindah irama nyanyian. Bentuk alat musik marwas yang unik seperti bentuk buah labu siam atau labu air menjadikannya mudah dikenali. Pada masa kesultanan Malaka alat musik gambus dianggap penting dalam mengiringi nyanyian Ghasal dari Timur Tengah.


4. MARWAS

Alat musik marwas merupakan alat musik sejenis gendang dengan ukuran yang lebih kecil dari gendang biasa. Alat musik ini terbuat dari kayu cempedak sebagai tabung resonansi, kulit kambing sebagai membran alat bunyi, dan rotan sebagai pengikat kulit. Marwas merupakan salah satu alat musik pengiring dalam tarian musik Zapin, yaitu berfungsi untuk menjaga kestabilan intro dan melahirkan harmoni musik. Marwas juga dapat berfungsi sebagai roffle ketukan atau mat. Dalam pentas Mak yong alat musik ini digunakan sebagai peningkah.

gambar alat musik tradisional kepri

5. NAFIRI

Alat musik tiup yang berasal dari Riau ini memiliki bentuk seperti terompet. Nafiri pada masyarakat pemiliknya berfungsi sebagai pengiring kesenian tari tradisional, pengiring kesenian Mak Yong dan kesenian lainnya dari Kepulauan Riau, alat musik ini dahulu juga berfungsi sebagai penobatan raja ketika Riau masih berstatus kerajaan, fungsi Nafiri selanjutnya adalah sebagai tanda terjadinya bencana, peperangan, kematian, dan lain-lain.

Alat musik ini terbuat dari kayu dengan ukuran kurang lebih 25-45 cm. Antara batang dan tempat tiupnya terdapat batas yang terbuat dari tepurung kelapa. Pada lubang tiup Nafiri terdapat semacam lidah yang terbelah dua yang berfungsi sebagai vibrator bunyi, biasanya terbuat dari daun kelapa muda atau ruas bambu kering. Pada bagian pangkal keluarnya suara berbentuk setengah bujur telur dan berongga agar volume suara lebih besar. Musik yang keluar dari alat musik ini terdengar seperti meronta-ronta daripada melodi yang jelas didengarkan.

6. GAMBANG CAMAR

Gambang Camar merupakan alat musik pukul jenis xilophone yang terdapat di daerah Riau dan kepulauan Riau. Alat musik ini terbuat dari kayu, yaitu papan kayu sebagai resonansi dan 6 bilah kayu hitam penghasil bunyi yang ditempatkan pada papan kayu resonansi. Sepertihalnya alat musik "Gambang" di Jawa, Gambang Camar dimainkan dengan cara memukul bilah-bilah kayu menggunakan pemukul khusus dari kayu. Pada bilah panjang akan menghasilkan nada yang rendah, sedangkan bilah pendek menghasilkan nada yang lebih tinggi. Gambang Camar dimainkan sebagai hiburan sehari-hari ataupun pada saat peringatan hari besar.

alat musik tradisional kepri

7. GONG

Gong merupakan alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara dipukul. Jenis alat musik tradisional ini terdapat di hampir sebagian wilayah Indonesia dengan sebutan yang berbeda-beda dan suara yang dihasilkan pun berbeda pula. Masyarakat di daerah Kepulauan Riau mengunakan gong sebagai pengiring tarian tradisional, teater tradisioal dan berbagai macam kesenian tradisional Kepulauan Riau lainnya. Alat musik ini terbuat dari logam kuningan atau perunggu dengan bentuk bulat besar serta  terdapat cekungan pada bagian tengahnya. Agar menghasilkan suara ketika dipukul , alat musik ini diletakkan menggantung pada penyangga dari kayu.

Selain ke-7 jenis alat musik tradisional di atas, di Provinsi Kepulauan Masih terdapat beberapa jenis alat musik tradisional lainnya, antara lain seperti Rebana, Akordeon, Bebano, Gedombak, Gendang Nobat, Gendang Silat, Gendang Panjang, Genggong, Kompang, dan Rebana Ubi.  

Demikian ulasan tentang "7 Alat Musik Tradisional Kepulauan Riau Lengkap, Gambar dan Penjelasannya" yang dapat kami sampaikan. Baca juga artikel kebudayaan Daerah Kepulauan Riau menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.




Sumber : Selayang Pandang Kepulauan Riau : Ir. Nugroho Yuananto
Read more

Sunday, December 24, 2017

7 Alat Musik Tradisional Kalimantan Tengah Lengkap, Gambar dan Penjelasannya

Provinsi Kalimantan Tengah memiliki beberapa alat musik tradisional. Beberapa alat musik yang terdapat di provinsi ini antara lain kecapi, sulim bahie, ketambung, gendang, garantung, dan salung. Berikut ini uraian tentang 7 alat musik tradisional Kalimantan Tengah lengkap, gambar serta penjelasannya.

1. KACAPI
Kecapi atau kacapi berbentuk seperti dayung berdawai dua. Kecapi terbuat dari bahan kayu ringan (kayu jalutung) serta bernada minor. Kecapi termasuk alat musik petik yang dimainkan seperti memainkan gitar ini terdiri atas dua atau tiga dawai atau senar. Dahulu dawai atau senar kecapi dibuat dari rotan yang diraut halus dan dikencangkan melintang di atas rongga resonansi. Sekarang senar terbuat dari tali nilon atau kawat baja untuk senar gitar.

Kacapi biasa digunakan untuk mengiringi beberapa kesenian daerah. Salah satunya yaitu pantun yang disebut Karungut dan seni tari seperti Manganjan. Dahulu merupakan salah satu alat musik untuk mengiringi Tari Kinyah atau tarian perang karena dianggap mampu menjadi semacam ”roh” untuk memberi kekuatan dan keberanian kepada para pemuda dan lelaki Dayak. Untuk mengiringi tarian perang atau Kinyah tersebut, kecapi biasanya dikombinasikan dengan rebab, suling, kangkanong atau katambung. Permainan kacapi biasa disebut mangacaping.

alat musik tradisional kalimantan tengah


2. SULIM BAHIE
Sulim bahie berasal dari dua kata dari bahasa Dayak Siang, yaitu sulim yang dalam bahasa Dayak Siang berarti sejenis suling atau terompet, dan bahie yang berarti angin. Sulim bahie berarti alat bunyi berupa sejenis terompet yang dapat menimbulkan bunyi karena angin yang berembus. Sulim bahie ini dapat dikategorikan alat yang diciptakan dari kearifan lokal Dayak Siang.

Bahan yang digunakan untuk membuat sulim bahie umumnya berasal dari bambu (humbang), yaitu humbang lamang (bambu untuk membuat lemang). Humbang lamang itu disebut tolung. Dipilih tolung yang paling besar, dengan ukuran garis tengah pada bagian pangkal sebesar 15-20 cm. Peralatan bunyi-bunyian ini biasanya dimiliki masyarakat suku Dayak Siang yang bermukim di Kecamatan Tanah Siang, Kecamatan Laung Tuhup, Kecamatan Sumber Barito, dan Kecamatan Permata Intan di Kabupaten Murung Raya.

3. KATAMBUNG
Katambung, merupakan salah satu alat musik tetabuhan dari kelompok membranophone tradisional suku Dayak, selain gondang tatau dan gondang bontang yang berukuran lebih besar. Katambung umumnya dibuat dari berbagai jenis kayu yang kuat namun ringan, tetapi ada juga katambung yang dibuat dari kayu ulin. Untuk membran yang akan menjadi bagian dari alat bunyi, biasanya menggunakan kulit mengkas, sejenis tupai berukuran besar.

Alat musik katambung biasanya dimainkan secara berkelompok yang terdiri atas lima sampai tujuh orang dengan pemimpin kelompok yang disebut upu. Pemimpin ini duduk atau berada di tengah kelompok pemusik dan diapit oleh para pendamping  di kiri-kanan upu yang disebut panggapit. Sebagai pemimpin kelompok pemusik, upu akan menyanyikan lagu atau syair. Kemudian, akan dilantunkan kembali oleh para panggapit. Syair yang dinyanyikan oleh upu diulang dengan pukulan atau tabuhan katambung.

gambar alat musik tradisional kalimantan tengah

Katambung identik dengan upacara masyarakat Dayak, tidak saja untuk upacara atau ritual kematian dan tiwah. Akan tetapi juga untuk upacara-upacara lain yang berhubungan dengan kehidupan manusia, termasuk upacara penyambutan tamu dengan potong pantan, atau mengiringi Tari Manasai sebagai tari pergaulan khas masyarakat Dayak.

4. GANDANG
Alat musik gandang sering digunakan sebagai pengiring tari dan lagu yang dinyanyikan masyarakat Dayak. Permainan alat musik gandang dipakai untuk melengkapi perangkat musik lain (garantung dan kakanong) pada saat memainkannya. Gandang terbuat dari kayu yang diberi rongga. Rongga atau lubang kayu ditutup dengan kulit binatang (kulit sapi, sat kambing, atau binatang lainnya) berukuran besar sebagai membran atau selaput getarnya. Sedangkan rotan dipakai sebagai pengikat dan pengencang kulit.

Masyarakat Dayak mengenal beberapa jenis gandang yang memiliki ukuran berbeda dan fungsi yang berbeda, diantaranya seperti gandang tatau, gandang bontang, dan gandang manca.

5. GARANTUNG
Garantung, juga disebut sebagai gong atau agung, merupakan salah satu alat musik tradisional suku Dayak yang dibuat dari bahan logam besi, kuningan, atau perunggu. Di kalangan masyarakat Dayak, garantung dipercaya sebagai salah satu benda adat yang diturunkan dari Lewu Tatau dan dipercayai masyarakat dayak sebagai salah satu alat komunikasi dengan roh leluhur. Garantung juga sering dipakai untuk menyapaikan pemberitahuan tentang adanya suatu acara atau pesta yang dilaksanakan oleh salah satu keluarga. Dengan membunyikan garantung dengan nada tertentu informasi dari satu kampung ke kampung lain dapat didengar. Selain berfungsi untuk menyampaikan pemberitahuan dari kampung ke kampung pada masyarakat Dayak Kalimantan Tengah, garantung juga digunakan masyarakat dayak pada saat upacara adat tiwah. Masyarakat dayak percaya permainan musik garantung akan mengantarkan roh orang meninggal ke alam roh.

Suku Dayak memiliki empat jenis garantung dengan lima nada dasar atau laras, yaitu garantung bandih dengan bentuknya yang kecil tetapi memiliki nada yang tinggi, garantung papar berukuran besar dengan nada dasar A, garantung lisung berukuran sedang dengan nada dasar D atau C, serta sebuah garantung tantawak berukuran kecil dan bernada dasar G atau E.

6. SALUNG
Salung dikenal masyarakat Kalimantan Tengah sebagai salah satu alat musik tradisional yang memberikan suara indah saat dimainkan dan memberi warna pada harmoni musik daerah. Alat musik salung tersebut dibuat dari bilah-bilah bambu yang sudah tua.

Dahulu, salung tidak dikenal sebagai salah satu alat musik tradisional, tetapi hanya dimainkan sebagai alat hiburan di ladang saat menjaga huma atau sebagai salah satu alat komunikasi untuk memberi kode atau tanda kepada sesama penjaga huma di ladang. Biasanya salung terdiri atas lima nada dasar, yaitu nada dasar C untuk do, nada D untuk re, E untuk mi, G untuk sol, dan A untuk nada la. Dengan nada-nada tersebut, salung akan bisa dimainkan bersama alat musik lain.

alat musik pukul kalimantan tengah


7. KANGKANONG (Kenong)
Kangkanong merupakan alat musik pukul sejenis kenong (Jawa) dengan jumlah lima buah yang terbuat dari logam perunggu. Cara memainkan alat musik ini adalah dipukul sesuai irama yang dikehendaki seperti halnya kenong dan alat musik sejenis di daerah lainnya. Instrumen Alat musik ini berjumlah 5 buah yang ditata berjajar diatas tali pada kotak kayu layaknya kenong di daerah Jawa.

Kangkanong atau Kanong merupakan penyebutan umum alat musik ini pada masyarakat suku Dayak Ma'anyan, Dayak Ngaju, Dayak Lawangan, Taboyan, dan Dusun. Sedangkan suku Dayak Siang menyebutnya dengan sebutan Klentang.

Selain 7 jenis alat musik tradisional di atas, di Provinsi Kalimantan Tengah juga terdapat beberapa jenis alat musik tradisional lain yang di digunakan oleh masyarakatnya, alat musik tradisional tersebut antara lain seperti Sarun (Saron), Suling Balawung, Suling Bahalang, Tote/ Serupai/ Serpai, Japen, Gurinding, dan Rebab.



Sumber : Selayang Pandang Kalimantan Tengah : Ir Nugroho Yuananto
Read more

Wednesday, December 13, 2017

Alat Musik Tradisional Daerah Lampung Lengkap, Gambar dan Penjelasannya

Alat Musik Tradisional Daerah Lampung 

Seni musik tradisional Provinsi Lampung bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu seni musik Lampung Pepadun dan seni musik Lampung Peminggir (Pesisir). Seni musik tradisional ini dipakai dalam berbagai upacara adat atau acara-acara resmi yang berkembang dalam masyarakat Lampung.

1. KULINTANG
Masyarakat Lampung Pepadun sering menggunakan alat musik kulintang. Alat musik ini serupa dengan gamelan Jawa, tetapi tidak lengkap. Seperangkat kulintang terdiri atas beberapa alat musik tabuh dan pukul yang terbuat dari perunggu. Alat musik itu biasanya ditabuh untuk mengiringi acara-acara adat seperti Tabuh Sanak Miwang Diljan, Tabuh Sereliyih Adak Deh, Tabuh Serenundung Lambung, Tabuh Tori, Tabuh Muli Turun di Sessat, Tabuh Baris untuk Gubar Sangget, dan Tabuh Damang Kusen. Sebagian masyarakat juga mengenalnya sebagai alat musik talo balak.

gambar seni musik kulintang

Begitu pentingnya alat musik ini sehingga di beberapa komunitas masyarakat Lampung dikenal kulintang dengan nama berbeda. Sebagai contoh kulintang Kacak Tanding (Terbanggi Besar), kulintang Gemaraw (Batu Berak), kulintang Cakra (Gunung Wani), kulintang Ngabehi Kibang (Menggala), dan kulintang Sakti Pagar Dewa (Menggala). Tiap-tiap kulintang ini memiliki nilai sejarah dan adat istiadat yang sangat penting bagi masyarakatnya. 

2. GAMBUS
Sementara itu, dalam tradisi masyarakat Lampung Pesisir, baik untuk acara resmi atau upacara adat, seni musik yang paling menonjol yaitu seni musik gambus. Seni musik ini diperkirakan dibawa oleh orang-orang Banten. Seni musik gambus dimainkan dalam bentuk permainan orkes. Alat musik yang digunakan adalah terbang, marakas, banggo, dan lain-lain.

gambar seni musik gambus

Dalam tradisi masyarakat Lampung juga berkembang berbagai jenis tetabuhan atau bunyi-bunyian seperti banekh, medang khulang, kakupak, kakiting, kakenong, kalintung (balintung), sekhunai, dan ginggung. Ada juga alat musik tiup seperti serdam (seruling). Berkembang juga alat musik pukul, seperti kerenceng (terbangan), sekhdap, bekhudah, talo balak, dan cetik (kulintang pekhing). Selain itu, dapat juga ditemui alat musik petik, seperti gitar tunggal, gambus lunik, dan gambus anak buha. Berbagai alat musik ini masih bisa ditemui dalam berbagai upacara adat atau pertunjukan seni tradisional lainnya, seperti tari, pantun, dan lagu-lagu daerah.

3. ORGEL
Adakah yang pernah mendengar orgel? Orgel merupakan seni musik tradisional Lampung untuk mengiringi pementasan tari Payung. Organ menjadi alat musik utama dalam pementasan seni musik ini. Selain itu, ada juga seruling dan gendang yang menjadi bagian dari seni musik orgel. Orgel merupakan jenis musik tradisional Lampung yang sudah mendapat pengaruh budaya Islam dan Eropa.

gambar seni musik orgel

Demikian pembahasan tentang "Alat Musik Tradisional Daerah Lampung Lengkap, Gambar dan Penjelasannya" yang dapat kami sampaikan. Baca juga artikel kebudayaan Daerah Lampung menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.



Sumber : Selayang Pandang Lampung : Giyarto
Read more

4 Jenis Alat Musik Tradisional Sumatera Barat Lengkap, Gambar dan Penjelasannya

Alat Musik Tradisional Sumatera Barat

1. Saluang
Alat Musik tradisional Minangkabau adalah saluang. Alat musik ini termasuk alat musik tiup yang terbuat dari bambu, seperti suling. Keistimewaan para pemain saluang ini adalah dapat memainkan saluang dengan meniup dan menarik nafas bersamaan. Saluang Darek adalah alat musik tradisional di daerah Darek yang terbuat dari sejenis bambu tipis berwarna kuning gading. Alat musik ini dimainkan dengan ringan oleh satu atau dua pendendang.

saluang alat musik tradisional sumatera barat

2. Bansi
Di daerah pesisir Sumatera Barat masyarakat mengenal bansi yang mirip dengan saluang. Bahannya terbuat dari bambu tipis, tetapi lebih pendek dari saluang. Panjangnya lebih kurang 33,5-36 cm dengan garis tengah antara 2,5-3 cm. Bansi digunakan untuk mengiringi berbagai jenis lagu tradisional dan modern karena mempunyai lubang nada lebih lengkap, yaitu tujuh buah. Sebagai alat musik tunggal bansi juga dapat dimainkan dengan alat musik lainnya untuk mengiringi nyanyian dan tarian.

3. Talempong
Talempong adalah sebuah alat musik yang bentuknya hampir sama dengan gamelan dari Jawa. Talempong ada yang terbuat dari kuningan, tetapi ada pula yang terbuat dari kayu dan batu. Talempong berbentuk bundar. Pada bagian bawahnya berlubang. Pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol. Bundaran yang menonjol tersebut berdiameter lima sentimeter dan berguna sebagai tempat tangga nada. Pemain talempong biasanya memukul permukaan talempong dengan sepasang kayu untuk menghasilkan bunyi. Talempong biasanya digunakan untuk mengiringi tari Piring, tari Pasambahan, dan tari Gelombang.

gambar talempong alat musik tradisional sumatera barat

4. Rabab
Rabab adalah alat musik gesek yang sering digunakan tukang dendang ketika menyampaikan ceritanya kepada penonton. Di dalam masyarakat Pesisir Selatan terdapat beberapa istilah, seperti rabab, barabab, dan tukang rabab. Rabab adalah alat musik gesek, seperti biola. Barabab adalah bercerita sambil diiringi musik biola, sedangkan tukang rabab adalah orang yang memainkan alat musik rabab itu sendiri. Kesenian rabab ini awalnya hidup di masyarakat Pesisir Selatan, lalu berkembang ke daerah sekitarnya. Oleh karena itu, kesenian rabab sering disebut Rabab Pasisie.

gambar rabab alat musik tradisional sumatera barat

Bentuk kesenian rabab ini juga memiliki kesamaan dengan rebab yang dimainkan masyarakat Pariaman. Akan tetapi, jenis biola dan unsur yang dimiliki biolanya juga berbeda dengan biola yang dimiliki pada kesenian masyarakat Pesisir Selatan. Rabab yang dimainkan masyarakat Pariaman sebagian bahannya dari tempurung. Rababnya pun lebih dikenal dengan sebutan ‘Rabab Pariaman’. Bunyi yang dihasilkan juga berbeda. Rabab Pasisie suaranya agak lebih nyaring daripada rabab Pariaman.

Selain ke-4 jenis alat musik tradisional Sumatera Barat yang dapat kami sampaikan di atas, di Provinsi ini masih terdapat beberapa macam alat musik tradisional lainnya, diantaranya seperti Gendang Tabuik, Serunai, Papuik Tanduak, Tambua, dan Papuik Batang Padi.

Demikian ulasan tentang "4 Jenis Alat Musik Tradisional Sumatera Barat Lengkap, Gambar dan Penjelasannya" yang dapat kami sampaikan. Baca juga artikel kebudayaan Dearah Sumatera Barat menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.




Sumber : Selayang Pandang Sumatra Barat : Purwati
Read more

Alat Musik Tradisional Aceh Lengkap, Gambar dan Penjelasannya

Alat Musik Tradisional Aceh Lengkap

Provinsi NAD memiliki beberapa alat musik tradisional. Alat musik tradisional tersebut antara lain serune kalee, gendang (geundrang), canang, dan rapai.

1. SERUNE KALEE
Serune kalee adalah instrumen tiup tradisional sejenis klarinet. Alat musik ini terdapat di daerah Pidie, Aceh Utara, Aceh Besar, dan Aceh Barat. Alat ini terbuat dari kayu. Bagian pangkalnya kecil sementara di bagian ujungnya besar menyerupai corong. Di bagian pangkal terdapat piringan penahan bibir peniup yang terbuat dari kuningan yang disebut perise.

gambar serune kalee alat musik tradisional aceh

Serune ini mempunyai tujuh lubang nada. Selain itu, terdapat lapis kuningan dan sepuluh ikatan dari tembaga yang disebut klah (ring). Fungsinya sebagai pengamanan dari kemungkinan retak atau pecah badan seru ne tersebut. Alat musik ini biasanya digunakan bersama gendang dan rapai baik dalam upacara-upacara maupun dalam mengiringi tarian-tarian tradisional.

2. GENDANG (Geundrang
Gendang (Geundrang) terdapat hampir di seluruh Provinsi NAD. Gendang ini terbuat dari kayu nangka, kulit kambing, dan rotan. Pembuatan gendang dengan, melubangi kayu nangka yang berbentuk silinder sedemikian rupa sehingga badan gendang menyerupai bambam. Pada permukaan lingkarannya (kiri-kanan) dipasangi kulit kambing. Sebelumnya, telah dibuatkan ringnya dari rotan dengan ukuran persis seperti ukuran lingkaran gendangnya.

gambar geundrang alat musik tradisional aceh

Untuk mengencangkan permukaan kulit geundrang diberi tali yang saling menghubungkan antara kulit gendang bagian kanan dan kulit gendang bagian kiri dengan tali yang terbuat dari kulit. Sebagai pemukul gendang digunakan kayu yang dibuat khusus dengan bentuk ujung pemukul yang dibengkokkan. 

3. CANANG
Canang termasuk salah satu alat musik pukul tradisional Aceh yang terdapat pada kelompok masyarakat di daerah Gayo, Alas, dan Tamiang. Masyarakat Aceh menyebut alat musik ini dengan sebutan "Canang Trieng", Masyarakat Aceh Gayo menyebutnya dengan sebutan "Teganing" Masyarakat Aceh Alas menyebutnya dengan "Kecapi Olah", sedangkan Tamiang menyebutnya dengan "Kecapi".

gambar canang alat musik tradisional aceh

Alat musik ini terbuat dari logam perunggu atau kuningan dengan bentuk mirip gong berukuran kecil yang diberi lubang pada bagian samping sebagai lobang tali yang diikatkan pada kayu. Papan kayu yang dibuat sebagai penyangga alat musik ini berbentuk persegi, dengan fungsi agar canang yang diikat dengan tali dapat mengabang pada tali sehingga menghasilkan bunyi.

4. RAPAI
Rapai sejenis alat instrumen seperti gendang. Rapai terbuat dari bahan kayu keras dan kulit lembu. Kayu yang biasanya dipakai adalah kayu nangka yang dibulatkan dan dibuat lubang dibagian tengahnya yang disebut baloh. Baloh dibuat dengan bentuk bulat tabung pendek yang bentuk lingkaran atasnya lebih besar daripada lingkaran bawahnya. Kulit lembu digunakan untuk menutup baloh bagian atas yang dibalut dengan rotan sebagai penjepit (sidak) dan sebagai pengatur tegangan kulit.

gambar rapai alat musik tradisonal aceh

Rapat digunakan sebagai alat musik pukul pada upacara-upacara terutama yang berhubungan dengan keagamaan, perkawinan, kelahiran, dan permainan tradisional yaitu debus. Cara memainkan rapai adalah memukulnya dengan tangan dan biasanya dimainkan oleh kelompok (grup). Pemimpinnya disebut syeh atau kalipah.

5. ARBAB
Alat musik Arbab berasal dari Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Alat musik ini terdiri dari 2 bagian, yaitu Arbabnya sendiri (alat musik induk) dan penggeseknya (stryk stock) bahasa daerah disebut Go Arab.

gambar arbab alat musik tradisional aceh

Alat musik ini memakai bahan tempurung kelapa, kulit kambing, dan dawai. Alat musik ini pernah berkembang di daerah Pidie, Aceh Besar dan Aceh Barat. Arbab ini dipertunjukkan pada acara-acara keramaian rakyat,  seperti hiburan rakyat,  pasar malam,  dan sebagainya. Kesenian ini sekarang sudah jarang sekali dijumpai, dan diperkirakan sudah mulai punah. Kesenian ini terakhir dapat dilihat pada zaman pemerintahan Belanda dan pendudukan Jepang.

6. CELEMPONG
Celempong adalah alat musik tradisional yang terdapat di daerah kabupaten Tamiang. Alat musik ini terdiri dari beberapa potongan kayu. Cara memainkan alat ini yaitu disusun di antara kedua kaki pemainnya.

gambar celempong alat musik tradisional aceh

Celempong dimainkan oleh kaum perempuan terutama gadis-gadis, tapi sekarang hanya orang tua (perempuan) saja yang dapat memainkannya dengan sempurna. Celempong juga digunakan sebagai iringan tari Inai. Celempong diperkirakan telah berusia lebih dari 100 tahun berada di daerah Tamiang.

7. TAMBO
Tabo merupakan alat musik pukul sejenis tambur. Alat musik ini terbuat dari bahan kayu Bak Iboh (batang iboh), kulit sapi dan rotan yang dipakai untuk mengikat dan meregangkan kulit. Alat musik ini dahulu berfungsi sebagai penanda waktu sholat seperti bedug. Dahulu tabo juga dipakai sebagai alat komunikasi untuk mengumpulkan masyarakat ke Meunasah pada saat acara perkumpulan kampung.

gambar tambo alat musik tradisional aceh

Selain 7 jenis alat musik tradisional Aceh di atas, di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam masih terdapat beberapa jenis alat musik tradisional lainnya, diantaranya seperti Bangsi Alas, Bereguh, Tak Tok Trieng, dan Teganing.

Demikian ulasan tentang "Alat Musik Tradisional Aceh Lengkap, Gambar dan Penjelasannya" yang dapat kami sajikan. Baca juga artikel kebudayaan Daerah Aceh menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.



Sumber : Selayang Pandang Nanggroe Aceh Darussalam : Nunung Yuli Eti
Read more