Showing posts with label Nusa Tenggara Timur. Show all posts
Showing posts with label Nusa Tenggara Timur. Show all posts

Monday, December 25, 2017

10 Alat Musik Tradisional Nusa Tenggara Timur, Lengkap Gambar dan Penjelasannya

Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki beragam jenis alat musik tradisional. Alat musik ini kebanyakan terbuat dari bahan hasil alam di daerah Nusa Tenggara Timur. Berbagai macam alat musik petik, tiup, maupun gesek banyak ditemukan di daerah ini. Meskipun alat musik ini memiliki bentuk yang sederhana namun bunyi yang dihasilkan cukup indah didengarkan. Berikut ini 10 alat musik tradisional dari Provinsi Nusa Tenggara Timur.

1. SASANDO
Sasando merupakan alat musik petik dari Nusa Tenggara Timur. Sasando pada masyarakat NTT berfungsi sebagai hiburan pribadi, pengiring kesenian tari, dan sebagai penghibur keluarga yang sedang mengadakan pesta. Pada awalnya alat musik sasando menggunakan tangga nada pentatonis yang dimainkan dengan cara Ofalngga, Teo Renda, Basili, Lendo Ndeo, Foto Boi, Batu Matia, Dae Muris, Te’o Tonak, Hela, Kaka Musu,  Tai Benu, dan Ronggeng.
     .
Sasando mengalami perkembangan pada abad 18. Sesuai tuntutan zaman penggunaan tangga nada pentatonis pada sasando diganti dengan tangga nada diatonis. Perkembangan sasando diatonis terdapat di daerah Kupang dengan jumlah dawai pada sasando diatonis yang cukup bervariasi, antara lain seperti sasando dengan 24 dawai, 28, 30, 32 dan 34 dawai. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya sekitar tahun 1960 untuk pertama kalinya sasando menggunakan listrik ciptaan pakar seniman sasando di Nusa Tenggara Timur yang bernama Edu Pah.

gambar alat musik tradisional ntt


2. HEO
Provinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai alat musik gesek yang unik bernama Heo. Heo merupakan salah satu alat musik tradisional masyarakat NTT yang dibuat dari bahan kayu sebagai tabung resonansi yang memiliki fungsi seperti tabung biola. Dawai yang digunakan pada alat musik ini terbuat dari usus kuskus yang telah dikeringkan dan menggunakan penggesek yang terbuat dari ekor kuda yang dirangkai pada busur kayu.

Alat musik Heo memiliki 4 dawai, masing-masing bernama Tain Mone, atrinya tali laki-laki (dawai 1, bernada sol ), Tain Ana, artinya tali anak (dawai 2, bernada re), Tain Feta, artinya tali perempuan (dawai 3, bernada la), dan Tain Enf, yang artinya tali induk (dawai 4, bernada do).

3. LEKO BOKO/ BIJOL
Leko Boko/ Bijol berasal dari Nusa Tenggara Timur. Alat musik ini terbuat dari Labu hutan sebagai tabung resonansi, bagian untuk merentangkan dawai menggunakan kayu. Dawai pada alat musik ini menggunakan usus kuskus dengan jumlah dawai sama dengan Heo, yaitu empat. Nama-nama dawai pada alat musik ini sama seperti yang ada pada alat musik Heo. Pada masyarakat Dawan alat musik ini berfungsi sebagai pengiring lagu pada saat pesta adat dan juga sebagai hiburan pribadi.

Penggunaan alat musik ini selalu berpasangan dengan alat musik Heo pada saat pertunjukan, sehingga di mana ada Heo, di situ ada Leko. Dalam penggabungan ini, Leko berperan sebagai pemberi harmoni, sedangkan Heo berperan sebagai pembawa melodi atau kadang-kadang sebagai pengisi (Filter). Syair nyanyian pada masyarakat Dawan umumnya berupa improvisasi dengan menuturkan tentang kejadian-kejadian yang sedang terjadi (aktual) maupun yang telah terjadi pada masa lampau. Dalam pertunjukan nyanyian ini sering disisipi dengan koa (semacam musik pop), koa ada dua macam, yaitu koa bersyair dan koa tak bersyair.

4. SOWITO
Sowito merupakan alat musik pukul atau petik. Alat musik bambu ini berasal dari kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Alat musik ini terbuat dari seruas bambu yang dicungkil kulitnya berukuran 2 cm yang kemudian diganjal dengan batangan kayu kecil. Cungkilan kulit bambu ini berfungsi sebagai dawai. Cara memainkan alat musik ini adalah dengan memukul menggunakan sebatang kayu sebesar jari tangan (panjangnya kira-kira 30 cm). Setiap ruas bambu pada alat musik ini menghasilkan satu nada. Untuk keperluan pengiringan, alat musik ini dibuat beberapa buah sesuai kebutuhan.

alat musik tradisional ntt


5. KETADU MARA 
Ketadu Mara berasal dari NTT. Alat musik ini merupakan alat musik petik dua dawai yang biasa digunakan untuk menghibur diri dan juga sebagai sarana menggoda hati wanita. Alat musik ini dipercaya pula dapat mengajak cicak bernyanyi dan juga suaranya disenagi makhluk halus.

6. SULING NTT
Pada umumnya seluruh kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki alat musik Suling Bambu. Salah satunya adalah Suling hidung yang terdapat di Sumba. Namanya demikian karena suling ini ditiup dari hidung. Sedangkan di Kabupaten Belu terdapat orkes Suling pembawa melodi (Suling kecil), dan Suling Pangiring yang memiliki bentuk silinder dengan bambu peniup berukuran kecil dan bambu pengatur nada yang berukuran besar. Suling melodi bernada 1 oktaf lebih, Suling pengiring bernada 2 oktaf. Dengan demikian untuk menciptakan harmoni atau akord, maka Suling alto bernada mi, tenor bernada sol, dan bass bernada do, atau suling alto bernada do.

Cara memainkan alat musik ini yaitu Suling sopran atau pembawa melodi seperti memainkan suling pada umumnya, dan suling pengiring sementara bambu peniup dibunyikan, maka bambu pengatur nada digerakkan turun-naik sesuai dengan nada yang dipilih. Kecuali pada suling bass, bambu peniup yang digerakkan turun-naik. Fungsi alat musik ini, yaitu untuk menyambut tamu atau untuk memeriahkan hari-hari nasional.

7. FOY DOA
Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur mempunyai banyak ragam kesenian daerah, antara lain alat musik Foy Doa. Seberapa lama usia alat musik ini tidaklah diketahui dengan pasti karena tidak ada peninggalan-peninggalan yang dapat dipakai untuk mengukurnya. Foy Doa berarti suling berganda. Alat musik ini terbuat dari buluh/bambu kecil yang bergandeng dua atau lebih.

Musik ini biasanya digunakan oleh para muda-mudi dalam permainan rakyat di malam hari dengan membentuk lingkaran. Sistem penalaan, nada-nada yang dihasilkan oleh alat musik ini adalah nada-nada tunggal dan nada-nada ganda atau dua suara. Hal ini tergantung selera si pemain musik Foy Doa. Bentuk syair, umumnya syair-syair dari nyanyian musik Foy Doa bertemakan kehidupan, sebagai contoh ”Kami bhodha ngo kami bhodha ngongo ngangi rupu-rupu, go tuka ate wi me menge" yang berarti “Kami harus rajin bekerja agar jangan kelaparan".

Alat musik ini dimainkan dengan cara meniup lubang peniup secara lembut dan memainkan jari-jari tangan kanan dan kiri dengan menutup lubang suara. Alat musik ini pada awalnya dimainkan secara sendiri. Sekitar tahun 1958, musisi di daerah setempat mulai memadukan dengan alat-alat musik lainnya, seperti Sowito, Thobo, Foy Pay Laba Dera, dan Laba Toka. Alat-alat musik tersebut berfungsi sebagai pengiring pada musik Foy Doa.

alat musik tradisional nusa tenggara timur


8. FOY PAY
Foy Pay merupakan alat musik tiup dari bambu. Alat musik ini dahulunya berfungsi untuk mengiringi lagu-lagu tandak, seperti halnya alat musik Foy Doa. Dalam perkembangannya, alat musik ini selalu berpasangan dengan Foy Doa. Nada-nada yang dihasilkan oleh alat musik Foy Pay yaitu do, re, mi, fa, sol.

9. KNOBE KHABETAS
Alat musik ini bentuknya menyerupai busur panah. Cara memainkannya adalah salah satu bagian ujung busur ditempelkan di antara bibir atas dan bibir bawah. Kemudian, udara dikeluarkan dari kerongkongan dan tali busur dipetik dengan jari. Selain digunakan untuk hiburan pribadi, alat musik ini digunakan juga untuk upacara adat seperti Napoitan Li’ana yaitu bayi yang baru lahir dilarang keluar rumah sebelum 40 hari.

10. KNOBE OH
Alat musik ini terbuat dari kulit bambu dengan ukuran panjang kurang lebih 12,5 cm. Pada bagian tengah bambu sebagian dikerat menjadi belahan bambu yang memanjang sebagai vibrator.



Sumber : Selayang Pandang Nusa Tenggara Timur : Gandes Cukat Permaty, S. Pd.
Read more

Saturday, November 18, 2017

Upacara Adat Nusa Tenggara Timur Lengkap Penjelasannya

Upacara Adat Nusa Tenggara Timur Lengkap Penjelasannya - Pada umumnya upacara tradisional di daerah Nusa Tenggara Timur diadakan dari masa sebelum hamil sampai anak tumbuh menjelang dewasa dan dilakukan secara berurutan. Hampir semua suku di wilayah provinsi ini melaksanakan upacara-upacara tersebut secara turun-temurun. Pada intinya, tahapan-tahapan dalam tiap upacara dari tiap-tiap suku sama, hanya nama atau istilahnya yang berbeda.

Upacara Masa Sebelum Hamil

Pada suku Sabu, upacara ini disebut pejore donahu ngabui, sedangkan pada suku Dawan disebut lais toit li ana, upacara ini dilakukan oleh sepasang suami istri. Upacara ini bertujuan untuk memohon kepada dewa agar diberi keturunan. Dalam pelaksanaannya upacara ini melibatkan keluarga dan kerabat dari pihak laki-laki dan perempuan serta sesepuh-sesepuh adat. Dalam masyarakat suku Sabu, upacara ini dilaksanakan tepat pada hari perkawinan yaitu setelah upacara perkawinan selesai dilakukan. Sementara itu, dalam masyarakat suku Dawan. upacara ini bisa dilakukan kapan saja, biasanya pada musim kemarau sesudah panen.

gambar upacara adat pajore donahu ngabui ntt
Upacara Adat "pajore donahu ngabui" Suku Sabu, NTT

Upacara Masa Kehamilan 

Orang-orang suku Sabu menyebut upacara ini Iu Roulekku (hapo pakebake). Iu Roulekku artinya memasang atau mengikat daun lontar pada bagian depan rumah, sedangkan hapo pakebake berarti menyambut kandungan yang telah jadi. Sementara itu, orang-orang suku Dawan menyebutnya Lais toet manik oe matene atau Lais toet aomina yang artinya memohon kesejahteraan buah kandungan. Upacara ini bertujuan untuk memohon agar bayi yang ada dalam kandungan sehat walafiat dan lahir dengan selamat serta dalam keadaan sempurna. Upacara ini diadakan saat kandungan berumur 5 bulan karena menurut kepercayaan orang sabu, pada saat itu bayi telah menjadi manusia sempurna. Sarana-sarana yang digunakan dalam pelaksanaan upacara antara lain selembar daun lontar beserta lidinya yang belum dipisahkan, yang kemudian dianyam membentuk sebuah wadah khusus untuk tempat persembahan (Roulekku), tikar, sesajian, dan hewan untuk disembelih. Dalam upacara ini, baik suku Sabu maupun suku Dawan sama-sama menyembelih hewan untuk dipersembahkan pada para dewa.

Upacara Masa Kelahiran 

Pada suku Sabu, upacara ini disebut Hapo ana, dan pada suku Dawan disebut Lasi an kon aufnao an kon. Upacara ini dimaksudkan untuk memohon pada para dewa agar bayi lahir dengan selamat dan selalu sehat, dan agar ibu si bayi juga selalu sehat dan dapat mengandung lagi serta melahirkan dengan selamat. Tahapan upacara ini meliputi pemotongan ari-ari bayi, penggantungan ari-ari bayi tersebut di atas pohon, pemberkatan bayi dan ibunya. Pelaksanaan upacara ini juga melibatkan semua anggota keluarga, kerabat, dan tokoh-tokoh adat. Biasanya dalam upacara ini diadakan penyembelihan hewan, seperti kambing, domba, babi atau ayam.

Upacara Masa Bayi 

Dalam adat suku Sabu, upacara ini disebut Pejiu Ei Daba, sedangkan pada suku Dawan disebut Lasi na poitan liana. Maksud dari penyelenggaraan upacara ini adalah untuk memperkenalkan bayi itu kepada masyarakat agar diakui sebagai anggota masyarakat tersebut. Dengan demikian, bayi tersebut akan mendapat hak dan perlakuan yang sama seperti anggota masyarakat yang lain. Seperti halnya upacara-upacara yang lain, upacara masa bayi ini pun melibatkan keluarga, kerabat, dan tokoh-tokoh adat. Akan tetapi, biasanya yang paling berperan dalam pelaksanaan upacara ini adalah nenek si bayi. Dalam upacara ini pun juga ada penyembelihan hewan, seperti sapi, ayam, atau babi.

Upacara Masa Kanak-Kanak 

Masyarakat suku Sabu menyebut upacara ini Leko Wue, sedangkan dalam masyarakat suku Dawan disebut Lasi eon a funu’. Upacara ini diadakan dengan maksud agar si anak terhindar dari bahaya dan dapat memenuhi tuntutan-tuntutan yang berlaku dalam masyarakat. Selain itu, upacara ini juga dimaksudkan untuk memberitahukan kepada anggota masyarakat yang lain bahwa si anak telah tumbuh dari masa bayi ke masa kanak-kanak. Biasanya upacara ini dilakukan ketika anak berusia 3 sampai 5 tahun, dan melibatkan keluarga, kerabat, dan tetangga dekat. Tempat penyelenggaraan upacara ini berada di rumah yang ditinggali si anak. Proses upacara ditandai dengan ritual pemotongan hewan, seperti babi. Kemudian daging hewan dimasak, dan dimakan bersama-sama.

Upacara Menjelang Dewasa

Ada dua macam upacara yang diperuntukkan bagi anak yang usianya menjelang dewasa, yaitu upacara sunat bagi anak laki-laki dan upacara pasah gigi bagi anak perempuan.

Upacara Sunat
Orang-orang suku Sabu menyebut upacara ini Tora kuri kattu nangaka, sedangkan masyarakat Dawan menyebutnya Lais ketos atau Lais helet. Di Ngada upacara sunat disebut Dheqha Loka. Upacara ini diadakan dengan maksud agar si anak memperoleh kesuburan sehingga dia bisa meneruskan keturunannya. Upacara ini juga merupakan pertanda bahwa si anak telah beranjak dewasa. Biasanya upacara sunat ini dilaksanakan apabila anak telah berusia 14 atau 15 tahun, dan diadakan pada saat musim kemarau dengan maksud agar luka cepat sembuh. Berbeda dari upacara-upacara yang diadakan sebelumnya, upacara sunat hanya melibatkan ayah, anak yang disunat, dan penyunat (orang yang menyunat). Bahkan, upacara ini harus dilakukan secara rahasia dan sebisa mungkin tidak diketahui orang lain. Bila pantangan ini dilanggar, anak yang disunat akan mengalami kesulitan dalam menemukan jodohnya. Dalam upacara Sunat juga ada acara penyembelihan hewan seperti upacara lainnya.

Upacara Pasah Gigi
Suku Sabu menyebut upacara ini Dara Ngutu. Pasah gigi adalah pemotongan gigi hingga permukaan gigi itu habis yaitu sampai batas gusi. Upacara ini diadakan apabila seorang gadis telah mendapat pinangan dan seorang pemuda. Maksud dari diadakannya upacara ini adalah untuk memperindah penampilan si gadis menjelang upacara pernikahannya. Oleh karena itu, upacara ini diselenggarakan saat si gadis telah berencana untuk menikah. Pada waktu upacara pasah gigi diadakan, yang menghadiri upacara tersebut hanyalah si gadis, keluarga, kerabat atau teman-temannya saja, yang bertugas sebagai saksi.

Upacara Perkawinan 

Dalam mencari istri seorang pemuda bisa melakukannya sendiri, atau dijodohkan oleh orang tuanya. Ada beberapa tahap dalam upacara ini, yaitu tahap peminangan, pembayaran belis, dan upacara perkawinan.

Tahap Peminangan
Pada tahap ini seorang pemuda meminang seorang gadis dengan diwakili oleh ketua adat atau ketua suku. Di daerah Sumba petugas yang melakukan peminangan ini disebut wuna (wunang). Sementara itu, suku Sabu menyebutnya Mone Oro Li atau Mone, suku Dawan memanggilnya dengan nama Nete Tali dan orang Belu menyebutnya lnuk Nain. Saat meminang, pada umumnya orang membawa sirih pinang dan menyampaikan pinangannya melalui bahasa kiasan. Apabila barang bawaannya tidak dikembalikan, berarti pinangannya diterima. Sebaliknya, jika barang bawaannya dikembalikan, artinya pinangannya ditolak. Apabila pinangan diterima, maka upacara dilanjutkan ke tahap selanjutnya, yaitu tahap pembayaran belis.

Tahap Pembayaran Belis
Di daerah Nusa Tenggara Timur, belis atau mas kawin merupakan unsur yang penting karena dianggap sebagai na buah ma an mone, yaitu suatu simbol untuk mempersatukan laki-laki dan wanita sebagai suami istri. Belis juga merupakan syarat utama pengesahan berpindahnya suku wanita ke suku suaminya. Selama belis belum dibayar, si suami harus tinggal di kediaman pihak istri dan tidak berhak atas anak-anaknya. Belis bisa berupa baran-barang berharga, Seperti emas, perak, atau uang, dan dapat juga berupa hewan ternak seperti kerbau dan kuda. Di daerah-daerah tertentu belis berwujud barang-barang khusus, seperti Moko (nakara kecil) di daerah Flores Timur dan gading gajah di Maumere (sikka). Sementara itu, besar kecilnya belis ditentukan melalui perundingan antara pihak laki-laki dan wanita. Setelah tahap ini dilaksanakan dilanjutkan ke tahap upacara perkawinan.

Tahap Upacara Perkawinan
Di wilayah Rote, upacara ini disebut Natu du sasaok yang artinya terang kampung Tahap ini merupakan suatu upacara yang disertai dengan pesta besar-besaran yang diadakan dengan maksud untuk memberitahukan kepada warga kampung bahwa si gadis telah menjadi istri orang. Setelah pesta selesai, pada malam harinya diadakan upacara Nasa kak. Dalam upacara ini pasangan pengantin tidur bersama di atas rumah yang dihiasi dengan selimut. Kemudian pagi harinya dilaksanakan upacara Napora dan Dode yaitu mengantar pengantin ke rumah pengantin wanita. Saat tiba di rumah pengantin wanita, kepala rombongan menyerahkan pasangan pengantin dengan menggunakan kata-kata bersyair, dan tuan rumah menjawabnya dengan kata-kata bersyair pula. Di akhir acara diadakan pesta besar-besaran.

Upacara Kematian

Masyarakat Nusa Tenggara Timur percaya bahwa roh orang yang telah meninggal berpindah dari dunia ramai ke kehidupan gaib. Oleh karena itu, upacara ini dilakukan secara besar-besaran sebagai penghormatan dan pemberian bekal kepada orang yang telah meninggal. Untuk pesta kematian ini dikorbankan sajian berpuluh-puluh ekor sapi, kerbau atau babi. Rangkaian upacara kematian yang dilaksanakan di daerah Nusa Tenggara Timur meliputi beberapa tahap, yaitu:

Adat Meratap
Menangis di depan mayat yang dilakukan terutama oleh kaum wanita. Ratapan itu berisi penyesalan karena ditinggal oleh orang yang sudah meninggal dan puji-pujian atas kebaikan yang telah diperbuatnya ketika hidup. Di daerah Belu dalam adat meratap ini digunakan bahasa syair.

Adat Menahan Mayat
Menahan mayat selama beberapa hari sebelum dikubur. Lama penahanan ada yang sampai tujuh hari bahkan berbulan-bulan khusus untuk golongan bangsawan.

Merawat Mayat
Sebelum dikubur mayat dimandikan terlebih dahulu. Setelah itu, diberi pakaian yang baru atau pakaian kebesarannya, dipakaikan seperti ketika masih hidup. Di Tetum, tradisi mayat dirawat, dibungkus dengan kain atau kemudian ditambah lagi dengan tikar pandan, sesudah itu mayat dibaringkan. Di Dawan, Rote mayat diletakkan di rumah duka dengan tidur telentang. Di Sabu dan Sumba, mayat diletakkan dengan posisi duduk berjongkok.

Upacara Waktu Penguburan
Tempat kubur yang paling baik menurut orang Nusa Tenggara Timur adalah dekat rumah dengan ketentuan untuk laki-laki di sebelah barat dan di sebelah timur untuk wanita.

Upacara Setelah Penguburan 
Setelah penguburan, pada malam harinya diadakan pesta besar-besaran. Pesta tersebut biasanya diadakan dengan membunyikan bunyi-bunyian yang disertai dengan tari-tarian selama tujuh hari. Di Sabu tarian semacam itu disebut Ledo. Sementara itu, di Rote digunakan tari Kabalai dengan diiringi bunyi gong dan sasandu (semacam kecapi). Upacara yang dilakukan pada tahap ini berhubungan dengan upacara pembersihan, penolak malapetaka, dan gangguan arwah (Lakapeno) juga upacara pemberian bekal pada arwah dengan cara penyembelihan hewan korban. Selain dimakan pada waktu pesta, daging hewan tersebut juga dibagi-bagikan kepada yang berhak menurut aturan adat.

Demikian Ulasan tentang "Upacara Adat Nusa Tenggara Timur Lengkap Penjelasannya" yang dapat kami sampaikan. Artikel ini dikutip dari buku "Selayang Pandang Nusa Tenggara Timur : Gandes Cukat Permaty. S. Pd". Baca juga artikel kebudayaan Nusa Tenggara Timur menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.

Read more

Rumah Adat Nusa Tenggara Timur Lengkap Penjelasannya

Rumah Adat Nusa Tenggara Timur Lengkap Penjelasannya - Rumah adat di daerah Nusa Tenggara Timur biasanya berbentuk rumah panggung dan agak persegi atau persegi panjang, kecuali rumah adat asli Timor yang berbentuk bulat telur tanpa tiang. Bangunan-bangunan tradisional di wilayah provinsi ini dibedakan berdasarkan model atapnya, yaitu:
  1. Bentuk atap berjoglo merupakan rumah adat suku bangsa Sumba
  2. Bentuk atap kerucut bulat merupakan rumah adat suku bangsa Timor. 
  3. Bentuk atap seperti perahu terbalik merupakan rumah adat suku bangsa Rote dan suku bangsa Sabu.  

Meskipun bentuk atap dan jumlah tiang penyangga berbeda, tetapi bangunan-bangunan tersebut mempunyai satu persamaan, yaitu ada tempat suci untuk arwah nenek moyang yang selalu diberi sesaji pada saat-saat tertentu. Atap rumah yang berbentuk seperti perahu terbalik mencerminkan kehidupan masyarakat yang merupakan pelaut. Hampir semua bagian rumah diberi nama seperti perahu, antara lain haluan, anjungan (duru), dan buritan (Wui). 

gambar rumah adat nusa tenggara timur
Rumah Adat Nusa Tenggara Timur

Dalam rumah adat suku bangsa Sabu, berdasarkan konstruksi tiang, terdapat ammu halla atau rumah tanam yang tiang-tiang rumahnya ditanam sedalam 0,75 meter dan ammu tuki atau rumah kait yang tiang rumahnya dihubungkan dengan balok penghubung dan dibuat saling mengait menjadi satu kesatuan. Menurut bentuknya, ada ammu kelaga (rumah adat berpanggung) dan ammu
laburai ( rumah berdinding tanah). Ammu kelaga atau rumah panggung mempunyai lantai panggung yang berfungsi sebagai balai-balai, dan disebut kelaga. Bangunan ini berbentuk empat persegi panjang dengan atap lancip mirip perahu terbalik. Tiangnya berbentuk bulat yang terbuat dari kayu pohon lontar, enau, kayu hitam, atau kayu besi. Lantai panggungnya bertingkat tiga, yaitu kelaga rai atau panggung tanah, kelaga ae atau panggung besar, dan kelaga dammu atau panggung loteng. Ketiga lantai tersebut mencerminkan kepercayaan orang Sabu tentang adanya tiga tingkatan dunia, yaitu dunia bawah atau dunia arwah, dunia tengah atau dunia manusia, dan dunia atas atau dunia
para dewa. Rumah adat ini memiliki empat pintu, yaitu pintu anjungan (kelae duru), pintu kamar (kelae kopo), pintu buritan (kelae wui), dan pintu loteng (kalae dammu).

Demikian pembahasan tentang "Rumah Adat Nusa Tenggara Timur Lengkap Penjelasannya" yang dapat kami sampaikan. Baca juga artikel kebudayaan Nusa Tenggara Timur menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.


Sumber : Selayang Pandang Nusa Tenggara Timur : Gandes Cukat Permaty. S. Pd
Read more

Monday, October 30, 2017

Pakaian Adat Nusa Tenggara Timur Lengkap, Gambar dan Penjelasannya

Pakaian Adat Nusa Tenggara Timur Lengkap, Gambar dan Penjelasannya - Secara umum pakaian adat Nusa Tenggara Timur menonjol pada perangkat kain-kain tenunnya yang khas. Selain itu, kekhasan pakaian adat Nusa Tenggara Timur terlihat pula pada perhaisan perlengkapan pakaian dari logam, bulu unggas, dan kain-kain batik yang ditampilkan dengan cara-cara yang unik. Dari keanekaragaman pakaian adat yang memiliki perbedaan latar belakang, dipaparkan tiga gaya yang dianggap dapat mewakili citra daerah ini, yaitu pakaian adat suku bangsa Sikka dari Flores, suku bangsa Sumba dari Sumba Timur, dan suku bangsa Amarasi dari Kabupaten Kupang , Timor.

Pakaian Adat Suku Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur

Masyarakat Sikka atau suku bangsa Sikka, mendiami daerah Kab. Sikka di Pulau Flores dengan kota terbesar Maumere. Kebudayaan masyarakat Sikka banyak dipengaruhi oleh budaya asing, seperti Bugis, Cina, Portugis, Belanda, Arab, dan India. Pengaruh Portugis dan Belanda tampak pada tata busana barat yang dewasa ini sudah menjadi pakaian sehari-hari. Pengaruh India muncul pada hasil tenunan, yaitu pada pembagian bidang-bidang dan corak yang diilhami oleh kain patola. Meskipun demikian, masyarakat Sikka tetap dapat mempertahankan ungkapan budaya tradisionalnya lewat pakaian serta tata riasnya.

gambar busana adat suku sikka Nusa Tenggara Timur
Sumber : Selayang Pandang Nusa Tenggara Timur : Gandes Cukat Permaty, S. Pd

Pakaian tradisional pria secara umum terdiri atas penutup badan dan penutup kepala. Penutup badan terdiri atas labu bertangan panjang, biasanya berwarna putih mirip kemeja gaya barat. Selembar lensu sembar diselendangkan pada dada, bercorak flora atau fauna dalam teknik ikat lungsi. Pada bagian pinggang dikenakan utan atau utan werung, yaitu sejenis sarung berwarna gelap, bergaris biru melintang. Tata warna kain Sikka umumnya tampil dalam nada-nadan gelap seperti hitam atau biru tua dengan ragi yang lebih cerah berwarna putih, kuning atau merah. Istilah untuk sarung selain utan adalah lipa.

Destar adalah tutup kepala pria yang terbuat dari kain batik soga dan dikenakan dengan pola ikatan tertentu sehingga ujung-ujungnya turun menempel pada kedua sisi wajah dekat telinga.

Pakaian Adat wanita terdiri atas penutup badan berupa labuliman berun, berbentuk mirip kemeja berlengan panjang. Labu ini biasanya terbuat dari sutra dan kain yang bagus mutunya. Model labu ini terbuka sedikit pada pangkal leher guna memudahkan pemakaian. Di atas labu dikenakan dong, sejenis selendang yang diselempangkan melintang dada.

Selain itu, kaum wanita juga memakai sarung wanita, utan lewak, dihias dengan ragam flora dan fauna dalam lajur-lajur garis. Utan lewak adalah kain tiga lembar, berwarna dasar gelap dengan paduan antara warna merah, cokelat, putih, biru, dan kuning secara melintang. Warna-warna tersebut melambangkan berbagai suasana hati atau kekuatan-kekuatan magis. Misalnya hitam untuk melayat, merah, cokelat melambangkan keagungan dan status sosial yang tinggi. Cara mengenakan utan adalah dengan menyampirkan sebagian pinggir kain di atas bahu dengan melintangkan tangan kanan di bawah dada seperti hendak menjepit kain.

Hiasan kepala tersemat pada sanggul atau konde dalam bentuk tusuk konde. Tusuk konde biasanya terbuat dari ukiran keemasan. Pada pergelangan tengan dipakai kalar yang terbuat dari gading dan perak. Penggunaannya disesuaikan dengan suasana peristiwa seperti upacara-upacara atau pesta-pesta adat. Jumla kalar gading dan perak biasanya genap, yaitu dua atau empat gading dengan dua perak pada setiap tangan. perhiasan lainnya adalah kila yang tergantung pada telinga.

Pakaian Adat Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur

Suku bangsa Sumba mendiami Pulau Sumba dan terbagi atas  dua Kabupaten, yaitu Sumba Barat dan Sumba Timur. Kepercayaan khas daerah Marapu, setengah leluhur, setengah dewa, masih sangat diyakini masyarakat Sumba asli. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara adat, rumah-rumah ibadah (umaratu), rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya. ragam hias ukir-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat pakaian seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata.

gambar busana adat suku sumba timur nusa tenggara timur
Sumber : Selayang Pandang Nusa Tenggara Timur : Gandes Cukat Permaty, S. Pd

Di Sumba Timur strata antara kaum bangsawan (maramba), pemuka agama (kabisu), dan rakyat jelata (ata) masih berlaku, meskipun tidak setajam dulu. Perbedaan strata sosial ini juga tidak tampak secara nyata pada tata rias dan pakaian adatnya. Perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut mengungkapkan berbagai lambang dalam konteks sosial, ekonomi serta religi suku Sumba. Kain hinggi dan lau tersebut terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada.

Pakaian adat masyarakat Sumba lebih cenderung ditekankan pada ringkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hierarki status sosialnya. Pakaian kaum pria sumba terdiri atas bagian-bagian penutup kepala, penutup badan dan sejumlah penunjang lainnya berupa perhiasan dan senjata tajam. Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi, yaitu hinggi kombu dan hinggi kowaru. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. Hinggi kowaru atau terkadang juga disebut hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. Di kepala dililitkan tiara patang, sejenis tutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul.

Jambul ini dapat diletakkan di depan, samping kiri, atau samping kanan sesuai dengan maksud lambangnya. Jambul di depan melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. khusus yang terbuat dengan teknik pahikung disebuttiara pahudu. Hiasan-hiasan yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan makhluk hidup. Warna hinggi juga mencerminkan nilai estetis dan status sosial. Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kowaru, hinggi raukadana, dan terakhir adalah hinggi panda paingu.

Pakaian pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada kiri ikat pinggang. Pada pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. kabiala adalah lambang kejantanan, sedangkan mutisalak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang pakaian ini merupakan simbol kearifan

Ada beberapa kain yang digunakan sebagai pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur, seperti Lau kowaru, Lau pahudu, Lau mutikau, dan Lau pahudu kiku. Kain-kain tersebut dipakai sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup toba huku yang sewarna dengan sarung.

Untuk bagian kepala wanita Sumba Timur memakai tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai dan hai kara. Pada dahi disematkan perhiasan logam (emas atau sepuhan) yaitu maraga. Kemudian di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan. Di bagian leher juga dikenakan kalung-kalung keemasan yang menjurai ke bagian dada.

Pakaian Adat Amarasi, Timor, Nusa Tenggara Timur

Secara administratif Amarasi termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Kupang. Meskipun pengaruh-pengaruh asing masuk ke dalam wilayah ini, tetapi masyarakat Amarasi masih memegang tradisi untuk mengungkapkan budaya asli mereka. Hal ini ditunjukkan dengan adanya bentuk-bentuk kepercayaan lokal yang mewarnai kehidupan sehari-hari, seperti ritus-ritus penghormatan Usi Neno, yang dianggap sebagai wujud tertinggi penguasa jagad raya, pencipta makhluk hidup sumber segala yang ada. Dalam hal berpakaian, tradisi kebudayaan asli juga masih mempengaruhi tata cara berpakaian, terutama dalam pakaian pesta adat atau upacara-upacara penting. Secara umum pakaian adat upacara Amarasi didominasi oleh kain-kain tenunan dalam teknik futus dan sotis yang dipadu  dalam warna-warna putih, cokelat, biru, merah bata. Kain-kain tersebut kemudian dipadu dengan berbagai aksesoris di kepala, telinga, tangan dan pinggang.

gambar busana adat suku amarasi nusa tenggara timur
Sumber : Selayang Pandang Nusa Tenggara Timur : Gandes Cukat Permaty, S. Pd

Pada dasarnya pakaian adat pria Amarasi sama dengan daerah lain di Nusa Tenggara Timur, yaitu kain penutup badan yang terdiri atas beti atau taimuti dan po'uk. Akan tetapi, pakaian pria Amarasi mempunyai cork yang khas, yaitu adanya dominasi warna-warna cokelat dengan bidang tengah berwarna putih di bagian bet. Kemudian, po'uk bercorak garis-garis memanjang yang dipadu dalam warna-warna jingga, merah bata, putih, dan biru. Di bagian kepala dikenakan pilu dari batik, sedangkan di bagian leher dikenakan kalung yang terbuat dari logam yang berhiaskan iteke, yaitu logam berukir berbentuk lingkaran. Sepertihalnya di daerah Nusa Tenggara Timur lainnya, pria Amarasi juga memakai kapisak atau aluk yang terbuat dari anyaman-anyaman daun atau kain persegi empat dengan corak geometris dan multi sebagai hiasannya. Oleh masyarakat setempat pakaian dan perhiasan dan perlengkapan pakaian tersebut dianggap dapat memberikan sifat keagungan, kejantanan serta kesucian bagi penyandangnya.

Pakaian utama wanita Amarasi terdiri atas dua macam kain tenunan. Kain pertama adalah Tais dan Tarunat yang dipasang setinggi dada hingga mata kaki. Kain ini bercorak garis-garis sempit berwarna jingga, kuning, biru tua dan dipadukan dengan corak-corak ikat putih berlatar hitam/ biru tua. Sementara itu kain kedua berupa selempang yang terikat di depan dada berbentuk huruf V dengan kedua ujungnya terletak di kedua bahu bagian belakang. Di bagian kepala dikenakan seperangkat perhiasan. Rambut yang disanggul dihiasi dengan kili noni dan tusuk konde. Di dahi dikenakan pato eban yaitu hiasan logam berukir yang berbentuk bulan sabit.

Kedua telinga dihiasi falo noni. Kemudian dikenakan pula kalung berbentuk bulat terbuat dari logam (emas, perak, atau sepuhannya) yang disebut dengan noni bena. Pergelangan tangan dihiasi dengan niti keke, sedangkan bagian pinggang dikenakan futi noni.

Pada hakikatnya pakaian adat di Nusa Tenggara Timur mencerminkan fungsi sosial. Corak tenunan menunjukkan pada status sosial dan tingkat ekonomi.

Demikian pembahasan tentang "Pakaian Adat Nusa Tenggara Timur Lengkap, Gambar dan Penjelasannya" yang dapat kami sampaikan. Artikel ini dikutip dari buku "Selayang Pandang Nusa Tenggara Timur : Gandes Cukat Permaty, S. Pd". Baca juga artikel kebudayaan indonesia menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.
Read more