Pengertian Folklor, Ciri-Ciri, Bentuk, dan Contohnya

Konten [Tampil]
Folklor-adalah

Folklor adalah salah satu bentuk sastra yang tidak bisa dilewatkan ketika berbicara tentang khazanah klasik. Dalam beberapa hal, folklor sering diartikan sebagai sastra rakyat, walaupun penggantian istilah tersebut tidak selamanya tepat. Seperti apa yang dikemukakan Koentjaraningrat bahwa ruanglingkup adalah sangat luas, meliputi hampir semua segi kebudayaan manusia. Oleh sebab itu, tidak semua bentuk folklor itu layak disebut sebagai sastra. Bentuk-bentuk kepercayaan rakyat, resep-resep obat tradisional, dan jenis-jenis tarian rakyat adalah bagian dari folklor, yang tentu saja hal itu bukan merupakan bentuk karya sastra. Pengidentikan folklor dengan sastra rakyat memang dapat pula dipahami, mengingat folklor itu kebanyakan berupa cerita.

Pengertian Folklor

Dalam definisi lengkapnya, dapat dirumuskan bahwa folklor adalah kebudayaan rakyat yang disampaikan secara turun-temurun, sesuatu yang telah mentradisi. Sastra rakyat merupakan salah satu bagian di antaranya. Selain sastra rakyat, kepercayaan, resep-resep tradisional, dan tarian rakyat, folklor juga meliputi musik dan arsitektur rakyat (Djamaris, 1997).

Ciri-Ciri Folklor

Dalam makalahnya yang berjudul "Penuntun Cara Pengumpulan Folklor bagi Pengarsipan", James Danandjaya (1972), merumuskan ciri-ciri folklor sebagai berikut.

  1. Penyebaran folklor dilakukan secara lisan.
  2. Folklor bersifat tradisional.
  3. Folklor memiliki banyak versi dan variasi.
  4. Nama pencipta folklor bersifat anonim.
  5. Folklor biasanya mempunyai bentuk-bentuk klise dalam susunan atau cara pengungkapannya.

Dari ciri-ciri yang dikemukakannya, tampak bahwa folklor yang dimaksudkan Danandjaya lebih merujuk pada pengertian folklor sebagai tradisi lisan. Dalam kepentingan pembahasan selanjutnya, perlu pula ditegaskan mengenai posisi folklor atau cerita rakyat itu dalam kaitannya dengan sastra klasik (tradisional).

Bila melihat ruang lingkup folklor yang dikemukakan Djamaris maupun ciri-cirinya seperti yang dikemukakan Danandjajya, jelaslah bahwa folklor merupakan bagian dari sastra klasik. Hanya saja, tidak berarti semua sastra klasik merupakan folklor. Berdasarkan klasiflkasi yang dikemukakannya, folklor merupakan sastra klasik yang merupakan hasil dari karya lokal; dalam arti, "murni" sebagai kreasi rakyat daerah bersangkutan, bukan hasil terjemahan ataupun saduran. Sebab, ternyata bahwa apa yang disebut sastra klasik, misalnya yang pernah hidup di lingkungan masyarakat Melayu, banyak yang merupakan terjemahan ataupun saduran dari daerah luar dan negeri asing, seperti dari Jawa, India, dan Arab.

Bentuk-bentuk Folklor

Mengapa folklor sangat penting untuk dipelajari dan dimaknai, sebabnya dalam folklor itulah terkandung kepercayaan, pandangan hidup, cara berpikir, dan nilai-nilai budaya suatu kelompok masyarakat.

Dari segi isinya, William R. Bascom (1965: 4) membagi folklor atau bentuk sastra rakyat ini ke dalam mite, legenda, dan dongeng. Mite, adalah cerita yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh si empunya. Peristiwa terjadi di dunia lain, yang tidak mungkin dijangkau oleh kehidupan realistis. Hampir serupa dengan mite, legenda sama-sama menceritakan peristiwa yang dianggap benar-benar terjadi, tetapi tidak disucikan. Sedangkan, dongeng ialah cerita rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh si empunya cerita serta tidak terikat oleh waktu maupun tempat.

Ahli lain, seperti Liau Yock Fang (1991) mengidentiflkasikannya ke dalam cakupan yang lebih luas lagi. Di samping cerita, menurut Fang, Folklor juga terwujud dalam ungkapan, peribahasa, nyanyian, tarian, adat, undang-undang, teka-teki permainan, kepercayaan, dan perayaan.

Folklor sebagai pengertian cerita rakyat Melayu klasik, menurut Edwar Djamaris dibagi ke dalam bentuk mantra, peribahasa, pantun, teka-teki, cerita binatang, cerita asal-usul, cerita jenaka, dan cerita pelipur lara (Djamaris, 1990)

Berikut Pengertian dan Contoh beberapa bentuk folklor, yang dikenal dalam khazanah sastra Melayu klasik.

1. Pengertian Mantra

Mantra dianggap sebagai permulaan bentuk sastra Melayu klasik. Mantra adalah bentuk puisi yang berupa gubahan bahasa, yang diresapi oleh kepercayaan akan dunia gaib. Irama bahasa sangatlah dipentingkan dengan maksud untuk menciptakan nuansa magis. Mantra itu timbul dari suatu hasil imajinasi atas dasar kepercayaan animisme. Sewaktu panen, menangkap ikan, pada waktu berburu ataupun mengumpulkan hasil-hasil hutan, mereka harus membujuk hantu-hantu yang baik dan mengusir hantu-hantu yang jahat, dengan menggunakan mantra itulah. Misalnya, pada waktu berburu rusa, mereka ucapkan mantra itu agar bisa menangkap buruannya itu dengan mudah, tanpa ada bahaya.

Contoh Mantra
"Sirih lontar pinang lontar
Terletak di atas penjuru
Hantu buta, jembalang buta Aku mengangkatkan jembalang rusa."

Pada waktu berburu rusa tentunya mereka akan berhadapan pula dengan binatang buas penghuni hutan rimba, seperti harimau ataupun ular. Untuk itu ada pula mantra yang merek bacakan.
Berikut Contoh Mantra Melayu Pengusir hewan buas;
"Hai si gampar alam
Gegap gempita
Jarum besi akan rumahku
Jarum tembaga akan rumahku
Ular bisa akan janggutku
Buaya akan tongkat mulutku
Harimau menggeram dipengriku
Gajah mendering bunyi suaraku
Suaraku seperti bunyi halilintar
Bibir terkatup, gigi terkunci
Jikalau bergerak bumi dengan langit
Bergeraklah hati engkau
Hendak marah atau hendak membinasakan aku"

Mereka beranggapan bahwa dengan membacakan mantra tersebut harimau, ular, dan binatang buas lainnya akan lari menjauh, menghindarkan diri, dan orang itu akan selamat dari ancaman.

2. Pengertian Pantun

Umumnya pantun merupakan sajak percintaan yang lebih sering dinyatakan pada waktu perayaan, misalnya pernikahan. Bentuknya, terdiri dari empat baris. Kedua baris pertama memuat perumpamaan atau ibarat, atau ucapanyang tidak bermakna, yang fungsinya hanya sebagai penyelaras rima. Bagian ini sering pula disebut sampiran. Sedangkan, kedua baris terakhir merupakan isi (pesan)-nya, yang mungkin di dalamnya berupa nasihat, berisi kerinduan, sindiran, teka-teki, atau pun guyonan.

Syarat-syarat pantun yang dikemukakan J.S. Badudu (1981: 11) antara lain sebagai berikut.

  • Terdiri atas empat baris.
  • Tiap baris terdiri atas 8 sampai 10 suku kata.
  • Dua baris pertama disebut sampiran, dan dua baris berikutnya mengandung maksud si pemantun. Bagian ini disebut isi pantun.
  • Pantun mementingkan rima akhir dan rumus rima itu disebut dengan abjad/abad/; maksudnya, bunyi akhir baris pertama sama dengan bunyi akhir baris ketiga, baris kedua sama dengan baris keempat.

Contoh Pantun;
Sikap sonohong                                    (a)
Gelang ikan duri                                   (b)
Bercakap bohong                                  (a)
Lama-lama mencuri                              (b)

Gunung Daik timang timangan            (a)
Tempat kera berulang ali                      (b)
Budi yang baik kenang kenangan        (a)
Budi yang jahat buang sekali               (b)

Di samping itu dikenal pula jenis pantun lainnya, yakni yang disebut pantun berkait, talibun, dan pantun kilat. Pantun berkait atau disebut juga pantun berantai, atau ada pula yang menamakannya seloka, adalah pantun yang penyusunannya tidak cukup dengan hanya satu bait.

a. Pantun Berkait
Pantun berkait terdiri atas beberapa bait yang sambung-menyambung. Hubungannya sebagai berikut: Baris kedua dan keempat pada bait pertama dipakai kembali pada baris pertama dan ketika pada bait kedua. Demikianlah pula hubungan antara bait kedua dan ketiga, ketiga dan keempat, dan seterusnya.

Contoh Pantun Berkait:
"Sarang garuda di pohon beringin
Buah kemuning di dalam puan
Sepucuk surat dilayangkan angin
Putih kuning sambutlah tuan

Buah kemuning di dalam puan
Dibawa dari Indragiri
Putih kuning sambutlah tuan
Sambutlah dengan si tangan kiri

Dibawa dari Indragiri
Kabu-kabu dalam perahu
Sambutlah dengan si tangan kiri
Seorang makhluk janganlah tahu"

b. Talibun
Talibun yaitu sejenis pantun yang susunannya yang terdiri atas enam, delapan, atau sepuluh baris. Pembagian baitnya sama dengan pantun biasa, yakni jika talibun itu enam baris, maka tiga baris pertama sampiran dan tiga baris berikutnya isi pantun itu. Jika terdiri atas delapan baris, maka pembagiannya empat-empat baris dan seterusnya.

Contoh Talibun:
"Kalau anak pergi ke pekan
Yu' beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari
Induk semang cari dahulu"

c. Pantun Kilat (Karmina)
Pantun Kilat atau disebut pula Karmina, ialah pantun yang hanya terdiri atas dua baris; yaitu, baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua isinya. Sebenarnya, berasal dari empat baris yang tiap baris bersuku kata empat atau lima, lalu kedua baris yang pendek itu diucapkan sekaligus, seolah-olah sebuah kalimat, dan biasanya dituliskan sebaris saja. Itu sebabnya kemudian seolah-olah pantun dua baris sehingga dinamakan pula pantun dua seuntai.

Contoh Pantun Kilat/ Karmina:
"Gendang gendut, tali kecapi
Kenyang perut, senanglah hati

Pinggan tak retak, nasi tak ingin
Tuan tak hendak, kami tak ingin

Sudah gaharu, cendana pula
Sudah tahu, bertanya pula"

3. Pengertian Gurindam

Gurindam atau yang sering disebut sajak peribahasa, adalah bentuk sastra klasik yang terdiri dari dua baris yang saling berirama. Baris pertama umumnya berupa sebab (hukum, pendirian), sedangkan baris kedua merupakan jawaban atau dugaan, sebagai akibat dari isi pada baris pertama. Gurindam yang terkenal ialah kumpulan gurindam karangan pujangga Melayu klasik Raja Ali Haji. Namanya, “Gurindam Dua Betas”, karena, terdiri atas dua belas pasal dan berisi kurang lebih 64 buah gurindam.

Sebenarnya, Gurindam bukanlah betul-betul murni kreasi rakyat Melayu. Bentuk puisi ini diperkirakan berasal dari India (Tamil). Masuk ke daerah Melayu, karena pengaruh kesusastraan Hindu.

Contoh Gurindam:
"Barang siapa meninggalkan zakat
Tiadalah artinnya boleh berkat

Barang siapa berbuat fitnah
Ibarat dirinya menentang panah"

Tampak pada dua contoh di atas bahwa gurindam memiliki susunan berikut:

  1. Terdiri atas dua baris
  2. Rumus rima akhirnya /aa/
  3. Baris pertama merupakan syarat, dan baris kedua berisi akibat dari yang disebutkan pada baris pertama
  4. Berisikan ajaran, budi pekerti, atau nasihat keagamaan.


4. Pengertian Peribahasa

Peribahasa adalah kalimat atau kelompok perkataan yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan sesuatu maksud tertentu (Poerwadarminta, 1976: 738). Dalam khazanah sastra Melayu klasik, peribahasa merupakan salah satu jenis karya sastra yang masih dapat dijumpai dalam kehidupan masyarakat sekarang. Hal ini berbeda dengan mantra, pantun, atau gurindam, yang nyaris terlupakan orang.

Jenis-Jenis Peribahasa
Berdasarkan isinya, peribahasa dapat diklasifikasikan ke dalam jenis-jenis berikut.
a. Nasihat
Isinya berupa masukan-masukan positif, saran. Diharapkan dengan peribahasa itu orang yang dinasihati itu dapat berintrospeksi, mengubah tingkah lakunya, dengan merasa tidak tersinggung.

Contoh Peribahasa Nasihat:
1. Nasihat kepada orang yang bersengketa, untuk segera berdamai peribahasanya yaitu; "Kalah jadi abu, menang jadi arang." Artinya, bahwa baik yang kalah maupun yang menang akan tetap mendapat kesusahan. Karena itu, lebih berdamai saja.

2. Nasihat kepada orang lain yang akan tinggal di daerah lain, agar bisa menyesuaikan diri, dan bisa menghormati adat istiadat yang berlaku di masyarakat yang ditempatinya, peribahasanya yaitu; "Di mana tanah diinjak di situ langit dijunjung, di sana adat dipakai" atau "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya".

3. Nasihat kepada orang yang suka menceritakan aib atau kejelekan orang lain, peribahasanya yaitu; "Menepuk air di dulang, terpecik muka sendiri" atau "merobek baju di dada". Dengan peribahasa itu, dinasihatkan agar yang bersangkutan kembali sadar bahwa dengan menghina atau menjelekkan orang lain itu toh, sesungguhnya menunjukkan kejelekan diri sendiri.

4. Nasihat kepada orang yang sombong karena tinggi ilmunya atau banyak kekayaannya, sering dikatakan, peribahasanya yaitu; "Seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk." Artinya orang yang pintar atau orang yang kaya itu seharusnya tebih rendah hati, sebagaimana padi yang makin berisi makin merunduk.

b. Sindiran
Sebenarnya sindiran pun tujuannya adalah untuk mengingatkan, dan menyadarkan seseorang dengan cara yang tidak melukai hatinya. Bedanya, bahwa dalam nasihat itu diungkapkan secara jelas bagaimana "seharusnya", sedangkan dalam sindiran tidak.

Contoh Peribahasa Sindiran:
1. Sindiran kepada orang yang tidak tetap pendiriannya, peribahasanya yaitu; "Bagai air di daun talas".

2. Sindiran bagi orang yang suka mencaci maki tanpa pertimbangan yang dalam; sebab, ia kemudian memujinya lagi. Dalam hal ini, orang yang seperti itu dikatakan "Menjilat air ludah".

3. Sindiran bagi orang banyak omong, dikiaskan dengan peribahasa "Tong kosong nyaring bunyinya". Sebagaimana layaknya tong yang kosong, ia nyaring bunyinya karena di dalamnya tidak berisi apa-apa.

c. Pujian
Peribahasa ternyata tidak selamanya berisi kritikan atau nasihat, tetapi tidak sedikit pula yang berisi pujian. Pernyataan memuji dengan peribahasa dipandang lebih halus, enak didengar, dan diplomatis, ketimbang dinyatakan secara langsung yang malah akan berkesan gombal atau cari muka.

Contoh Peribahasa Pujian:
1. Pujian kepada dua sahabat yang selalu akur, dikatakan "Bagai air dengan tebing", "Bagai gula dengan manisnya", atau "Seperti Rama dan Sinta".

2. Pujian kepada orang yang sama rupa dan tingkahnya, dikatakan "Bagai pinang dibelah dua". Pujian kepada seorang gadis rupawan, dikatakan "Cantik bagai bidadari turun dari kayangan" atau "Secantik bulan purnama".

Baca juga:
500 Peribahasa dan Artinya Secara Lengkap | A sampai Z
Pengertian Puisi | Unsur, Jenis-Jenis Puisi dan Contohnya Secara Lengkap
Pepatah Jawa Paribasan, Bebasan, dan Saloka beserta Pengertian, Contoh, dan Artinya

5. Pengertian Teka-teki

Teka-teki adalah cerita pendek yang menuntut adanya jawaban atas maksud dari cerita itu. Jadi, pada prinsipnya teka-teki hampir sama dengan soal cerita. Hanya saja dalam teka-teki, peranan nalar seringkali diabaikan. Aspek lainnya, bahwa dalam penyusunan teka-teki haruslah memperhatikan seni bahasanya. Sedangkan yang perlu ditonjolkan dalam hal ini adalah kemampuan si penjawab (penebak) dalam memahami bahasa kias ataupun ibarat. Dengan karakteristiknya yang seperti itulah, teka-teki bisa digolongkan ke dalam jenis sastra.

Contoh Teka-Teki:
1. "Dari kecil berbaju hijau, sudah besar baju merah. Luarnya surga, dalamnya neraka". Jawabannya: cabe.

2. "Hitam legam seperti hantu. Tapi, putih hatinya. Kecil berbaju merah, besar berbaju hijau. Apabila hendak mati berbaju merah". Jawabannya: manggis.

3. "Tiada kaki boleh berlari, tiada ekor boleh berjalan, tiada kepala boleh memandang". Jawabannya: ular, katak, dan kepiting.

4. "Ada padang tak berumput". Jawabannya: laut.

5. "Dahulu parang, sekarang besi". Artinya: dahulu sayang, sekarang benci.

6. "Gendang gendut, tali kecapi", Artinya: kenyang perut, senanglah hati.

7. "Pinggan tak retak, nasi tak dingin", Artinya: Engkau tak hendak, kami tak ingin.

Contoh teka-teki nomor 5-7 itulah yang dimaksud sebagai pantun yang bernilai sastra. Tampak ketiga contoh teka-teki di atas susunannya berbentuk karmina (pantun kilat). Baris ke satu merupakan sampiran, dan baris keduanya adalah artinya.

Setelah masyarakat Melayu mengenal syair, sebagai bentuk puisi hasil pengaruh Islam, maka susunan teka-tekinya pun berkembang ada yang berupa syair.

Contoh Syair (Teka-teki):
1. "Satu kejadian harinalah kita
Tiada berlidah, pandai berkata
Mulut setempat bersama mata
Perkataannya jauh didengari nyata"

Jawabannya: pena, alat untuk menulis

2. "Bukannya buntal, ataupun pari
Tetapi kesat, penuh berduri
Duduk tetap sehari-hari
Jarang berjalan ke sana ke mari"

"Pandai memanjat, bukannya tupai
Kerap di atas, duduk terhampai
Diganyah disental hingga kepai
Hajat yang dimaksud barulah sampai"

"Jenis hewan ia nan bukan
Tetapi halnya seakan-akan
Sifatnya menghampiri seperti ikan
Disuapi orang apabila makan".

Jawabannya: parut

Di samping berbentuk puisi, teka-teki itu ada pula di antaranya yang disusun berupa prosa.

Contoh Prosa (Teka-teki):
"Ada satu macam daripada tongkat hikmat. Ia mempunyai empat tiang, lengkap genap dengan haluan kemudi, serta teguh kuatnya. Dapat pula ia melalui laut dan darat tiada memakai layar. Maka, tatkala terdirinya tiangnya itu tiada semena-mena. Sauhnya pun terlabuhlah tiada bertali. Maka, pada ketika itu tetaplah ia berhenti perjalanannya. Tiada bergerak ke mana-mana, melainkan apabila tongkang itu hendak membongkar, sauhnya sekonyong-konyong terbeloklah ia dan tiangnya itu pun terhujamlah ke bawah, menjadi seolah-olah dayang pula. Barulah dapat ia berlayar dengan lajunya".

Jawabannya: kura-kura

6) Pengertian Fabel (Cerita Binatang)

Fabel atau sering pula disebut cerita binatang, yaitu kisah yang tokohnya binatang. Namun, perannya layak manusia. Ia dapat bicara, makan, minum, berkeluarnya sebagaimana manusia. Dalam keberadaannya seperti itu, dapatlah dipahami bahwa fabel tidak semata-mata sebagai cerita binatang, melainkan sebagai metamorfosis dari kehidupan manusia. Adapun maksud dari penggambaran melalui binatang adalah supaya kisah itu tidak sampai menyinggung orang yang mendengarnya. Sebabnya, memang bahwa kisah-kisah fabel penuh dengan sindiran, nasihat, ataupun pesan-pesan moral. Fabel merupakan cara halus dalam menasihati manusia.

Fabel adalah jenis klasik yang sifatnya universal. Ia tidak hanya dikenal di masyarakat Melayu, melainkan hampir dikenal di seluruh dunia. Bila pelaku populer fabel pada masyarakat Melayu itu kancil, maka di Jawa Barat adalah kera, di Eropa adalah srigala, dan di Kamboja, kelinci.

Kancil sebagai tokoh utama fabel Melayu, antara lain dapat berperan sebagai berikut.
1. Berperan sebagai hakim yang mengadili perkara, persengketaan di antara binatang lain.
2. Berperan sebagai penipu yang licik dan jahat.
3. Berperan sebagai binatang yang sombong.
4. Berperan sebagai penguasa seluruh binatang dan menyebut dirinya sebagai Syah Alam di Rimba Raya.

7. Legenda (Cerita Asal-usul)

Secara garis besar legenda/ cerita asal-usul, terbagi ke dalam tiga jenis, yakni sebagai berikut.
a. Cerita asal-usul dunia tumbuhan-tumbuhan
Contoh :
1. Padi bermula dari kuburan Dewi Sri.
2. Gedung itu beracun karena dipanah oleh pohon jagung, dengan menggunakan anak panah yang beracun.
3. Tandan jagung itu berlobang karena ditombak oleh pohon gadung.
4. Pohon mata lembu seperti rusak kulitnya konon karena melihat pertarungan antara pohon jagung dan gadung terlalu dekat.

b. Cerita asal-usul dunia binatang
Contoh :
1. Sapi itu bergelambir karena sewaktu mandi baju tertukar dengan baju kerbau yang lebih besar.
2. Kuda itu mulanya bertanduk, tapi kemudian dipinjamkan kepada rusa. Karena itu, sampai sekarang kuda tidak lagi bertanduk.
3. Darah ikan mas itu memiliki warna darah yang seperti darah manusia karena asal mula ikan mas adalah manusia.
4. Kucing dan anjing mulanya akur. Sebab pada suatu ketika anjing merasa dikhianati kucing, akhirnya kedua binatang itu selalu bertengkar.

c. Cerita asal-usul terjadinya suatu tempat.
Contoh:
1. Nama Gunung Tengger konon diambil dari sepasang suami istri, yang bernama Rara Anteng dan Joko Seger.
2. Nama Sungai Perak di Malaysia, karena suatu ketika di sungai itu mengalir susu seekor ikan maruan yang tengah menyusui anaknya. Rupa susu ikan tersebut berwarna putih seperti perak.
3. Gunung Tangkubanperahu di Bandung Utara itu mirip perahu tertelungkup, sebab gunung itu mulanya adalah sebuah perahu milik Sangkuriang. Karena marah-marah, perahunya itu ditendang hingga tertelungkup. Lama-kelamaan jadilah gunung, yakni Gunung Tangkuban Perahu sebagaimana yang dikenal sekarang.

8. Cerita Pelipur Lara

Cerita jenis ini disebut pelipur lara sebab memang fungsinya untuk menghibur hati seseorang. Dalam cerita ini dikisahkan tentang hal-hal yang indah-indah, yang penuh fantasi, dan daya impian yang menawan. Misalnya, tentang kehidupan istana, keajaiban, senjata yang penuh kramat, putri yang cantik, atau pun hal-hal lainnya yang menggambarkan keindahan dan keceriaan.

Contoh cerita peripur lara yang fenomenal ketika itu adalah Hikayat Malim Deman, yakni cerita yang mengisahkan perkawinan tokoh yang bernama Malin Deman dengan seorang putri cantik dari Kayangan. Cerita-cerita klasik lainnya yang dapat digolongkan ke dalam cerita pelipur lara adalah Hikayat Malin Dewa, Si Lumbut Muda, Hikayat Raja Muda, Hikayat Anggun Ci Tunggal, Hikayat Raja Budiman, Hikayat Terpong Pipit, dan Hikayat Raja Donan.

9. Cerita Jenaka

Jenis folklor Melayu yang cukup terkenal, antara lain cerita jenaka seperti Pak Belalang, Lebai Malang, dan Pak Kadok. Pak Belalang mengisahkan orang yang selalu mujur, tetapi tidak disengaja. Lebai Malang menggambarkan orang yang karena keserakahannya justru selalu tidak memperoleh apa-apa. Pak Kadok sebaliknya, mengisahkan orang yang mendapat kesempatan tetapi tidak dapat mempergunakannya sehingga ia selalu ketiban celaka. Di samping itu, ada pula kisah tentang Pak Pandir dan Mat Janin, yang masing-masing menampilkan tokoh bodoh dengan aneka nasib yang dialaminya.

10. Cerita Sejarah (Hikayat)

Folklor lain yang lebih serius adalah sejenis sastra sejarah klasik, yakni Sejarah Melayu, Hikayat Banjar, dan Hikayat Raja-raja Pasai. Tidak seperti bentuk-bentuk folklor lainnya, sastra atau cerita sejarah umumnya sudah banyak mengalami pengaruh asing, terutama dari Islam. Jadi, sastra sejarah klasik tidak lagi murni sebagai kreasi masyarakat Melayu.

Di bawah ini penulis mendeskripsikan secara singkat mengenai isi sejarah Melayu. Inti dari cerita ini adalah rentetan silsilah raja-raja Melayu. yang konon merupakan keturunan Raja Iskandar Zulkarnain, sampai Sultan Aliudin Riayat Syah, yakni nama seorang raja Melayu yang meminta si pembuat cerita (Tun Sri Lanang) menyusun silsilah itu.

Cerita selanjutnya, adalah kisah mengenai keturunan Raja Iskandar yang turun dari keindraan ke atas Bukit Seguntang. Di kawasan itu ia memperistri putri Demang Lebar Daun. Pada saat itulah diikrarkan persekutuan antara raja dengan rakyat Melayu, yang bila perjanjian itu dilanggar akan mengakibatkan malapetaka. Berikut adalah petikan dari perjanjiannya itu. "Barang siapa hamba Melayu durhaka dan mengubahkan janji, yaitu (durhaka) dengan rajanya, (maka) dibalikan Allah hubungkan rumahnya ke bawah kakinya ke atas." (SM, h./20). Kemudian, adalah menggambarkan bagian bangsa Melayu dengan dipelopori oleh anak cucu rajanya yang menyebar ke Tanjungpura, Bintan, Minangkabau, dan Singapura.

Setelah suatu legenda tentang orang kuat yang menjadi hamba dan jagoan di Singapura, cerita dilanjutkan dengan kisah asal-usul Kerajaan Pasai dalam versi yang agak berbeda dari yang terdapat dalam Hikayat Raja-raja Pasai. Dalam kisah ini digambarkan mengenai riwayat pengislaman daerah itu. Kisah tersebut diikuti oleh jatuhnya Singapura oleh Majapahit dan sebab-musababnya, yaitu karena raja telah melanggar ikrar terhadap rakyatnya.

Sepanjang cerita diberikan penjelasan-penjelasan tentang nama-nama tempat, di antaranya adalah nama Malaka dan legenda pendiriannya. Semua ini dituturkan dengan mengemukakan segi keajaiban dan sisi supranaturalistik. Setelah itu, hampir satu bab penuh membahas adat kebesaran raja dan asal mulanya larangan tentang rumah, warna, pakaian, dan sebagainya. Malaka juga punya legenda pengislaman tersendiri. Peristiwa-peristiwa di seputar Kerajaan Malaka diceritakan tanpa urutan kronologis. Kisah-kisah di atas memang sebagian di antaranya ada yang benar-benar terjadi. Namun demikian, si pencerita tampaknya tidak begitu mementingkan kebenaran sejarahnya. Ia lebih tertuju kepada penonjolan garis keturunan, pribadi-pribadi legendaris, dan sifat-sifat herois dari tokoh-tokoh yang diagungkannya itu.

Hal panting lain yang menarik dari kisah di atas, adalah pengakuan akan keberadaan sistem nilai-nilai Islam, baik lewat penuturan langsung para tokohnya atau pun melalui penangkapan si penceritanya itu sendiri, yang mengutip langsung dalil-dalil Quraniyah. Dalam hal ini, jelas sekali adanya kepentingan si pencerita untuk menjustifikasi atas perilaku para tokoh.

Pada bagian awal, misalnya, si pencerita mengemukakan, "kedudukan raja yang diagungkannya itu sesungguhnya merupakan kemuliaan di segala tempat dan zaman. Ia adalah perhiasan orang-orang beriman melalui al taat wa ala hasan, yang diberi-Nya pangkat dan kebijaksanaan, kemurahan dan kelebihan. Ia dikekalkan Allah ta’ala dengan keadilannya bagi segala negeri" (SM, h. 7).

Dalam Hikayat Banjar, diceritakan tentang asal-usul dan adat istiadat kerajaan dan ketatanegaraan Banjar. Demikian pula, diceritakan tentang keharusan dan larangan dalam kehidupan sehari-hari. Satu cerita yang penting ialah bagaimana Perdana Menteri Negeri Banjar mencari seorang raja untuk negerinya yang tidak punya raja. Berturut-turut ia menemukan seorang putri dan seorang pemuda, setelah diberi petunjuk lewat mimpi.

Demikian ulasan tentang "Pengertian Folklor, Ciri-Ciri, Bentuk, dan Contohnya" yang dapat kami sampaikan. Baca juga artikel seni sastra menarik lainnya hanya di situs SeniBudayaku.com.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengertian Folklor, Ciri-Ciri, Bentuk, dan Contohnya"

Post a Comment

Silahkan berkomentar yang baik dan sopan, komentar dengan link aktif akan kami hapus.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel