Pakaian Adat Betawi (DKI Jakarta) Lengkap, Gambar dan Penjelasanya

Pakaian Adat Betawi (DKI Jakarta) Lengkap, Gambar dan Penjelasanya - Setiap provinsi pasti mempunyai pakaian adat khas daerahnya masing-masing. Pakaian adat biasanya dikenakan pada saat adanya penyelenggaraan upacara tertentu. Disebut pakaian adat sebab ciri-ciri yang ada maupun tatacara dalam mengenakan sangat khas. Upacara adat pengantin, adat keagamaan, dan lain-lainnya biasanya dilengkapi dengan pakaian adat. Ada pakaian adat untuk kaum laki-laki dan ada juga pakaian adat untuk kaum perempuan. Pakaian adat daerah Provinsi DKI Jakarta adalah Betawi. Ini sesuai dengan nama penduduk asli yang mendiami wilayahnya.

Apa saja nama perlengkapan-perlengkapan pakaian adat Betawi? Karena Islam berpengaruh kuat dalam budaya Betawi, ciri-ciri khas keislamannya tampak jelas. Perhatikan penjelasan berikut ini.
Perlengkapan pakaian adat pria Betawi;
  1. Liskol atau penutup kepala.
  2. Jas tutup atau baju jas yang menutup leher.
  3. Celana panjang.
  4. Selendang lockan, selembar kain batik yang dilingkarkan pada bagian pinggang.
  5. Keris yang diselipkan pada bagian perut.
  6. Sepatu pantopel sebagai alas kaki.
Perlengkapan pakaian adat wanita Betawi;
  1. Baju kabaya.
  2. Sanggul cepol, dengan hiasan ronce melati.
  3. Kerudung atau selendang panjang yang menutup kepala. 
  4. Kain batik. 
  5. Selop sebagai alas kaki.
Hiasan tambangan berupa anting-anting air seketel, gelang listring, dan gelang selendang mayang.

gambar pakaian adat betawi
Sumber : Selayang Pandang DKI Jakarta : Moh. Rofii Adji Sayekti
Disisi lain, pakaian dan tata rias pengantin Betawi sangat kaya akan pengaruh budaya lain, baik budaya asing maupun beberapa budaya suku bangsa yang ada di Indonesia. Budaya asing yang cukup kental terlihat mempengaruhi budaya Betawi adalah Arab (Islam), Cina, India, dan Belanda. Adapun kebudayaan suku bangsa lain yang tampak menonjol mempengaruhi adalah Sumatera atau Melayu, Jawa, Sunda, dan Bali.

Berbagai pengaruh dari kebudayaan luar/ asing tampak sebagai berikut.

  1. Sorban, jubah panjang, dan celana panjang pada pengantin pria merupakan pengaruh dari kebudayaan Arab.
  2. Siangko (penutup muka), tuaki (baju model bagian atas), dan rok panjang pada pengantin wanita merupakan pengaruh dari kebudayaan Cina.
  3. Terompah (alas kaki) yang dikenakan pengantin pria dan wanita merupakan pengaruh dari kebudayaan Arab.
Masyarakat Betawi mengenal enam macam pakaian adat pengantin Betawi, yaitu;

  • Cara dandan Haji,
  • Cara model India,
  • Cara model Barat,
  • Cara model Jawa,
  • Cara model Sunda, dan 
  • Cara model Melayu.
Pengantin pria dengan model pakaian dandanan Haji biasanya memakai tutup kepala yang disebut alpia atau alpie. Penutup kepala ini mempunyai tinggi 15-20 cm dan dililitkan dengan sorban kain, warna putih gading atau kadang-kadang kuning. Di pinggir kiri alpia diberi untuaian bunga melati yang pada ujung bawahnya ditutup bunga cempaka dan ujung atasnya diberi sekuntum bunga mawar merah. 

Pengantin laki-laki dengan dandanan haji biasanya mengenakan jubah terbuka yang dihiasi dengan emas, dan manik-manik bermotif burung hong, bunga-bungaan, kubah masjid dan sebagainya. Sebelum memakai jubah, biasanya seorang pengantin laki-laki memakai gamis (baju dalam) yang panjangnya kira-kira sampai mata kaki. Selain itu pengantin laki-laki memakai selempang berhiaskan mute sebagai tanda kebesaran.

Untuk pengantin wanita, pakaiannya terkesan meriah. Tuaki adalah baju bagian atas yang dikenal memiliki dua model, yaitu model shanghai (Cina) dan model baju kurung (Melayu). Syarat utama tuaki berbahan polos dan memiliki hiasan yang bervariasi. Ciri khas model shanghai adalah berkrah tertutup, panjang sebatas pinggul. Tuaki berbentuk baju kurung, model seperti baju kurung Melayu pada umumnya.

Padanan tuaki adalah kun, yaitu rok melebar kebawah dengan panjang sampai ke mata kaki. Kun juga dihiasi benang tebar dengan kombinasi sesuai tatahan motif pada tuaki. Untuk tuaki biasanya dipilih warna-warna cerah dari bahan satin atau beludru. Hal tersebut melambangkan sukacita dan keceriaan  kedua pengantin dan seluruh keluarganya. Untuk hiasan penutup daada dan bahu, yaitu teratai. Hiasan ini terbuat dari beludru bertahtakan hiasan logam pada permukaannya dengan motif bunga tanjung. Teratai ini berjumlah delapan lembar kecil yang dirangkai menjadi susunan delapan daun teratai yang simetris.

gambar pakaian adat pengantin betawi
Sumber : Selayang Pandang DKI Jakarta : Moh. Rofii Adji Sayekti
Untuk tata rias kepala, rambut disanggul dengan model buatan atau konde cepol tanpa sasakan.  Caranya dengan melilitkan secara berputar sehingga membentuk tiga tingkat lingkaran, yang kemudian dipadatkan dengan tusuk konde. Hiasan yang dipakai di kepala adalah siangko bercadar yang melambangkan kesucian seorang gadis. Siangko bercadar selalu berwarna emas dan dihiasi batu-batu permata. Panjang cadarnya 30 cm terbuat dari manik-manik. Saat ini banyak digunakan mote pasir dengan gumpalan benang wol merah di ujungnya. Selain itu ada tiga siangko lainnya yang dipakai di belakang sanggul sebagai penutup ikatan siangko bercadar. Di atas siangko bercadar diletakkan sigar atau mahkota dengan motif bunga-bungaan yang dipenuhi permata.

Hiasan rambut lainnya adalah tusuk paku atau kembang paku berjumlah 10 buah atau lebih yang dimaksudkan sebagai penolak bala. Kembang goyang yang berjumlah 20 buah, juga dikenakan sebagai hiasan rambut bersama dengan 2-4 buah kembang kelapa yang dipasang di kiri dan kanan sanggul. Kembang goyang melambangkan pengakuan terhadap 20 sifat kebesaran Allah, yang wajib diturunkan dan diajarkan kepada anak keturunannya kelak. Kembang kelapa merupakan simbol pengharapan agar perkawinan yang dilakukan tetap kukuh, kuat seperti pohon kelapa, sehingga akan menjadi perkawinan yang langgeng, sejahtera, dan bahagia.

Hiasan burung hong lebih dikenal dengan sebutan kembang besar berjumlah empat yang melambangkan empat sahabat Rasullullah, Nabi Besar Muhammad, Saw. Satu lagi perhiasan kepala yang dipercaya memiliki kekuatan magis adalah sunting atau sumpit telinga. Sebagai pelengkap, biasanya telinga pengantin dihiasi dengan sepasang kerabu. Kerabu merupakan perpaduan anting dan giwang. Di atas dahi pengantin diberi tanda berbentuk bulan sabit. Tanda bulan sabit berwarna merah ini merupakan perlambang bahwa si gadis telah menjadi pengantin.

Pengantin wanita juga mengenakan perhiasan berupa kalung tebar yang dipakai melingkar leher di atas teratai Betawi. Gelang listring dan gelang selendang mayang serta cincin emas yang berhiaskan permata menjadi hiasan lengan, pergelangan tangan, dan jari pengantin wanita. Mempelai wanita mengenakan selop berbentuk perahu kolek sebagai alas kaki dengan ujung melengkung ke atas dan dihias dengan tatahan emas dan manik-mamik atau mote.

Demikian pembahasan tentang "Pakaian Adat Betawi (DKI Jakarta) Lengkap, Gambar dan Penjelasanya" yang dapat kami sampaikan. Artikel ini dikutip dari buku "Selayang Pandang DKI Jakarta : Moh. Rofii Adji Sayekti". Baca juga artikel kebudayaan Indonesia menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pakaian Adat Betawi (DKI Jakarta) Lengkap, Gambar dan Penjelasanya"

Post a Comment

Silahkan berkomentar yang baik dan sopan, komentar dengan link aktif akan kami hapus.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel