Skip to main content

Upacara Adat Daerah Papua Lengkap Penjelasannya

Seperti halnya di provinsi daerah lain, dalam tradisi masyarakat Papua juga berkembang berbagai upacara tradisional (adat). Setiap suku bangsa memiliki jenis upacara yang berbeda sesuai dengan keyakinan suku bangsa tersebut. Upacara-upacara adat Provinsi Papua dikategorikan menjadi dua, yakni upacara adat yang berhubungan dengan daur hidup dan upacara adat lainnya. 

Upacara adat daur hidup meliputi masa kehamilan, kelahiran, perkawinan, dan kematian. Berikut ini contoh upacara daur hidup yang terdapat dalam budaya masyarakat suku bangsa Asmat. 

UPACARA KEHAMILAN DAN KELAHIRAN 
Selama proses ini berlangsung, bakal generasi penerus dijaga dengan baik agar dapat lahir dengan selamat dengan bantuan ibu kandung atau ibu. Ketika bayi lahir disambut dengan upacara selamatan secara sederhana. Pada prosesi itu dilaksanakan upacara pemotongan tali pusar menggunakan sembilu. Bayi disusui oleh ibu selama 2-3 tahun. 

UPACARA PERNIKAHAN
Proses ini berlaku bagi seorang anak laki-laki dan perempuan yang berumur 17 tahun. Pernikahan dilakukan oleh pihak laki-laki setelah terjadi kesepakatan dengan pihak perempuan. Biasanya didahului dengan upacara uji keberanian yaitu membeli mempelai perempuan dengan mas kawin piring antik. Nilai mas kawinnya ini berdasarkan nilai uang kesepakatan perahu Johnson (merek motor penggerak perahu suku bangsa Asmat).

gambar upacara adat papua

UPACARA KEMATIAN
Apabila kepala suku atau kepala adat yang meninggal, maka jasadnya disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku ini. Sebaliknya, apabila yang meninggal warga biasa jasadnya dikuburkan. Proses ini dijalankan dengan iringan nyanyian berbahasa Asmat dan pemotongan ruas jari tangan dari anggota keluarga yang ditinggalkan. Orang Asmat juga melakukan upacara selamatan yang disebut emaketsjem. Tradisi potong jari juga dikenal dalam tradisi suku-suku bangsa yang menghuni Lembah Baliem. 

Sedikit berbeda dengan tradisi suku bangsa Marind di Kabupaten Merauke, dalam rangkaian upacara kematiannya ada upacara tanam sasi (sejenis kayu). Sasi ditanam 40 hari setelah hari kematian dan dicabut kembali setelah 1.000 hari. Sementara itu, pada tradisi suku-suku bangsa di Lembah Baliem diikuti dengan upacara bakar batu. Namun begitu, upacara bakar batu tidak hanya dilakukan ketika ada kematian. 

Upacara bakar batu bagi suku bangsa penghuni Lembah Baliem bermakna luas dan sangat mendalam. Hampir semua upacara adat di Lembah Baliem melaksanakan tradisi bakar batu. Mulai dari upacara kelahiran, pernikahan, kematian, menyambut prajurit pulang dari perang, upacara perdamaian antar suku, sampai dengan menyambut tamu. Bahkan, pada masa sekarang, upacara peresmian pun diikuti dengan tradisi bakar batu. Upacara bakar batu menjadi tradisi semua suku bangsa di Provinsi Papua. 

Sasuai namanya, upacara bakar batu menggunakan batu panas membara sebagai unsur utamanya. Batu panas dipersiapkan dengan membakar batu-batuan menggunakan kayu kering. Perlengkapan lainnya berupa daging babi, ubi, talas, buah merah, dan berbagai macam sayuran. Setelah batu panas membara, diambil dan dikumpulkan pada tanah yang sudah dilubangi. Di atasnya disusun berbagai perlengkapan itu secara berlapis, mulai dari daging babi, ubi, talas, dan buah merah. Sebagai pelapisnya digunakan berbagai macam sayuran. Terakhir pada bagian atas dilapisi sayuran dan dedaunan sebagai penutup. Sekitar dua jam kemudian masakan telah matang dan dibongkar. Daging babi, ubi, talas, buah merah, dan sayuran dibagikan kepada seluruh warga masyarakat yang hadir di lokasi upacara. 

Upacara adat lainnya biasanya berhubungan dengan kegiatan sehari-hari dan berhubungan dengan lingkungan alam. Sebagai gambaran, orang Asmat akan membuat patung setiap kali ada keluarganya yang meninggal. Upacara ini disebut bis dan dipimpin oleh seorang dewen (dukun). Begitu pula ketika akan mendirikan bangunan, orang Asmat menyelenggarakan upacara joai. Upacara yang lebih meriah dan sakral adalah saat upacara penobatan kepala perang yang dinamakan mambri babo. Upacara ini didahului dengan berbagai pertandingan keterampilan berperang seperti memanah dan menombak. Dari sinilah dipilih seorang yang mahir berperang.

Baca juga:
Tarian Tradisional Papua Lengkap Penjelasannya
Bahasa Daerah Papua Lengkap Penjelasannya
Rumah Adat Papua Lengkap Penjelasannya
Makanan Tradisional Papua Lengkap Penjelasannya
Pakaian Adat Papua Lengkap, Gambar dan Penjelasanya

Comments